Kebuntuan Politik Israel: Netanyahu Gagal Raih Mayoritas, Arab Parties Jadi Penentu

Kebuntuan Politik Israel: Netanyahu Gagal Raih Mayoritas, Arab Parties Jadi Penentu
Kebuntuan Politik Israel: Netanyahu Gagal Raih Mayoritas, Arab Parties Jadi Penentu

FaktaHari – 31 Oktober 2026 | Hasil akhir pemilu Israel 2026 telah resmi diumumkan, dan israel elections netanyahu berakhir tanpa pemenang mutlak. Blok kanan yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hanya meraih 53 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang, sementara blok oposisi yang mendukung Gadi Eisenkot mendapatkan 48 kursi. Kedua kubu sama-sama kurang dari 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Kekalahan ini menjadi pukulan bagi Netanyahu, yang pada parlemen sebelumnya sempat menguasai 68 kursi.

Komite Pemilihan Pusat Israel mengumumkan distribusi kursi final pada 30 Oktober 2026. Partai Likud pimpinan Netanyahu menjadi partai terbesar dengan 27 kursi, disusul Yashar dengan 21 kursi. Namun, total blok pro-Netanyahu tetap tidak cukup. Sementara itu, partai-partai Arab yang dipimpin Ra’am dan Joint List mencatat sejarah dengan meraih 19 kursi, berkat partisipasi pemilih Arab yang melonjak hampir dua kali lipat dibanding pemilu sebelumnya. Tingkat partisipasi pemilih secara keseluruhan mencapai 77,9 persen, dengan 5.716.665 suara sah.

Kebuntuan ini membuat posisi partai Arab menjadi krusial. Meskipun kedua blok utama telah menolak bekerja sama dengan partai Arab, ketua partai Demokrat Yair Golan menyerukan agar mereka dilibatkan. “Tidak ada warga negara bersyarat di Israel yang demokratis,” tulis Golan dalam opininya. “Suara seorang warga Arab di Sakhnin atau Rahat sama nilainya dengan suara warga Yahudi di Tel Aviv atau Sderot.” Seruan ini mendapat dukungan dari mantan Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon, yang mendesak oposisi membentuk pemerintahan dengan Ra’am dan mengangkat Mansour Abbas sebagai menteri.

Di tengah ketidakpastian, muncul wacana untuk mengubah sistem pemilihan menjadi pemilihan langsung perdana menteri. Blok oposisi tengah mempertimbangkan amandemen Hukum Dasar: Pemerintahan yang akan memungkinkan pemilihan perdana menteri terpisah dari pemerintahan. Namun, perubahan ini memerlukan dukungan minimal 61 anggota Knesset. Netanyahu sendiri pernah mengusulkan hal serupa setelah pemilu 2021 yang juga berakhir tanpa mayoritas.

Pemilu kali ini juga diwarnai tuduhan campur tangan asing. Netanyahu dan anggota koalisinya mencurigai keterlibatan Qatar dan merujuk partai Arab ke Shin Bet untuk investigasi. Qatar membantah tuduhan tersebut, sementara pemimpin Ra’am Mansour Abbas menolak segala kaitan dan menuduh Netanyahu melakukan kampanye hasutan terhadap warga Arab. Komite Pemilihan menegaskan tidak ada bukti empiris yang menunjukkan kompromi sistematis terhadap integritas pemungutan suara.

Selain itu, beredar video palsu yang diklaim menunjukkan Netanyahu diserang di Tel Aviv. Faktanya, video tersebut adalah rekaman perkelahian antaranggota parlemen Armenia pada 29 Oktober, bukan insiden yang melibatkan Netanyahu. Politisi oposisi Yair Lapid tetap optimistis dengan hasil ini. “Ini bukan kemenangan knockout, tapi kemenangan angka. Itu tetap berarti. Kemenangan adalah kemenangan,” ujarnya.

Dengan hasil ini, israel elections netanyahu menunjukkan bahwa Netanyahu masih menghadapi jalan terjal untuk membentuk pemerintahan. Presiden Isaac Herzog dijadwalkan menerima hasil resmi pada 4 November dan akan berkonsultasi dengan perwakilan partai sebelum menunjuk calon perdana menteri. Knesset ke-26 akan dilantik pada 10 November. Sementara itu, diskusi antara Netanyahu dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich terus berlanjut, dan Presiden Argentina Javier Milei memberikan ucapan selamat kepada Netanyahu atas performa Likud.

Kebuntuan politik ini menandai babak baru dalam lanskap politik Israel. Dengan partai Arab yang semakin kuat dan oposisi yang bersatu, israel elections netanyahu menjadi cerminan perubahan preferensi pemilih. Masa depan pemerintahan Israel kini bergantung pada kemampuan para pemimpin partai untuk bernegosiasi dan menemukan jalan keluar dari kemacetan ini. Tanpa terobosan, Israel mungkin akan menghadapi pemilu ulang, sebuah prospek yang semakin tidak populer di mata publik.

Exit mobile version