FaktaHari – 30 Oktober 2026 | Kontroversi yang melibatkan Kylian Mbappé China masih menjadi sorotan setelah pernyataannya yang menyebut mantan pemimpin China, Mao Zedong, sebagai diktator memicu reaksi keras. Presiden Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), Philippe Diallo, meminta publik untuk tidak memperpanjang polemik dan memberi kesempatan kepada kapten Timnas Prancis itu untuk move on. Menurut Diallo, Mbappé telah menyampaikan permintaan maaf dan tidak bermaksud menyinggung siapa pun.
Insiden bermula dari sebuah wawancara dengan acara Prancis, The Bridge, di mana Mbappé menanggapi meme wajahnya yang diedit menempel pada gambar Mao. Dalam klip yang kemudian dihapus, ia menyebut sosok dalam gambar itu sebagai “seorang diktator China”. Komentar tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kemarahan di China, negara yang sangat menjaga citra pemimpin pendirinya.
Dampak dari kontroversi Kylian Mbappé China ini sangat signifikan. China Media Group (CMG), penyiar negara, menghentikan semua siaran LaLiga dan menarik iklan yang menampilkan bintang Real Madrid tersebut. Langkah ini diambil karena pernyataan Mbappé dianggap melampaui batas kebebasan berekspresi dan merupakan “perilaku sangat negatif”. Tidak hanya itu, beberapa perusahaan China seperti Dongpeng (minuman) dan Mengniu (produk susu) mengakhiri kontrak kerja sama dengan Mbappé secara langsung. Platform media sosial Xiaohongshu juga dikabarkan memutus kerja sama. Bahkan, media pemerintah China Daily menyoroti besarnya dampak pernyataan tersebut.
Menghadapi eskalasi, Mbappé menyampaikan permintaan maaf melalui pernyataan dalam bahasa Prancis, China, dan Inggris. Ia mengaku reaksinya terhadap gambar tersebut tidak bijaksana dan memahami bahwa ucapannya telah melukai banyak orang di China dan komunitas Tionghoa di seluruh dunia. “Saya menyesal dan meminta maaf kepada semua yang tersinggung. Ini sama sekali bukan maksud saya. Saya sangat menghormati rakyat China dan sejarah mereka,” ujarnya. Real Madrid juga turut meminta maaf kepada publik China, dan LaLiga melalui Presiden Javier Tebas menyampaikan penyesalan mendalam serta komitmen untuk memperbaiki hubungan.
Presiden LaLiga, Javier Tebas, bahkan membentuk tim khusus untuk menangani krisis ini dan bertemu dengan Duta Besar China untuk Spanyol, Yao Jing, pada Rabu lalu. Langkah tersebut menunjukkan betapa seriusnya dampak komersial yang timbul. LaLiga memiliki kepentingan besar di China, termasuk kesepakatan siaran free-to-air dan pay-TV dengan CMG untuk musim ini, serta kantor perwakilan di Shanghai sejak 2014. Kontroversi Kylian Mbappé China ini pun mengancam pendapatan Real Madrid, sponsor, dan penjualan jersey di pasar Tiongkok.
Meski permintaan maaf telah disampaikan, CMG melalui juru bicara Pusat Olahraga dan Pemuda menyatakan ketidaksetujuan terhadap sikap Real Madrid yang dianggap lepas dari tanggung jawab. Mereka menuntut permintaan maaf yang memuaskan rakyat China. Hingga kini, belum ada kepastian apakah siaran LaLiga akan kembali normal. Pertanyaannya, apakah permintaan maaf sudah cukup untuk memulihkan hubungan dan mengakhiri krisis yang melibatkan Kylian Mbappé China ini?
Kontroversi ini menjadi pelajaran berharga bagi atlet dan klub internasional tentang sensitivitas budaya dan politik di pasar global. Kasus Kylian Mbappé China menunjukkan bahwa ucapan di ruang publik, terutama yang menyentuh simbol negara lain, dapat berdampak luas pada karier dan bisnis. Sementara FFF berharap agar polemik segera berakhir, dunia sepak bola menanti penyelesaian yang damai.
