Berita  

Gema Tuntutan Demo Hari Ini: Dari Tritura 1966 hingga Aksi Mahasiswa 2026 di Bundaran HI

Gema Tuntutan Demo Hari Ini: Dari Tritura 1966 hingga Aksi Mahasiswa 2026 di Bundaran HI
Gema Tuntutan Demo Hari Ini: Dari Tritura 1966 hingga Aksi Mahasiswa 2026 di Bundaran HI

FaktaHari – 30 Oktober 2026 | Jakarta kembali menjadi panggung bagi suara mahasiswa. Pada 28 dan 29 Oktober 2026, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus tumpah ruah di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Patung Kuda, Jakarta Pusat, membawa tuntutan demo hari ini yang bergema layaknya sejarah enam dekade silam. Aksi tersebut bukan sekadar rutinitas politik, melainkan kelanjutan dari perjuangan panjang yang pernah tercatat dalam buku Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.

Dalam catatan Soe Hok Gie halaman 168–173, demonstrasi mahasiswa 1966 di Bundaran HI diwarnai orasi, nyanyian sindiran “Menteri Goblok”, hingga pelemparan nasi bungkus ke lantai. Kini, semangat itu kembali hidup dengan wajah baru. Mahasiswa Universitas Trisakti, misalnya, menggelar aksi di Patung Kuda pada Kamis (29/10/2026) dengan membawa Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) versi baru: pemulihan nasional, pemberantasan inkompetensi serta rangkap jabatan pejabat publik, dan penegakan supremasi sipil. Tuntutan demo hari ini pun menjadi cermin kekecewaan terhadap kondisi ekonomi dan politik yang tak kunjung membaik.

Massa aksi mulai berdatangan sejak pagi. Polisi tampak berjaga ketat dan menutup Jalan Medan Merdeka Selatan untuk mengantisipasi kepadatan. Mahasiswa melakukan konvoi, mengibarkan bendera hitam, menyanyikan lagu nasional, dan membacakan sumpah mahasiswa. Mereka juga meminta akses aspirasi dibuka seluas-luasnya kepada pemerintah. Staf Khusus Wakil Menteri Sekretaris Negara yang menemui massa berjanji akan menyampaikan tuntutan demo hari ini kepada Presiden.

Sejarah mencatat, Tritura 1966 lahir dari ketidakstabilan politik dan ekonomi pasca-Gerakan 30 September 1965. Harga kebutuhan pokok melonjak, bahan bakar langka, dan biaya hidup tak terkendali. Mahasiswa turun ke jalan menuntut pembubaran PKI, perombakan Kabinet Dwikora, dan penurunan harga. Demonstrasi di Bundaran HI kala itu menjadi simbol perlawanan generasi muda terhadap kesewenang-wenangan. Kini, enam dekade kemudian, tuntutan demo hari ini kembali menyuarakan hal serupa: keadilan sosial dan perbaikan tata kelola pemerintahan.

Perbandingan antara aksi 1966 dan 2026 menunjukkan benang merah yang kuat. Jika dahulu mahasiswa melempar nasi bungkus sebagai bentuk protes atas kesejahteraan yang timpang, kini mereka membawa spanduk dan orasi kritis terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Tuntutan demo hari ini tidak hanya soal politik, tetapi juga ekonomi: harga pangan, lapangan kerja, dan pendidikan yang terjangkau. Aksi di Bundaran HI dan Patung Kuda menjadi momentum bagi mahasiswa untuk kembali menegaskan peran sebagai kontrol sosial.

Meski demikian, aksi berjalan damai. Tidak ada bentrokan berarti antara massa dan aparat. Beberapa perwakilan mahasiswa diterima untuk berdialog. Namun, mereka menegaskan akan terus mengawal tuntutan demo hari ini hingga ada tindak lanjut nyata dari pemerintah. Sejarah panjang demonstrasi mahasiswa di Indonesia menunjukkan bahwa suara rakyat, jika disampaikan dengan konsisten, mampu mengguncang kebijakan yang mapan.

Dari nyanyian “Menteri Goblok” hingga lemparan nasi bungkus, dari Tritura 1966 hingga Tritura 2026, semangat mahasiswa untuk memperjuangkan keadilan tak pernah padam. Bundaran HI kembali menjadi saksi bahwa tuntutan demo hari ini adalah bagian dari denyut nadi demokrasi Indonesia. Pemerintah diharapkan tidak menutup telinga, melainkan merespons dengan kebijakan yang pro-rakyat. Sebab, sejarah telah membuktikan bahwa aba-aba mahasiswa adalah cermin nurani bangsa.

Exit mobile version