Rupiah Menguat di Tengah Sentimen Global, Ini Pemicu Utamanya: Fundamental Ekonomi dan Harapan Damai Timur Tengah

Rupiah Menguat di Tengah Sentimen Global, Ini Pemicu Utamanya: Fundamental Ekonomi dan Harapan Damai Timur Tengah
Rupiah Menguat di Tengah Sentimen Global, Ini Pemicu Utamanya: Fundamental Ekonomi dan Harapan Damai Timur Tengah

FaktaHari – 08 Agustus 2026 | Rupiah menguat di tengah sentimen global, ini pemicu utamanya: kombinasi fundamental ekonomi domestik yang solid, pelemahan dolar AS, serta meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026), nilai tukar rupiah ditutup menguat 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.027. Penguatan ini tidak lepas dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen secara year-on-year (yoy) pada triwulan II 2026, lebih tinggi dari perkiraan analis yang hanya sebesar 5,10 persen. Meskipun sedikit melambat dibandingkan kuartal pertama yang tumbuh 5,61 persen, capaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi domestik di tengah tekanan global. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai data tersebut menjadi penopang utama penguatan rupiah.

Rupiah menguat di tengah sentimen global, ini pemicu utamanya juga datang dari sisi eksternal. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat, seperti ADP Employment dan ISM Services PMI, dirilis lebih lemah dari ekspektasi. Hal ini meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru memperketat kebijakan moneternya. Akibatnya, dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk rupiah.

Selain itu, optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi katalis positif. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan ada peluang kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka jalur pelayaran strategis tersebut. Iran dan Oman juga disebut telah mencapai kemajuan diplomatik terkait kebebasan navigasi. Harapan ini mendorong harga minyak mentah dunia turun signifikan, dari sekitar 86 dolar AS per barel pekan lalu menjadi 74,60 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak mengurangi tekanan pada negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penurunan harga minyak mentah menjadi sentimen positif bagi rupiah. “Sejak Senin harga minyak WTI yang minggu lalu ditutup di level 86 dolar AS per barel, sekarang sudah berada di 74,60 dolar AS per barel,” ujarnya. Menurutnya, penurunan ini dapat menekan inflasi jangka pendek sehingga mempengaruhi ekspektasi suku bunga global.

Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati rilis cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan keluar pada hari ini. Cadangan devisa menjadi indikator kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menegaskan bahwa penguatan rupiah pada perdagangan Rabu lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, terutama data pertumbuhan ekonomi yang solid. “Rupiah pada perdagangan hari ini menguat lebih dipengaruhi oleh faktor domestik terkait data pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar,” jelasnya.

Penguatan rupiah tidak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS, dengan peso Filipina mencatat apresiasi terbesar (0,69 persen), diikuti dolar Taiwan (0,50 persen), won Korea Selatan (0,27 persen), rupee India (0,18 persen), baht Thailand (0,17 persen), ringgit Malaysia (0,05 persen), serta yen Jepang (0,02 persen). Hal ini menunjukkan membaiknya sentimen pasar terhadap aset kawasan.

Kendati demikian, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas. Pelaku pasar akan menanti data Nonfarm Payrolls (NFP) AS dan klaim tunjangan pengangguran yang dapat meningkatkan volatilitas. ICDX memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS dalam jangka pendek. Lukman Leong menambahkan, jika tidak ada perkembangan negatif, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan di kisaran Rp17.850-Rp18.000.

Dengan fundamental ekonomi yang tetap terjaga dan sentimen geopolitik yang mereda, Rupiah menguat di tengah sentimen global, ini pemicu utamanya bukan sekadar fenomena sesaat. Kombinasi antara pertumbuhan PDB yang kuat, pelemahan dolar AS, serta penurunan harga minyak akibat harapan damai Timur Tengah menjadi tiga pilar utama yang menjaga apresiasi mata uang Garuda. Meski tantangan global masih ada, peluang rupiah untuk terus menguat tetap terbuka selama data domestik dan perkembangan internasional mendukung.

Exit mobile version