FaktaHari – 25 Oktober 2026 | Konflik Iran yang masih berlangsung hingga Oktober 2026 kembali menjadi sorotan tajam di panggung politik Amerika Serikat. Mantan Presiden Barack Obama melontarkan kritik pedas terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, menyebut mereka sebagai ‘bukan orang-orang yang serius’ dalam menangani perang dengan Iran. Kritik itu disampaikan Obama saat berkampanye untuk calon gubernur dari Partai Demokrat Amy Acton dan calon senator Sherrod Brown di Cleveland, Ohio, pada Sabtu (24/10/2026).
Dalam pidatonya, Obama mengingatkan bahwa alasan awal invasi adalah untuk memaksa Iran meninggalkan program nuklirnya. Namun, ia menegaskan bahwa diplomasi yang ia tempuh selama menjabat berhasil mencegah Teheran memiliki senjata nuklir tanpa perlu menembakkan rudal. ‘Saya tidak perlu menembakkan rudal untuk melakukannya. Saya hanya perlu melakukan diplomasi,’ ujar Obama. Ia pun menyayangkan keputusan Trump yang menarik diri dari kesepakatan nuklir dan memilih jalur perang. ‘Dia menarik diri, memulai perang ini. Jadi, tujuh bulan kemudian, bagaimana perang itu berjalan?’ tanyanya retoris.
Obama merinci dampak buruk konflik bagi Amerika Serikat. Menurutnya, sekutu dan pangkalan AS telah diserang, warga Amerika tewas, ratusan terluka, dan stok rudal menipis. Ia juga menyoroti pernyataan Trump yang menyebut konflik sebagai ‘latihan militer’ dan ‘hal kecil’, padahal Pentagon mencatat 21 tentara AS tewas dan 865 terluka. ‘Ini bukan hal sepele. Ini perang yang nyata,’ tegas Obama.
Kritik Obama juga menyasar Hegseth yang dianggap terlalu fokus pada hal-hal tidak substantif, seperti tingkat testosteron dan garis rahang tentara. ‘Dia sangat fokus pada hal-hal penting seperti garis rahang dan tingkat testosteron prajurit kita. Dan eksekusi yang disiarkan langsung,’ sindirnya. Obama menilai pemerintahan saat ini tidak serius dan rakyat Amerika harus menanggung akibatnya.
Di sisi lain, gelombang protes publik terhadap perang Iran semakin kuat. Jajak pendapat AP-NORC menunjukkan sekitar 70 persen pemilih Amerika ingin pemerintah memprioritaskan pengakhiran perang. Delapan dari sepuluh responden juga menuntut penurunan biaya hidup yang melonjak akibat harga bahan bakar, tiket pesawat, dan suku bunga hipotek. Moody’s memperkirakan setiap rumah tangga Amerika merugi rata-rata $2.000 akibat lonjakan harga tersebut. Sementara itu, jajak pendapat Fox News pada September menemukan 60 persen warga AS menentang aksi militer terhadap Iran. Trump dianggap tidak memiliki rencana untuk mengakhiri perang, bahkan sempat melontarkan ancaman baru terhadap Kuba.
Di tengah tekanan internasional, Iran menunjukkan keterbukaan untuk bernegosiasi. Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menyatakan bahwa Teheran siap membuka kembali Selat Hormuz jika Washington mencabut blokade laut. Namun, Trump menolak tawaran itu dan memilih melanjutkan blokade pelabuhan Iran. Moghadam juga menyebut Iran akan mempelajari Pakta Pertahanan Bersama Mekah yang melibatkan Pakistan, Arab Saudi, dan Turki sebelum memutuskan dukungan. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Sementara itu, milisi pendukung Iran di Irak, Islamic Resistance in Iraq (IRI), menuduh Amerika Serikat melanggar wilayah udara Irak. Mereka mengklaim mendokumentasikan 171 pelanggaran oleh jet tempur dan pesawat pengintai AS antara 30 September dan 24 Oktober 2026. Tuduhan ini belum diverifikasi independen. IRI juga mengecam Baghdad yang dianggap mengekang milisi dan mengurangi penerbangan komersial ke Iran. Ketegangan ini terjadi setelah koalisi pimpinan AS resmi mengakhiri misi militer di Irak pada 30 September, dan Perdana Menteri Ali al-Zaidi berupaya mengendalikan senjata milisi dengan tenggat hingga Juni 2027.
Di Israel, Nazanin Sharifian, mantan perwira Mossad kelahiran Iran yang kini mencalonkan diri untuk Knesset dari partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot, mendesak penggulingan pemerintahan Republik Islam Iran. Ia menyerukan tekanan militer dan ekonomi yang lebih besar terhadap para pemimpin Iran, meskipun pemimpin partainya, Eisenkot, berpendapat bahwa kejatuhan rezim harus datang dari dalam masyarakat Iran sendiri. Sharifian menegaskan bahwa kekayaan Iran seharusnya dinikmati rakyat, bukan dialirkan ke Hezbollah dan Houthi.
Dengan pemilihan sela yang tinggal sepuluh hari lagi, isu perang Iran dan ekonomi menjadi senjata utama Demokrat untuk menggolkan suara. Obama berupaya mengaitkan konflik dan kebijakan tarif Trump dengan kenaikan harga yang mencekik rakyat. ‘Harga minyak naik, harga diesel naik, harga segala hal naik. Ini bukan kebetulan,’ ujarnya. Ia juga mengolok-olok perang dagang Trump dengan Kanada. Sementara itu, Trump tetap bersikukuh bahwa perang melawan Iran adalah ‘hal kecil’ dan mengklaim harga bensin lebih rendah dari era Obama, meski data menunjukkan sebaliknya. Pertarungan politik dan militer ini tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat, dan rakyat Amerika terus menanggung bebannya.
