Widodo AS, Panglima TNI Reformis yang Melucuti Dwifungsi ABRI, Tutup Usia

Widodo AS, Panglima TNI Reformis yang Melucuti Dwifungsi ABRI, Tutup Usia
Widodo AS, Panglima TNI Reformis yang Melucuti Dwifungsi ABRI, Tutup Usia

FaktaHari – 26 Oktober 2026 | Kabar duka menyelimuti institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Laksamana TNI (Purn) Widodo Adi Sutjipto, Panglima TNI ke-14 yang menjabat pada periode 1999–2002, meninggal dunia pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 21.30 WIB di kediamannya di Jakarta. Almarhum wafat dalam usia 82 tahun setelah menderita sakit. Jenazahnya dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Kepergian Widodo AS meninggalkan jejak mendalam bagi Tentara Nasional Indonesia dan sejarah reformasi bangsa. Ia dikenal sebagai sosok tentara reformis yang berperan krusial dalam masa transisi dari pemerintahan otoriter menuju demokrasi. Peran pentingnya tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi juga dalam perumusan kebijakan di lembaga legislatif.

Pada Sidang Istimewa MPR RI tahun 1998, Widodo AS memimpin Panitia Ad Hoc (PAH) II Badan Pekerja MPR. Dalam posisi itu, ia mengarahkan pembahasan draf-draf rancangan ketetapan yang menjadi landasan reformasi konstitusi. Salah satu hasilnya adalah pembatasan masa jabatan presiden, yang menjadi pilar penting demokratisasi Indonesia.

Lebih dari itu, Widodo AS memimpin langsung proses perombakan institusinya sendiri, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), yang kemudian bertransformasi menjadi Tentara Nasional Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, terjadi pemisahan Polri dari TNI, penghapusan Dwifungsi ABRI, serta pembatasan keterlibatan prajurit aktif dalam politik dan jabatan sipil. Langkah-langkah tersebut tertuang dalam Ketetapan MPR hasil Sidang Istimewa 1998.

Rektor Universitas Paramadina yang juga anggota MPR RI saat itu, Didik J. Rachbini, mengenang Widodo sebagai sahabat dan tentara reformis. Menurutnya, peran Widodo dalam sidang istimewa sangat sentral karena harus merombak institusi sendiri. “Beliau memimpin langsung pembahasan yang melucuti produk politik Orde Baru, termasuk lembaganya sendiri,” ujar Didik dalam keterangan tertulisnya.

Setelah menyelesaikan tugas sebagai Panglima TNI, Widodo AS dipercaya menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) pada 2004–2009 di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia juga pernah mengemban tugas sebagai Menteri Dalam Negeri ad interim (2 April–29 Agustus 2007) dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ad interim (1–20 Oktober 2009). Usai menjabat Menko Polhukam, ia melanjutkan pengabdian sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2009–2014.

Kabar duka ini mendapat respons dari berbagai pihak, termasuk dari mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen (Purn) Johannes Suryo Prabowo. “Berita duka atas berpulangnya Laksamana TNI (Purn) Widodo AS membawa duka yang mendalam bagi segenap keluarga besar Tentara Nasional Indonesia dan bangsa Indonesia,” kata Suryo Prabowo di Jakarta, Ahad (25/10/2026).

Di sisi lain, Tentara Nasional Indonesia terus menunjukkan eksistensinya di berbagai bidang. Baru-baru ini, Piala Panglima TNI Esports Championship 2026 digelar dalam rangka memperingati HUT TNI. Turnamen bertema “Rise as One” ini mempertemukan tim dari berbagai Komando Daerah Militer (Kodam) di Jakarta. Kodam XVII/Cendrawasih keluar sebagai juara pertama, disusul Kodam V/Brawijaya dan Kodam II/Sriwijaya. Kompetisi ini menjadi wadah bagi komunitas esports daerah untuk unjuk kemampuan melalui seleksi berjenjang, dari kualifikasi Kodam hingga nasional.

Selain itu, personel Tentara Nasional Indonesia juga terlibat aktif dalam penanganan bencana. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sejak 21 Oktober 2026, ditangani tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, Perhutani, dan masyarakat. Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyatakan bahwa medan terjal dan berbatu menyulitkan pemadaman darat, sehingga opsi water bombing via helikopter tengah diupayakan bersama Pemprov Jawa Barat.

Kepergian Widodo AS menjadi pengingat akan peran strategis Tentara Nasional Indonesia dalam transisi demokrasi. Dedikasinya dalam merombak institusi militer dan membatasi peran politik prajurit menjadi warisan yang terus relevan. Sementara itu, TNI masa kini terus beradaptasi dengan tantangan zaman, mulai dari olahraga digital hingga penanggulangan bencana, tanpa melupakan jati dirinya sebagai alat pertahanan negara yang profesional dan modern.

Exit mobile version