FaktaHari – 30 Oktober 2026 | Nama Arab Saudi kembali menjadi sorotan dunia, bukan karena prestasi di lapangan hijau, melainkan karena rentetan kontroversi yang mencoreng citranya. Dalam beberapa hari terakhir, negara kerajaan itu terseret dalam tiga peristiwa berbeda: krisis sepak bola di Piala Teluk, insiden kriminal oleh warganya di Bali, dan komentar pedas legenda Manchester United terhadap pemain yang dikaitkan dengan klub Arab Saudi. Ketiganya menyajikan potret buram tentang bagaimana Arab Saudi dihadapkan pada ujian reputasi di kancah internasional.
Krisis Piala Teluk: Al Ettifaq Dinyatakan Kalah WO
Badai pertama datang dari turnamen Liga Champions Teluk edisi ke-27. Federasi Piala Teluk untuk Sepakbola secara mengejutkan memutuskan bahwa klub asal Arab Saudi, Al Ettifaq, dianggap mengundurkan diri dari pertandingan melawan Erbil dari Irak. Alhasil, Al Ettifaq dinyatakan kalah 0-3 tanpa bertanding. Keputusan ini diambil setelah federasi menolak penundaan pertandingan, sementara pihak Al Ettifaq beralasan tidak dapat melakukan perjalanan ke Irak karena kondisi tertentu.
Keputusan tersebut memicu kemarahan jurnalis senior Arab Saudi, Badr Al Saqri. Dalam wawancara dengan program Nadeena di MBC 1, ia menyebut sikap federasi sebagai “tidak bertanggung jawab” dan “kebodohan”. Al Saqri bahkan menilai Federasi Piala Teluk mengalami kemunduran tiga puluh tahun dan terus terjebak dalam kegagalan yang mengakar. Ia juga menyinggung skandal-skandal lain pada Piala Teluk Arab yang baru-baru ini digelar di Arab Saudi, seperti krisis harga tiket, saluran penyiaran, dan regulasi yang dianggap aneh. Krisis ini tidak hanya menodai perebutan gelar, tetapi juga mempertanyakan profesionalisme federasi regional.
Insiden Kriminal di Bali: Dua WN Arab Saudi Menusuk Tiga Orang
Di sisi lain, dunia hukum Indonesia digegerkan oleh ulah dua warga negara Arab Saudi, AMA (29) dan FMA (35), yang menusuk tiga orang di depan sebuah kelab malam di Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali. Peristiwa bermula dari perselisihan di dalam kelab yang berujung pada pengusiran kedua pelaku. Namun, keributan berlanjut di luar kelab. Seorang pengendara ojek online berinisial JKN yang mencoba melerai justru menjadi korban penusukan oleh AMA. Rekan JKN, EBG, juga terkena tusukan, sementara FMA menusuk seorang satpam hotel berinisial KD.
Kapolresta Denpasar, Kombes I Wayan Winaya, mengungkapkan bahwa kedua pelaku menggunakan pisau lipat yang diselundupkan ke dalam kelab. Polisi masih berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Arab Saudi untuk mendalami asal senjata tersebut. AMA dan FMA datang ke Bali dengan visa turis sejak September 2026 dan kini dijerat Pasal 466 ayat 2 tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara. Insiden ini menambah daftar panjang kasus kriminal yang melibatkan warga asing di Bali, sekaligus menjadi pukulan bagi citra Arab Saudi di mata wisatawan dan masyarakat lokal.
Komentar Pedas Paul Scholes: Bruno Fernandes Diminta ke Arab Saudi
Di ranah sepak bola Eropa, legenda Manchester United, Paul Scholes, melontarkan kritik tajam kepada kapten MU, Bruno Fernandes. Scholes meminta gelandang Portugal itu untuk meninggalkan Eropa dan melanjutkan karier di Arab Saudi. Pernyataan ini muncul setelah Fernandes dikabarkan mengkritik taktik pelatih interim Michael Carrick usai kekalahan telak 1-4 dari Como di Liga Champions. Fernandes kemudian tidak dimasukkan dalam starting XI saat MU menghadapi Bournemouth, memicu spekulasi tentang masa depannya.
Meskipun Carrick dan Fernandes dilaporkan telah berdiskusi untuk menyelesaikan masalah, Scholes tetap keras. Dalam podcast The Good, The Bad and The Football, ia menilai komentar Fernandes telah merusak kepercayaan sebagai kapten. Sindiran Scholes agar Fernandes pindah ke Arab Saudi bukan hanya soal performa, tetapi juga cerminan bagaimana liga di Arab Saudi kini dipandang sebagai tujuan alternatif bagi pemain yang dianggap sudah tidak lagi bersinar di Eropa. Meski demikian, pernyataan ini justru menempatkan Arab Saudi sebagai simbol dari narasi “pensiun dini” bagi pesepakbola yang kontroversial.
Ketiga peristiwa ini menunjukkan bahwa Arab Saudi tengah menghadapi tantangan multidimensi: dari kegagalan diplomasi olahraga di tingkat regional, masalah hukum warganya di luar negeri, hingga stereotip di dunia sepak bola Eropa. Krisis Piala Teluk menyoroti lemahnya koordinasi federasi, insiden Bali mencoreng keamanan dan citra wisata, sementara komentar Scholes menegaskan bahwa Arab Saudi masih dipandang sebagai “tempat pembuangan” bagi pemain bermasalah. Bagaimana pemerintah dan federasi Arab Saudi merespons tiga skandal ini akan menentukan arah reputasi negara tersebut di masa depan. Yang jelas, sorotan terhadap Arab Saudi tidak akan surut dalam waktu dekat.
