FaktaHari – 27 Oktober 2026 | Dunia kuliah di Indonesia kembali menjadi sorotan dalam sepekan terakhir. Berbagai peristiwa—dari persidangan ijazah pejabat negara, angka pengangguran lulusan universitas yang tinggi, hingga inisiatif beasiswa bagi putra asli Papua—menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar soal gelar, melainkan juga tentang bagaimana lulusan mampu bersaing dan memberi dampak nyata.
Di Jakarta, kuasa hukum Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Muhammad Rullyandi, memastikan bahwa dokumen pendidikan kliennya dari jenjang SMP, SMA, hingga S1 akan diperlihatkan di hadapan majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Dokumen tersebut akan disampaikan dalam tahapan pembuktian sesuai mekanisme hukum acara yang berlaku. Rullyandi menjelaskan bahwa pihaknya masuk ke dalam perkara melalui mekanisme intervensi berdasarkan Pasal 83 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Menurutnya, keterlibatan Gibran merupakan upaya menghormati prosedur hukum yang berlaku. “Inilah kita untuk menghormati hukum acara Pasal 83 itu kita masuk sebagai pihak intervensi,” ujarnya. Ia juga merujuk pada putusan Mahkamah Konstitusi terkait sengketa Pilpres 2024 yang dinilainya telah menguji proses verifikasi dokumen pasangan calon oleh KPU. Perkara ini sendiri berawal dari gugatan pegiat pendidikan Mercy Sihombing terhadap Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, dengan Gibran ditetapkan sebagai tergugat intervensi melalui putusan sela pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Terpisah, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka lulusan universitas (D4–S3) mencapai 6,23%, naik dari 5,25% pada tahun sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan lulusan diploma I–III (4,84%) dan SMP (4,35%), meski masih di bawah lulusan SMA (6,35%) dan SMK (8%). Fenomena ini menggambarkan bahwa gelar sarjana tak serta-merta menjamin pekerjaan. Agil Ramadhan, lulusan baru program studi Desain Komunikasi Visual, mengaku proses mencari kerja sangat menguras energi dan mental karena minimnya lowongan yang tersedia. Ia menilai keterampilan yang dikembangkan di luar kampus lebih berguna dibandingkan materi kuliah yang terlalu teoritis. Dari sisi perusahaan, Senior Talent Acquisition Lead NTT DATA, Yenny Sukowati, menyebut menemukan kandidat yang memenuhi seluruh kebutuhan industri bukan perkara mudah. Kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja masih menjadi PR besar dunia pendidikan tinggi.
Di sisi lain, harapan baru datang dari Program Beasiswa Papua yang digagas PT Agrinas Palma Nusantara. Sebanyak 25 pemuda asli Papua dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, mulai menempuh pendidikan vokasi di Politeknik LPP Yogyakarta. Mereka terdiri atas 15 perempuan dan 10 laki-laki dari 17 distrik, yang sebelumnya belum berkesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Para mahasiswa akan menempuh Program Studi D3 Budidaya Tanaman Perkebunan dengan perkuliahan dimulai 26 Oktober 2026. Program ini menggabungkan pembelajaran akademik dengan praktik kerja, sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak. Inisiatif ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi swasta di DIY berperan aktif membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda dari daerah yang membutuhkan afirmasi.
Upaya memperkuat daya saing juga dilakukan melalui kuliah umum. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Indonesia (FEB UMI) menggelar kuliah umum bertema “Membangun Daya Saing Ekonomi dari Timur: Efisiensi Investasi dan Kesiapan SDM Menuju Pasar Global” sebagai rangkaian Milad ke-64. Dekan FEB UMI, Muhammad Syafi’i A Basalamah, menegaskan bahwa kawasan Indonesia timur, khususnya Sulawesi Selatan, memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan. Ia berharap potensi tersebut dikembangkan melalui hilirisasi agar lebih bernilai ekonomi. “Kita berharap tidak berhenti saja sampai di sini tapi ada kolaborasi baik itu riset, pengabdian masyarakat sehingga kami bisa menjalankan tridharma perguruan tinggi,” katanya. Kolaborasi dengan pemerintah dan swasta dinilai kunci untuk menguatkan implementasi tridharma.
Bagi mahasiswa yang masih menempuh kuliah, membangun personal branding menjadi bekal penting sebelum lulus. Sejumlah langkah dapat dilakukan, antara lain mengenali kelebihan dan potensi diri, membangun jejak digital secara bijak, aktif mengeksplorasi pengalaman, membagikan hasil karya dan proses belajar, serta memperluas relasi dan networking. Dengan demikian, ijazah bukan satu-satunya modal, melainkan kombinasi antara kompetensi, pengalaman, dan citra profesional yang kuat.
Dari rentetan peristiwa ini, terlihat jelas bahwa dunia kuliah di Indonesia sedang diuji dari berbagai sisi. Persoalan legalitas ijazah pejabat, tingginya pengangguran sarjana, dan kesenjangan kompetensi menuntut pembenahan serius. Namun, inisiatif beasiswa afirmatif dan kolaborasi perguruan tinggi dengan industri maupun pemerintah memberi harapan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi mesin penggerak daya saing bangsa. Kuncinya ada pada sinergi antara kampus, dunia usaha, dan pemerintah untuk memastikan setiap lulusan tidak hanya bergelar, tetapi juga siap kerja dan berdampak.
