FaktaHari – 10 Oktober 2026 | Jakarta, 9 Oktober 2026 – Kekalahan dramatis Timnas Thailand dari Indonesia di final FIFA ASEAN Cup 2026 menyisakan banyak pertanyaan. Di balik adu penalti yang memilukan, perhatian publik kini tertuju pada peran dan strategi asosiasi sepak bola Thailand (FAT) dalam menghadapi tekanan politik sepak bola global. Kehadiran Presiden FIFA Gianni Infantino di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang menyaksikan langsung Indonesia juara, memicu spekulasi bahwa turnamen ini bukan sekadar ajang olahraga.
Menurut laporan media Inggris, The Guardian, kemenangan Indonesia justru menjadi ‘hadiah politik’ bagi Infantino yang tengah membangun basis dukungan di Asia Tenggara menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027. Dalam konteks ini, asosiasi sepak bola Thailand dinilai gagal memanfaatkan turnamen untuk memperkuat posisi tawar mereka di kancah internasional. Kekalahan di final tidak hanya mencoreng prestasi, tetapi juga menunjukkan kelemahan diplomasi sepak bola Thailand di hadapan kekuatan politik FIFA.
Media Inggris itu menyoroti bagaimana Infantino telah mengunjungi beberapa negara Asia, termasuk Makau, Mongolia, dan Uzbekistan, sebelum akhirnya hadir di Jakarta. Di Indonesia, ia disambut hangat oleh Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Sementara itu, di final ASEAN Challenge Cup di Hong Kong, Infantino justru mendapat cemoohan dari penonton. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan politik dari asosiasi sepak bola Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya bagi Infantino.
Kegagalan Thailand di FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF 2026 membuat asosiasi sepak bola Thailand kini memburu gelar King’s Cup 2026 yang akan digelar pada 9-17 November mendatang. Turnamen ini diinisiasi oleh FAT dan diikuti oleh Oman, Bahrain, dan Tajikistan. Wakil kapten Thailand, Sarach Yooyen, menyatakan bahwa timnya sangat termotivasi untuk meraih trofi di kandang sendiri setelah dua kali menjadi runner up. “Kami sempat kecewa dua kali sebelumnya. Ini adalah peluang besar untuk menjuarai turnamen ini di hadapan pendukung sendiri,” ujarnya.
Namun, tantangan tidak hanya datang dari lawan di lapangan. Tekanan politik dari FIFA juga membayangi setiap langkah asosiasi sepak bola Thailand. Infantino dilaporkan telah mendapatkan dukungan dari lebih dari 200 anggota FIFA, tetapi masih ada beberapa federasi yang menolak atau menunda dukungan. Dalam situasi ini, Thailand harus pintar-pintar menjaga hubungan dengan Infantino tanpa kehilangan muka di mata negara-negara ASEAN lainnya.
Kesimpulannya, kegagalan Thailand di FIFA ASEAN Cup bukan sekadar soal taktik di lapangan, melainkan juga cerminan dinamika politik sepak bola global. Asosiasi sepak bola Thailand kini berada di persimpangan: antara tetap setia pada Infantino atau membangun otonomi di kawasan. King’s Cup 2026 akan menjadi ujian pertama bagi Thailand untuk membuktikan bahwa mereka masih mampu bersaing, baik di dalam maupun luar lapangan.
