Utang di Balik Layar: Dari Stres Finansial hingga Aksi Kriminal yang Mengguncang Jember

Utang di Balik Layar: Dari Stres Finansial hingga Aksi Kriminal yang Mengguncang Jember
Utang di Balik Layar: Dari Stres Finansial hingga Aksi Kriminal yang Mengguncang Jember

FaktaHari – 24 Oktober 2026 | Utang bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan beban yang dapat merambat ke berbagai aspek kehidupan. Tekanan finansial akibat utang sering kali menjelma menjadi stres berkepanjangan, bahkan mendorong seseorang mengambil jalan pintas yang berujung pada tindak kriminal. Fenomena ini terekam dalam sejumlah peristiwa dan kajian terkini yang menyoroti sisi gelap di balik jerat utang.

Sebuah analisis psikologis mengungkap bahwa utang dan minimnya dana cadangan membuat pengeluaran kecil terasa sebagai pengorbanan, meski kebutuhan harian masih terpenuhi. Kekhawatiran tentang cicilan, tagihan, dan sisa uang menyita perhatian serta energi mental, sehingga konsentrasi dan pengambilan keputusan ikut terganggu. Dalam buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much (2013), ekonom perilaku Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir menjelaskan bahwa keterbatasan membuat seseorang lebih memperhatikan apa yang harus dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Ketika ruang cadangan menipis, hampir setiap transaksi berubah menjadi pertukaran antara satu kebutuhan dan kebutuhan lainnya. Akibatnya, utang tak hanya membebani dompet, tetapi juga menguras energi mental.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati fenomena lipstick effect dalam penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater. Fenomena ini menggambarkan kecenderungan masyarakat membeli barang konsumtif bernilai relatif kecil demi kepuasan emosional di tengah tekanan ekonomi. Kepala Eksekutif Pengawas Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan bahwa pihaknya terus memantau perubahan perilaku konsumsi masyarakat, termasuk fenomena lipstick effect, dalam perkembangan penggunaan BNPL. Data OJK menunjukkan pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,61 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 36,57% secara tahunan. OJK pun meminta perusahaan pembiayaan memperkuat prinsip kehati-hatian, terutama dalam menilai kemampuan bayar debitur dan mengelola risiko pembiayaan. Pembelian kecil yang dilakukan berulang kali melalui paylater dapat menambah kewajiban cicilan konsumen, sehingga utang pun menggendut tanpa disadari.

Tekanan utang yang tidak terkendali dapat berujung pada tindakan nekat. Di Jember, dua pria merampok dan membacok pemilik toko emas karena terlilit utang judi online sebesar Rp80 juta. Peristiwa berdarah ini terjadi pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 08.00 WIB, saat toko baru hendak beroperasi. Dua pelaku yang mengenakan masker dan jaket bertudung langsung masuk dan menyerang pemilik toko menggunakan celurit. Sang ibu mengalami luka bacok di kepala, sementara anak laki-lakinya terkena sabetan pada bagian tangan. Usai melukai korban, pelaku menggasak sebuah tas dan melarikan diri menggunakan mobil Toyota Yaris putih bernomor polisi G 1217 EG. Dalam pelariannya, mobil pelaku nyaris menyapu rombongan anak sekolah yang tengah menyeberang jalan di depan Masjid Jamik kawasan Alun-alun Jember.

Kapolres Jember AKBP Alaiddin mengungkapkan bahwa motif utama di balik aksi perampokan ini adalah himpitan ekonomi akibat utang judi. Pelaku tercatat memiliki tanggungan utang sekitar Rp80 juta. “Untuk motifnya masih tahap pemeriksaan, bahwasanya pelaku mempunyai utang, besarnya sekitar Rp80 juta, sehingga membuat dia melakukan perampokan ini untuk melunasi utangnya,” kata Alaiddin, Jumat (23/10/2026). Meskipun pelaku dan korban tidak saling mengenal, pelaku telah merencanakan aksi tersebut jauh-jauh hari. Polisi berhasil meringkus pelaku di wilayah Banyuwangi kurang dari 1×24 jam setelah kejadian. Pelaku dijerat dengan Pasal 471 ayat (2) huruf c dan d Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman hukuman penjara minimal 9 tahun dan maksimal 12 tahun.

Selain itu, gejolak indeks MSCI berisiko menekan nilai tukar rupiah hingga biaya utang pemerintah. Ketidakpastian pasar global dapat memperburuk kondisi fiskal dan meningkatkan beban pembayaran bunga utang negara. Meski demikian, pendapatan dan laba emiten tumbuh, dan OJK menilai pasar modal tetap kuat. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat tekanan eksternal dapat memengaruhi stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Dari tekanan psikologis hingga aksi kriminal, utang memang memiliki daya rusak yang luas. Stres finansial yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu keputusan irasional, sementara kemudahan akses paylater dan judi online memperparah kondisi. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan, menghindari utang konsumtif, dan mencari bantuan profesional jika terjerat masalah finansial. Pemerintah dan otoritas terkait juga perlu memperkuat literasi keuangan serta pengawasan terhadap layanan pembiayaan agar utang tidak menjadi bom waktu yang merugikan banyak pihak.

Exit mobile version