FaktaHari – 11 Oktober 2026 | Sepak bola Asia Tenggara kembali diguncang skandal besar. Soukphachan Lueanthala, pemain sayap Timnas Laos, dilaporkan ditangkap pihak kepolisian Laos terkait dugaan keterlibatan dalam praktik pengaturan skor atau match-fixing pada ajang ASEAN Championship 2026. Kabar ini pertama kali diungkap oleh media Inggris The Guardian pada Kamis (8/10/2026) dan langsung menjadi perhatian publik, termasuk di Indonesia yang turut berpartisipasi dalam turnamen tersebut.
Menurut laporan investigasi yang ditulis Ed Aarons dan Romain Molina, Soukphachan Lueanthala diduga menjadi penghubung antara sindikat perjudian ilegal yang berbasis di Vietnam dengan sejumlah pemain Timnas Laos. Pemain berusia 24 tahun yang membela klub Salavan United itu disebut memberikan instruksi kepada rekan setimnya untuk memanipulasi jalannya pertandingan. Meski demikian, Federasi Sepak Bola Laos (LFF) maupun kepolisian setempat belum memberikan konfirmasi resmi perihal penangkapan tersebut. Status hukum Soukphachan Lueanthala masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.
Skandal ini mencuat setelah LFF membuka penyelidikan internal pada 7 Agustus 2026, menyusul pemeriksaan terhadap sejumlah pemain sepulang dari laga terakhir fase grup melawan Myanmar. Dalam surat resmi yang dikirim ke Kementerian Keamanan Publik Laos, LFF menyatakan adanya indikasi kuat tindak pidana, termasuk penyuapan dan perjudian ilegal, meski tidak menyebut nama pemain secara spesifik. Namun, sumber yang mengetahui kasus ini menyebut Soukphachan Lueanthala sebagai tokoh kunci dalam operasi tersebut.
Performa buruk Timnas Laos di ASEAN Championship 2026 menjadi salah satu pemicu investigasi. Laos menelan empat kekalahan telak: 0-5 dari Thailand, 0-4 dari Malaysia, 1-4 dari Filipina, dan 2-7 dari Myanmar. Dalam laga-laga tersebut, sejumlah insiden mencurigakan terjadi, seperti gol bunuh diri ganda bek Viengxay Sydavong, kartu merah langsung yang diterima Phetdavanh Somsanith di dua pertandingan berbeda, serta aksi aneh kiper Keo Souvannasangso yang justru menarik tangannya saat bola mudah ditangkap dalam laga melawan Malaysia. Meski demikian, kekalahan tersebut belum bisa dijadikan bukti otomatis adanya pengaturan skor; proses hukum tetap berjalan.
Kasus ini bukan yang pertama bagi sepak bola Laos. Sebelumnya, pada 2020, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menjatuhkan hukuman larangan seumur hidup kepada Thipphonexay Inthavongsa karena terbukti memanipulasi pertandingan internasional melawan Hong Kong pada 2017. Kini, dengan terlibatnya Soukphachan Lueanthala, integritas kompetisi kembali dipertanyakan. The Guardian juga menyoroti rendahnya kesejahteraan pemain Laos yang hanya menerima US$10 per hari hingga tahun lalu, yang diduga menjadi celah bagi sindikat untuk memengaruhi pemain.
Dampak dari skandal ini tidak hanya dirasakan Laos, tetapi juga mengancam kepercayaan terhadap ASEAN Championship secara keseluruhan. Timnas Indonesia, yang menjadi salah satu peserta, tentu berharap kompetisi tetap berjalan fair. LFF dan kepolisian Laos terus melakukan penyelidikan, sementara AFC dan AFF belum memberikan pernyataan resmi. Publik menanti kepastian hukum atas dugaan keterlibatan Soukphachan Lueanthala dan pemain lainnya.
Skandal match-fixing ini menjadi pengingat bahwa sepak bola Asia Tenggara masih rentan terhadap praktik ilegal. Integritas pertandingan harus dijaga demi masa depan olahraga ini. Semoga proses hukum berjalan transparan dan memberikan efek jera bagi pelaku. Kasus Soukphachan Lueanthala kini menjadi sorotan utama, dan publik berharap keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
