Alexander Zverev: Raja Baru Tenis Dunia yang Dihujani Kritik, Becker Angkat Bicara

Alexander Zverev: Raja Baru Tenis Dunia yang Dihujani Kritik, Becker Angkat Bicara
Alexander Zverev: Raja Baru Tenis Dunia yang Dihujani Kritik, Becker Angkat Bicara

FaktaHari – 16 Oktober 2026 | Alexander Zverev dipastikan mengakhiri tahun 2026 sebagai petenis peringkat satu dunia ATP. Pencapaian ini menjadi puncak karier bagi petenis Jerman tersebut, namun gelar itu tidak datang tanpa kontroversi. Banyak pihak meragukan keabsahan posisinya, menyebutnya sebagai “nomor satu yang paling dikritik” dalam sejarah tenis modern. Kritik muncul karena kepergian Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner dari beberapa turnamen besar akibat cedera, yang dianggap membuka jalan bagi Zverev untuk mengumpulkan poin.

Meski demikian, Alexander Zverev menunjukkan performa impresif sepanjang musim. Ia berhasil memenangkan dua gelar Grand Slam pertamanya, yaitu Roland Garros dan US Open 2026. Selain itu, ia juga mencapai semifinal di semua turnamen Grand Slam tahun ini, sebuah prestasi yang jarang terjadi. Statistik menunjukkan bahwa servisnya termasuk yang paling dominan di sirkuit, dengan persentase first serve yang tinggi dan kemampuan bertahan yang luar biasa. Namun, kritik tetap mengalir, terutama karena rekor buruknya melawan pemain Top 10, di mana ia kalah lima kali dari Sinner dan sekali dari Alcaraz saat keduanya masih aktif.

Legenda tenis Jerman, Boris Becker, angkat bicara membela Zverev. Dalam podcast yang ia pandu bersama Andrea Petkovic, Becker menyebut kritik terhadap Zverev sebagai “totali sciocchezze” atau omong kosong belaka. Menurut Becker, Zverev hanya bisa mengalahkan lawan yang ada di seberang net, dan ia tidak bertanggung jawab atas cedera yang dialami rival-rivalnya. Becker menekankan bahwa Zverev telah memanfaatkan peluang dengan baik dan menunjukkan mentalitas juara. “Dia telah memenangkan dua Slam musim ini, mencapai tiga final berturut-turut, dan hampir mengalahkan Alcaraz di semifinal Australia,” ujar Becker. “Orang-orang harus memberikan penghormatan yang pantas untuknya.”

Di lapangan, Alexander Zverev terus membuktikan kualitasnya. Pada Masters 1000 Shanghai 2026, ia tampil sebagai unggulan teratas. Setelah melewati beberapa pertandingan awal yang diwarnai masalah kaki, Zverev menemukan performa terbaiknya di perempat final melawan Alex de Minaur. Ia menang 6-4, 6-4 dengan servis yang nyaris tak tersentuh, menyelamatkan semua lima break point yang dihadapinya. Kemenangan ini membawanya ke semifinal melawan Alejandro Davidovich Fokina. “Saya merasa baik di lapangan. Saya berhasil mengungguli Alex dalam hal kekuatan, dan itu tidak mudah karena dia sangat cepat,” kata Zverev setelah pertandingan.

Perjalanan Zverev di Shanghai menjadi bukti bahwa gelar nomor satu dunianya bukanlah kebetulan. Meski tanpa kehadiran Sinner dan Alcaraz, ia tetap harus mengalahkan siapa pun yang ada di depannya. Turnamen ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa ia mampu konsisten di level tertinggi. Dengan sisa musim yang masih menyisakan beberapa turnamen, Zverev berpeluang memperkuat posisinya dan membungkam keraguan. Namun, hingga saat itu tiba, perdebatan tentang statusnya sebagai nomor satu dunia akan terus bergulir.

Pada akhirnya, terlepas dari pro dan kontra, Alexander Zverev telah menorehkan namanya dalam sejarah tenis. Ia adalah juara Grand Slam, pemimpin peringkat ATP, dan sosok yang tidak bisa diabaikan. Masa depan tenis pasca-era Big Three sedang menuju babak baru, dan Zverev berada di garis depan. Apakah ia mampu mempertahankan konsistensi dan meraih lebih banyak gelar? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: kritik tidak akan pernah menyurutkan langkahnya untuk terus menang.

Exit mobile version