FaktaHari – 01 November 2026 | Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran mengancam akan menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) jika perang kembali pecah. Ancaman ini muncul di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim mampu menghancurkan sisa fasilitas nuklir Iran hanya dalam waktu 10 menit. Isu senjata nuklir kembali menjadi sorotan utama dalam konflik yang telah berlangsung sejak awal 2026.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) Mohsen Rezaei menegaskan bahwa prioritas Teheran adalah membahas hak-haknya, bukan menerima pembatasan. “Dalam hal nuklir, prioritas kami adalah untuk membahas hak-hak kami, bukan untuk menerima pembatasan pada pihak Iran,” kata Rezaei kepada televisi nasional Iran pada Minggu (1/11/2026). Ia juga menyatakan bahwa pemerintah Iran belum menentukan sikap mengenai kelanjutan keanggotaan dalam NPT jika perang kembali terjadi di masa depan.
Wacana penarikan diri dari NPT sebelumnya telah disuarakan oleh sejumlah pejabat parlemen Iran. Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad mengisyaratkan bahwa badan legislatif sedang mengkaji peluang Iran untuk mundur dari perjanjian internasional tersebut. Sementara itu, anggota Presidium Parlemen Iran Abbas Goudarzi menyebut penarikan diri dari NPT sebagai langkah yang “sangat nyata dan mudah dicapai”. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa Iran serius mempertimbangkan opsi keluar dari kesepakatan yang membatasi pengembangan senjata nuklir.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (31/10/2026) mengatakan bahwa Washington dapat menyerang sisa fasilitas nuklir Iran yang diduga masih beroperasi hanya dalam “10 menit”. Berbicara di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengklaim operasi militer AS telah melemahkan secara signifikan angkatan bersenjata dan infrastruktur nuklir Iran. “Kami masih harus menangani, menurut saya, satu atau dua lokasi, tetapi kami bisa melakukannya dalam 10 menit. Jadi, kami sudah memiliki rencana untuk itu,” ujarnya. Ia juga merujuk pada Gunung Pickaxe, sebuah fasilitas nuklir Iran yang diduga menjadi lokasi kegiatan pengembangan senjata nuklir.
Trump menegaskan bahwa AS tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dalam perundingan yang dimediasi Qatar. Ia juga kembali menegaskan penolakan Washington terhadap kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir. “Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Mereka ingin membuat kesepakatan; kita lihat saja nanti,” kata Trump. Namun, ia meragukan keandalan pemerintah Teheran. “Pembicaraannya berjalan baik, tetapi mereka tidak terlalu bisa diandalkan. Saya katakan kepada Anda, mereka membuat kesepakatan, lalu mengingkarinya,” tambahnya.
Pernyataan Trump disampaikan setelah para negosiator Iran bertemu dengan mediator Qatar di Doha pada Sabtu, menyusul pembicaraan di Teheran pada Jumat yang bertujuan mencari penyelesaian diplomatik. Ketegangan di Timur Tengah masih tinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu aksi balasan Iran di berbagai wilayah. Meskipun sempat ada memorandum untuk memulai proses perdamaian pada pertengahan Juni, permusuhan kembali terjadi tiga pekan kemudian setelah Washington menuding Teheran menyerang kapal komersial di Selat Hormuz.
Ancaman Iran untuk keluar dari NPT dan pernyataan Trump mengenai serangan dalam 10 menit menunjukkan bahwa isu senjata nuklir tetap menjadi titik krusial dalam hubungan kedua negara. Jika Iran benar-benar mundur dari NPT, stabilitas keamanan internasional akan semakin terancam. Sementara itu, perundingan diplomatik yang dimediasi Qatar masih menjadi harapan untuk meredakan ketegangan, meskipun kedua pihak terus saling melontarkan ancaman. Dunia menanti langkah selanjutnya dari Teheran dan Washington, apakah akan menempuh jalur damai atau kembali ke medan perang.
