Peta Kekuatan Gianni Infantino: Jalan Mulus Menuju Periode Keempat, Namun Perlawanan Masih Membara

Peta Kekuatan Gianni Infantino: Jalan Mulus Menuju Periode Keempat, Namun Perlawanan Masih Membara
Peta Kekuatan Gianni Infantino: Jalan Mulus Menuju Periode Keempat, Namun Perlawanan Masih Membara

FaktaHari – 11 Oktober 2026 | Gianni Infantino, pria yang telah memimpin Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sejak 2016, kembali menjadi pusat perhatian dunia sepak bola menjelang pemilihan presiden yang akan berlangsung pada Maret 2027. Meski dihadapkan pada berbagai kontroversi dan kritik tajam, langkahnya menuju periode keempat tampak semakin mulus setelah rival potensialnya memilih untuk tidak maju. Namun, di balik ketenangan itu, perlawanan dari sejumlah konfederasi besar masih membara, menciptakan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di tubuh organisasi sepak bola tertinggi di dunia.

Montagliani Mundur, Infantino Tanpa Lawan Berat

Kabar terbaru yang mengguncang panggung politik sepak bola global adalah keputusan Victor Montagliani, presiden Concacaf (Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia), untuk tidak mencalonkan diri sebagai penantang Gianni Infantino. Montagliani, yang sebelumnya dianggap sebagai kandidat paling potensial untuk menghadapi Infantino, memilih untuk kembali memperebutkan kursi kepemimpinan di konfederasinya. Keputusan ini praktis membuka jalan lebar bagi Infantino untuk melenggang ke periode keempat tanpa adanya lawan yang signifikan. Padahal, Montagliani sempat menjadi harapan bagi pihak-pihak yang menginginkan perubahan di FIFA, terutama setelah rencana kontroversial Infantino menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta pada Agustus 2026 menuai penolakan luas.

Perlawanan dari Eropa dan Asia: UEFA dan AFC Bersatu

Meskipun Infantino tampak tak terbendung, perlawanan datang dari berbagai penjuru. UEFA, induk sepak bola Eropa, secara terbuka menyatakan bahwa seluruh 55 federasi anggotanya tidak akan mendukung Gianni Infantino. Bahkan, UEFA telah mengadakan pertemuan di Berlin, Jerman, pada 9 Oktober 2026, untuk menyusun strategi mencari kandidat alternatif yang bisa menantang Infantino sebelum batas akhir pendaftaran pada 18 November. Konfederasi Asia (AFC) dan Concacaf juga disebut-sebut menjadi penentang keras kebijakan Infantino. Namun, dengan mundurnya Montagliani, Concacaf kehilangan figur sentral yang bisa menjadi poros perlawanan. Di sisi lain, Infantino masih berupaya menggalang dukungan dari Afrika, kawasan yang kerap menjadi basis suara baginya dalam pemilihan sebelumnya.

Arsene Wenger: Kandidat Kejutan dari Kalangan Legenda

Di tengah kebuntuan mencari penantang, muncul nama mengejutkan: Arsene Wenger. Legenda asal Prancis yang kini menjabat sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola FIFA ini disebut-sebut sebagai kandidat potensial yang diusung oleh pihak oposisi. Wenger dihormati luas di dunia sepak bola dan dianggap mampu membawa perubahan positif bagi FIFA. Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Wenger atau pihak terkait mengenai niatnya untuk maju. Nama lain yang sempat mencuat adalah Pangeran Ali bin Al-Hussein dari Yordania, yang pernah menjadi rival Infantino pada pemilihan 2015, namun belum jelas apakah ia akan kembali turut serta.

Dampak pada Turnamen Regional: Masa Depan FIFA ASEAN Cup

Ketidakpastian politik di puncak FIFA juga berdampak pada program-program yang digagas di era Infantino, termasuk FIFA ASEAN Cup. Turnamen edisi perdana yang baru saja rampung pada 5 Oktober 2026, dengan Indonesia sebagai juara Premier Division dan Hong Kong sebagai juara Challenge Division, kini dihadapkan pada pertanyaan besar: akankah turnamen ini berlanjut jika Infantino lengser? Meskipun Infantino hadir langsung di final di Hong Kong dan Jakarta, ia mendapat sambutan kritis dari sebagian suporter yang meneriakkan ‘FIFA Mafia’. Masa depan kompetisi ini masih belum jelas dan sangat bergantung pada arah kebijakan presiden FIFA yang baru, jika memang terjadi perubahan.

Kontroversi yang Membayangi: Rencana Investasi dan Skorsing Pemain

Kepemimpinan Gianni Infantino tidak lepas dari kontroversi. Rencana investasi swasta senilai 20 miliar dolar AS untuk Piala Dunia menuai protes keras dan akhirnya dibatalkan hanya beberapa hari setelah diumumkan. Selain itu, keputusan FIFA yang membatalkan skorsing untuk penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, selama Piala Dunia 2026 juga memicu reaksi negatif. Skandal etika yang membelit Infantino juga terus menjadi sorotan, namun ia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak mundur.

Kesimpulan

Dengan batas akhir pendaftaran calon presiden FIFA yang tinggal sebulan lagi, Gianni Infantino berada di posisi yang sangat kuat. Namun, perlawanan dari UEFA dan AFC, serta kemungkinan munculnya kandidat kejutan seperti Arsene Wenger, masih bisa mengubah peta persaingan. Satu hal yang pasti, pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027 akan menjadi momen krusial yang menentukan arah sepak bola global untuk tahun-tahun mendatang. Apakah Infantino akan kembali berkuasa atau justru terguling? Jawabannya akan segera terungkap.

Exit mobile version