FaktaHari – 11 Oktober 2026 | Jakarta – Tren akumulasi cadangan emas oleh bank sentral global terus berlanjut. Sepanjang tahun 2026, total pembelian bersih cadangan emas oleh bank sentral dunia telah mencapai 170 ton, dengan China menjadi pembeli terbesar. Pada Agustus 2026 saja, bank sentral global mencatat penambahan cadangan emas sebesar 39 ton, didorong oleh pembelian agresif dari China, Uzbekistan, dan Polandia.
Data terbaru dari World Gold Council (WGC) menunjukkan bahwa aktivitas pembelian emas masih didominasi oleh bank sentral yang secara konsisten menambah kepemilikan logam mulia ini. Senior Research Lead WGC untuk kawasan Asia Pasifik, Marissa Salim, menjelaskan bahwa pola pembelian tersebut mencerminkan strategi jangka panjang dalam diversifikasi cadangan devisa, bukan sekadar keputusan investasi jangka pendek.
“Bank sentral global masih berada di jalur akumulasi emas pada Agustus, dengan pembelian bersih yang dilaporkan mencapai 39 ton,” ujar Salim dalam laporan yang dirilis awal Oktober 2026.
China Perpanjang Rekor Pembelian Emas
People’s Bank of China (PBOC) kembali menjadi motor utama penambahan cadangan emas global. Pada Agustus 2026, bank sentral China menambah 20 ton emas, memperpanjang rentetan pembelian menjadi 22 bulan berturut-turut. Tren ini berlanjut pada September 2026, di mana PBOC kembali menambah kepemilikan emasnya menjadi 77,47 juta troy ounce, dari sebelumnya 76,73 juta troy ounce pada Agustus. Dengan demikian, China telah membeli emas selama 23 bulan beruntun.
Langkah agresif China ini terjadi di tengah pelemahan cadangan devisa negara tersebut. Data PBOC menunjukkan cadangan devisa China turun menjadi US$ 3,400 triliun pada akhir September 2026, dari US$ 3,438 triliun pada bulan sebelumnya. Penurunan ini lebih besar dari perkiraan ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan cadangan berada di level US$ 3,420 triliun. Penguatan dolar AS sepanjang September menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai cadangan devisa China.
Di sisi lain, harga emas dunia masih bergerak fluktuatif. Pada awal Oktober 2026, harga emas berada di kisaran US$ 4.144 per troy ons, setelah mengalami tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar. Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan permintaan bank sentral akan menjadi penopang jika harga emas turun mendekati atau di bawah US$ 4.000 per troy ons.
Proyeksi Harga Emas dan Dampak Geopolitik
HSBC menjadi bank terbaru yang merevisi proyeksi harga emas ke bawah. Bank tersebut menurunkan rata-rata harga emas 2026 menjadi US$ 4.490 per troy ounce, dari sebelumnya US$ 4.560. Proyeksi 2027 juga dipangkas menjadi US$ 4.825 dari US$ 4.925. Meski demikian, HSBC tetap optimistis bahwa permintaan bank sentral akan terus mendukung harga emas dalam jangka panjang.
Sementara itu, harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda setelah negara-negara G7 melepas 100 juta barel stok cadangan darurat. Kebijakan ini berhasil menekan harga minyak mentah Brent ke level US$ 101,90 per barel pada awal Oktober. Penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi, yang sebelumnya mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas.
Di kawasan Asia Tenggara, isu pengelolaan cadangan juga menjadi perhatian. Di Malaysia, Kementerian Kewangan tengah mengkaji usulan pengecualian Cukai Jualan dan Perkhidmatan (SST) bagi pusat jagaan warga emas, sebagai bentuk perlindungan terhadap kelompok rentan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada cadangan emas nasional, tetapi juga pada kesejahteraan sosial.
Secara keseluruhan, tren penambahan cadangan emas oleh bank sentral diperkirakan akan berlanjut, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi mata uang. China, Uzbekistan, dan Polandia diprediksi akan tetap menjadi pembeli utama, sementara negara-negara lain mungkin akan mengikuti jejak mereka untuk memperkuat ketahanan cadangan devisa.
