FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Film adaptasi game legendaris, Street Fighter, akhirnya menghantam layar lebar pada 16 Oktober 2026. Dalam street fighter 2026 review ini, kita akan membedah berbagai aspek, mulai dari performa box office yang mengecewakan hingga respons kritikus dan penggemar yang terbelah. Meski berhasil menduduki puncak box office domestik Amerika Serikat, pendapatan globalnya masih di bawah ekspektasi.
Disutradarai oleh Kitao Sakurai, film ini dibintangi Andrew Koji sebagai Ryu dan Noah Centineo sebagai Ken Masters. Kisahnya berpusat pada dua petarung jalanan yang dipersatukan kembali oleh Chun-Li (Callina Liang) untuk mengikuti World Warrior Tournament. Di balik turnamen maut tersebut, tersembunyi konspirasi berbahaya yang mengancam para peserta.
Performa Box Office: Rekor Domestik, Tapi Global Meleset
Pada akhir pekan pembukaan, Street Fighter meraup US$31 juta di pasar domestik, menjadikannya opening tertinggi dalam sejarah franchise live-action Street Fighter. Namun, pendapatan globalnya hanya mencapai US$51,1 juta, jauh di bawah proyeksi awal US$70 juta. Dengan budget produksi US$82 juta, film ini membutuhkan pendapatan setidaknya US$205 juta untuk dianggap sukses secara teatrikal. Angka ini menjadi sorotan dalam street fighter 2026 review karena menunjukkan tantangan berat bagi franchise ke depannya.
Meski demikian, sebagian penggemar tetap optimis. Seorang pengguna X, @Tekkaman_Raiden, menulis, “51 juta dalam 3 hari cukup lumayan.” Penggemar lain, @MascotRay, berkomentar, “Film ini jauh lebih baik dari yang dituduhkan kritikus. Pokoknya bersenang-senang saja.”
Respons Kritikus dan Penonton: Terbelah
Street Fighter menerima ulasan campuran. Di Rotten Tomatoes, skor kritikus hanya 41-42%, sementara skor audiens mencapai 79%. CinemaScore memberi nilai B-, menandakan word of mouth yang kurang kuat. Kritikus /Film, Bill Bria, menyebutnya sebagai “petualangan seni bela diri yang penuh warna dengan aftertaste buruk.”
Dalam street fighter 2026 review dari penggemar berat game, Masamune Sakaki, ia mengaku tidak bosan menontonnya. “Saya tidak bosan. Itu faktanya. Pertarungannya berdampak, dan karakter-karakter yang familiar muncul. Tapi jika ditanya apakah filmnya bagus, itu lain cerita. Ceritanya terasa kekanak-kanakan di beberapa bagian,” tulisnya. Ia juga menyoroti bahwa meski film ini tampak seperti kisah Ryu, sebenarnya ini adalah cerita Ken.
Kekuatan dan Kelemahan
Street Fighter unggul dalam hal aksi. Pertarungan yang intens dan kostum ikonik para karakter menjadi daya tarik tersendiri. Namun, narasi yang lemah dan pengembangan karakter yang minim membuat film ini terasa kehilangan arah. Banyak adegan pertarungan yang dipaksakan, membuat alur cerita terasa terputus-putus.
Selain itu, film ini menggabungkan elemen dari berbagai seri game, tidak hanya Street Fighter II. Meski demikian, transisi antara aksi dan cerita kurang mulus. Penggemar mungkin menikmati nostalgia, tetapi penonton umum bisa merasa bingung dengan plot yang berantakan.
Masa Depan Franchise
Meski performa box office tidak memuaskan, harapan akan sekuel masih terbuka. Fans percaya bahwa Street Fighter 2 bisa saja terjadi, mengingat studio pernah memberikan lampu hijau untuk sekuel film yang lebih gagal. Akhir cerita Street Fighter sendiri telah menyiapkan benih untuk sekuel, dengan Bison dan Sagat sebagai antagonis berikutnya.
Dalam street fighter 2026 review ini, dapat disimpulkan bahwa Street Fighter 2026 adalah film yang menghibur bagi penggemar berat game, tetapi gagal memenuhi standar sebagai film yang utuh. Kekuatan aksi dan nostalgia tidak cukup menutupi kelemahan cerita. Apakah franchise ini akan berlanjut? Waktu yang akan menjawab.
