FaktaHari – 11 Oktober 2026 | Pasar modal global diguncang fenomena baru yang mempertemukan dunia taruhan daring dengan saham-saham unggulan. Platform prediksi seperti Polymarket dan Kalshi mulai menawarkan kontrak yang terkait langsung dengan pergerakan saham raksasa teknologi Amerika Serikat, seperti Apple, Tesla, dan Nvidia. Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan regulator dan pelaku pasar karena batas antara pasar prediksi dan pasar modal konvensional mulai kabur.
Menurut analisis perusahaan riset blockchain Allium, Polymarket International telah meluncurkan pasar terkait saham individual sejak Oktober 2025. Hingga awal September 2026, nilai taruhan yang dipasang pengguna mencapai lebih dari 220 juta dolar AS di sekitar 31.000 pasar ekuitas. Hampir 60 persen aktivitas tersebut berkaitan dengan pergerakan saham individual, dengan Nvidia, Alphabet, Apple, dan Tesla sebagai yang paling diminati. Sisanya terkait exchange-traded fund (ETF) atau indeks saham. Di sisi lain, Kalshi tidak menawarkan kontrak saham individual, tetapi menyediakan sekitar 2.500 pasar yang berkaitan dengan indikator kinerja perusahaan, seperti peluncuran iPhone dan pengiriman kendaraan Tesla.
Para ahli hukum memperingatkan pertumbuhan kontrak berbasis saham ini berpotensi memengaruhi perdagangan aset yang mendasarinya dan menyulitkan pengawasan pasar. Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Vanderbilt, Yesha Yadav, menyebut fenomena ini sebagai babak baru dalam struktur pasar yang membutuhkan respons regulator yang sigap dan kreatif. Polymarket dan Kalshi sendiri mengklaim telah memantau potensi pelanggaran dan merujuk kasus kepada otoritas AS, serta memblokir pengguna AS dari platform internasionalnya.
Sementara itu, di dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) justru memperkuat agenda reformasi pasar modal dalam 100 hari pertama kepemimpinan Direksi periode 2026–2030. Langkah tersebut mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, perbaikan kualitas perdagangan, penguatan persyaratan perusahaan tercatat, serta perluasan instrumen investasi. Salah satu kebijakan penting adalah penurunan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1, efektif sejak 28 September 2026, yang disertai penyesuaian batas auto rejection untuk mendukung aktivitas perdagangan.
Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Eduardus Tandelilin, menilai arah kebijakan Direksi baru BEI sudah tepat, terutama dalam memperkuat kredibilitas dan kualitas perdagangan. Ia menekankan bahwa transparansi kepemilikan, tata kelola, ketersediaan saham publik, dan integritas pembentukan harga merupakan faktor penting untuk meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di mata investor global.
Dalam rangka mendukung reformasi tersebut, BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memperkaya data kepemilikan saham dengan informasi yang lebih terperinci. Data kini mencakup 39 klasifikasi dan tipe investor, serta informasi tambahan berupa kepemilikan lokal dan asing. Informasi ini didistribusikan secara konsisten setiap tanggal 2 bulan berikutnya melalui website BEI, memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai struktur kepemilikan saham perusahaan tercatat.
Di sisi lain, Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mendorong penguatan kolaborasi Indonesia dengan Singapura untuk memperluas konektivitas pasar modal dan meningkatkan kepercayaan investor global. Dalam diskusi bersama jajaran Singapore Exchange (SGX) Group di SGX Centre, Singapura, Ibas menekankan pentingnya membangun hubungan pasar yang lebih kuat, memperluas pemahaman antara investor dan perusahaan, serta membuka peluang kerja sama di berbagai sektor, termasuk edukasi investor, riset pasar, dan pengembangan teknologi.
Namun, di tengah upaya reformasi dan penguatan konektivitas, pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan. Data BEI menunjukkan modal asing senilai Rp2,44 triliun keluar dari pasar saham RI dalam sepekan (5–9 Oktober 2026). Hampir setiap hari asing melakukan aksi jual bersih, kecuali pada Jumat (9/10) yang mencatat net buy tipis sebesar Rp30,40 miliar. Secara year to date, dana asing tercatat masih capital outflow sebesar Rp84,99 triliun per Jumat (9/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri ditutup menguat 0,94% ke 6.093,76 selama sepekan, meskipun pergerakannya diwarnai fluktuasi tajam akibat aksi ambil untung dan sentimen global.
Kesimpulannya, pasar modal Indonesia saat ini berada di persimpangan antara peluang dan tantangan. Di satu sisi, reformasi domestik dan penguatan konektivitas regional terus digenjot untuk meningkatkan daya saing. Di sisi lain, fenomena baru seperti kontrak prediksi saham global dan arus keluar modal asing menjadi ujian nyata bagi ketahanan pasar. Regulator dan pelaku pasar dituntut untuk terus waspada dan beradaptasi agar pasar modal Indonesia tetap kredibel, likuid, dan kompetitif di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
