FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan Islam Indonesia. KH Syukron Makmun, ulama kharismatik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta, meninggal dunia pada Ahad, 18 Oktober 2026, sekitar pukul 09.00 WIB. Beliau mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada usia 84 tahun. Kepergian KH Syukron Makmun bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan pesantren yang beliau rawat, tetapi juga bagi dunia pendidikan Islam di Jakarta dan Indonesia.
Kabar wafatnya KH Syukron Makmun pertama kali disampaikan oleh politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M. Romahurmuziy atau Rommy, yang menerima informasi langsung dari putra almarhum. Menurut keterangan Rommy, KH Syukron Makmun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Ia menghembuskan napas terakhir saat dalam perjalanan dari kediamannya menuju rumah sakit. Jenazah almarhum kemudian dishalatkan dan dimakamkan di lingkungan Pondok Pesantren Daarul Rahman, Kebayoran Baru, Jakarta, dengan diantar ribuan jemaah.
KH Syukron Makmun memimpin Pondok Pesantren Daarul Rahman sejak tahun 1975. Artinya, lebih dari lima dekade beliau mengabdi, melewati berbagai zaman, dari masa Orde Baru hingga era reformasi, dari masa sebelum internet hingga era kecerdasan buatan. Dalam rentang itu, beliau tidak hanya merawat pesantren, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat Jakarta terhadap lembaga pendidikan Islam. Beliau termasuk salah satu kiai yang diperhitungkan di ibu kota. Di tengah arus urbanisasi yang deras dan godaan modernitas yang tidak pernah surut, beliau memilih bertahan pada jalur pendidikan pesantren.
Pendidikan KH Syukron Makmun dimulai dari keluarga pesantren. Ibunya mengajarkan Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik. Setelah menempuh pendidikan dasar dan madrasah, ia belajar di Pesantren Sidogiri, Pasuruan, kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Ia menyelesaikan pendidikan Kulliyatul Mu’allimin dan melanjutkan studi di Institut Pendidikan Darussalam Gontor hingga memperoleh gelar sarjana muda. Sidogiri mewakili kekuatan tradisi salafiah dengan pengkajian kitab kuning yang mendalam, sementara Gontor mengembangkan sistem pendidikan modern, kedisiplinan, penguasaan bahasa, dan pembentukan karakter. Perpaduan dua tradisi inilah yang membentuk kepribadian KH Syukron Makmun sebagai ulama yang memadukan kedalaman ilmu dan keberanian bersikap.
Julukan “Singa Podium” melekat pada KH Syukron Makmun karena kemampuannya menguasai forum sekaligus keberaniannya menyampaikan pendirian. Pendidikan muhadarah di Gontor menempanya menjadi orator ulung. Ketika naik ke podium, jemaah segera mengenali karakter suaranya yang serak namun penuh tenaga. Ia membawa persoalan besar ke hadapan orang banyak dan menuntut jawaban. Baginya, mencintai negeri juga berarti berani menegur penguasa. Kritiknya tajam dan keberaniannya berhadapan dengan kekuasaan meninggalkan kesan mendalam bagi umat Islam.
Dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama (NU), KH Syukron Makmun pernah mengemban amanah sebagai Rais Aam Syuriyah PBNU, posisi tertinggi dalam kepemimpinan ulama di organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia juga tercatat sebagai Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta periode 2016–2021. Peran beliau dalam NU mencakup berbagai aspek penting, terutama implementasi konsep wasathiyah atau moderasi Islam. Beliau sangat menekankan pentingnya mengambil jalan tengah dalam menghadapi perbedaan pendapat. Dalam pandangannya, dakwah tidak boleh dilakukan dengan cara kekerasan atau paksaan, melainkan dengan hikmah dan mauidzah hasanah. Strategi ini terbukti efektif dalam meredam potensi radikalisme yang sempat mengancam stabilitas nasional.
Menjelang wafat, KH Syukron Makmun sempat menyampaikan pesan terakhir kepada putranya, KH Muhammad Faiz atau Gus Faiz, yang menjabat Wakil Ketua Umum PBNU. Dalam beberapa hari terakhir, almarhum beberapa kali membicarakan kematian. Ia berpesan agar keluarga tidak menunda proses pemakaman jika dirinya meninggal dunia. “Ayah saya bilang, ‘Is, saya sesak napas ini apa sudah mau mati ya?’” tutur Gus Faiz saat menyampaikan sambutan di hadapan para pelayat. Almarhum juga berpesan tentang orang-orang yang diharapkan mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. “Nanti kalau saya mati, Is, jangan lama-lama, cepat kubur. Yang paling penting teman-teman saya, kamu kan tahu siapa yang sering saya sebut itu. Nanti tolong ada yang mengimami, ada yang menalkini,” ungkapnya menirukan pesan almarhum.
Sebagai bagian dari pemenuhan pesan terakhir tersebut, shalat jenazah KH Syukron Makmun dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta 2016–2021, KH Mahfudz Asirun. Penunjukan ini merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum yang semasa hidup aktif membina hubungan baik dengan para ulama dan tokoh masyarakat. Prosesi pemakaman berlangsung haru, dihadiri ribuan jemaah yang datang dari berbagai daerah untuk mengantar kepergian ulama yang mereka cintai.
Yang ditinggalkan KH Syukron Makmun bukan hanya bangunan pesantren, tetapi juga sistem, kader, dan nilai. Di situlah letak kebesaran seorang pemimpin: ia tidak diukur dari berapa lama ia memimpin, tetapi dari seberapa dalam nilai yang ia tanamkan tetap hidup setelah ia pergi. Nama “Syukran Ma’mun” sendiri mengandung doa: syukur dan amanah. Sepanjang hidupnya, KH Syukron Makmun tampaknya menghidupi nama itu dengan cara yang tidak banyak orang sadari. Beliau tidak sibuk menghitung apa yang belum ia miliki; beliau sibuk memikirkan bagaimana memanfaatkan apa yang telah dititipkan. Syukur membuat seorang pemimpin tetap rendah hati ketika organisasinya tumbuh, dan tetap teguh ketika organisasinya diuji.
Kepergian KH Syukron Makmun meninggalkan warisan besar bagi dunia pendidikan Islam dan dakwah di Indonesia. Beliau adalah teladan dalam memadukan tradisi pesantren dengan modernitas, serta dalam menjaga moderasi beragama di tengah keberagaman bangsa. Semoga Allah menerima seluruh amal shalih almarhum, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Umat Islam Indonesia kehilangan seorang ulama kharismatik, tetapi nilai-nilai perjuangan dan keberaniannya akan tetap hidup melalui kader-kader yang telah beliau didik.
