FaktaHari – 27 Oktober 2026 | Sejumlah jenderal polisi di lingkungan Polri kembali menunjukkan taringnya dalam menegakkan hukum dan melindungi masyarakat. Mulai dari peringatan tegas terhadap personel reserse hingga pengungkapan kasus narkoba berskala besar, para perwira tinggi ini menjadi sorotan publik. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Kapolda Bali Irjen Pasma Royce yang memberikan ultimatum kepada seluruh jajaran fungsi reserse di wilayah hukumnya.
Dalam arahannya kepada personel Ditreskrimum, Ditreskrimsus, Ditresnarkoba, dan Ditressiber Polda Bali, Irjen Pasma menegaskan bahwa profesionalisme dan integritas adalah harga mati. “Setiap tindakan penyidik merupakan cerminan wajah Polri di hadapan masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap Polri dibangun melalui perilaku dan hasil kerja,” ujar jenderal polisi bintang dua itu di Denpasar, Jumat (23/10). Ia didampingi Wakapolda Bali Brigjen I Made Astawa dan Irwasda Polda Bali Kombes Asep Ahdiatna.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Irjen Pasma menekankan bahwa penanganan perkara tidak boleh sekadar formalitas hukum. Hak masyarakat untuk memperoleh perlindungan, keadilan, dan kepastian hukum harus menjadi prioritas utama. “Jangan mempersulit masyarakat. Setiap laporan harus ditangani dengan cepat, transparan, dan akuntabel,” tegasnya.
Sementara itu, di tingkat nasional, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto juga menunjukkan kinerja impresif. Dalam laporan terbaru kepada Presiden Prabowo Subianto, ia mengungkap bahwa sebanyak 243 orang dan 13 korporasi telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Total ada 286 laporan yang ditangani 13 Polda untuk kasus perorangan, dengan luas lahan terbakar mencapai 5.856 hektare. Adapun untuk kasus korporasi, 100 laporan ditangani 10 Polda dan Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, dengan luas lahan terbakar sekitar 29.534,99 hektare.
Yang menarik, Kapolri mengungkapkan bahwa tiga dari 11 tersangka korporasi merupakan perusahaan penanaman modal asing (PMA). “Kami sudah tetapkan 11 tersangka korporasi. Tiga di antaranya adalah PMA sementara masih dalam proses,” kata Suyudi di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10). Namun, ia belum membeberkan identitas ketiga perusahaan asing tersebut. Langkah ini mendapat respons dari aktivis lingkungan yang mengingatkan agar isu PMA tidak dijadikan alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan. Koordinator Pengkampanye Walhi, Uli Artha Siagian, menegaskan bahwa pemerintah tetap menjadi pihak utama yang bertanggung jawab dalam mencegah dan menghukum perusahaan nakal.
Di sisi lain, jenderal polisi yang kini merangkap sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu juga membuktikan komitmennya dalam pemberantasan narkoba. Saat menghadiri pengungkapan kasus kapal MT Global 168 yang membawa satu ton narkoba jenis ketamine di Perairan Belawan, Sumatera Utara, Jumat (23/10), Suyudi mengaku bahagia masih dipercaya memimpin dua institusi sekaligus. “Saya sangat berbahagia karena saya bisa berbicara dalam kapasitas saya sebagai Kapolri sekaligus juga sebagai Kepala BNN,” ujarnya. Dalam operasi tersebut, polisi menangkap delapan tersangka, terdiri dari tujuh WNI dan satu WNA.
Meski Sumatera Utara tercatat sebagai wilayah dengan kasus narkoba tertinggi berdasarkan data BPS dan BRIN, Suyudi meminta jajarannya tidak kecil hati. “Justru pengungkapannya juga banyak. Jangan kecil hati dengan data, yang terpenting langkah kita menghadapi narkoba harus terus, dari hulunya pencegahan,” jelasnya.
Di tengah berbagai sorotan, rotasi jabatan di tubuh Polri juga terus berjalan. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memutasi Brigjen Pol I Made Agus Prasatya sebagai Direktur Registrasi dan Identifikasi (Dirregident) Korlantas Polri. Mutasi tertuang dalam surat telegram ST/2251/X/KEP/2026 tertanggal 10 Oktober 2026. “Penempatan personel dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi, kompetensi, kapabilitas, rekam jejak, dan integritas,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir. Made Agus sebelumnya menjabat sebagai Dirgakkum Korlantas Polri dan dikenal sebagai perwira yang inovatif.
Deretan langkah para jenderal polisi ini menunjukkan bahwa institusi Polri terus berupaya memperbaiki diri dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Mulai dari penegakan hukum yang humanis di daerah, penanganan karhutla yang melibatkan korporasi asing, hingga pengungkapan narkoba jaringan internasional, semuanya menjadi bukti nyata komitmen Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Ke depan, publik tentu berharap konsistensi dan integritas para jenderal polisi ini terus terjaga, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum semakin kuat.
