Berita  

Pengemudi Pajero Tabrak Remaja hingga Tewas, Antrean BBM dan Kisah Ojol Mewarnai Dinamika Pengemudi di Indonesia

Pengemudi Pajero Tabrak Remaja hingga Tewas, Antrean BBM dan Kisah Ojol Mewarnai Dinamika Pengemudi di Indonesia
Pengemudi Pajero Tabrak Remaja hingga Tewas, Antrean BBM dan Kisah Ojol Mewarnai Dinamika Pengemudi di Indonesia

FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Seorang pengemudi Mitsubishi Pajero berinisial ADP (26) menabrak pejalan kaki berinisial ATM (14) hingga tewas di Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Minggu (18/10) sekitar pukul 01.30 WIB. Kecelakaan itu juga melibatkan dua mobil lain setelah pengemudi menghantam korban. Peristiwa ini menambah deretan panjang dinamika yang dihadapi para pengemudi di Indonesia, mulai dari keselamatan berkendara hingga tekanan ekonomi yang menghimpit.

Menurut Kasi Laka Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Kharisma Arbita Bangsa, kronologi bermula saat Pajero bernomor polisi L-1583-FP melaju dari arah barat ke timur. Mobil itu menabrak korban yang sedang berjalan di sisi kiri jalan, lalu menghantam Toyota Avanza yang terparkir dan Hyundai yang melaju searah di depannya. Korban meninggal dunia setelah dilarikan ke RS Fatmawati karena luka di bagian kepala. Polisi masih menyelidiki penyebab kecelakaan dan telah mengamankan mobil sebagai barang bukti.

Di sisi lain, tekanan ekonomi juga dirasakan oleh pengemudi ojek online. Taufik, 26 tahun, mantan driver ojol di Medan, memutuskan beralih profesi setelah pendapatannya menurun drastis pada 2024-2025. Selama enam tahun mengaspal, ia mengaku ribuan penumpang telah memberinya inspirasi untuk menulis. Kini ia membangun penerbitan indie dan telah menerbitkan novel pertamanya berjudul Dibesarkan untuk Kuat (Bukan untuk Hidup) pada akhir 2025. Kisah Taufik menunjukkan bagaimana pengemudi dituntut adaptif menghadapi perubahan zaman.

Namun, tidak semua pengemudi memiliki pilihan untuk beralih. Di Bali, antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) membuat Ayu Suci, pengemudi ojol sejak 2017, kelelahan. Ia harus mengantre hingga lima jam, yang membuat pendapatannya turun dari sekitar Rp200 ribu menjadi Rp50 ribu per hari. Akademisi Hukum Tata Negara dan HAM, Bivitri Susanti, menilai kelangkaan BBM yang menghambat mobilitas dan pekerjaan warga dapat menjadi pelanggaran kewajiban konstitusional negara dalam memenuhi HAM. Ia menekankan pentingnya pengawasan DPR dan Ombudsman untuk mengusut krisis ini.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, para pengemudi juga perlu menjaga kesehatan selama berkendara. Duduk terlalu lama saat macet dapat memicu pegal pada leher, bahu, punggung, tangan, dan kaki. Ada beberapa gerakan ringan yang bisa dilakukan saat kendaraan berhenti aman, seperti putaran bahu 8-10 kali, peregangan jari dan pergelangan tangan, serta gerakan pergelangan kaki 10-15 kali. Gerakan ini membantu mengurangi ketegangan tanpa mengganggu konsentrasi mengemudi. Namun, peregangan bukan pengganti istirahat setelah perjalanan panjang.

Dari rangkaian peristiwa ini, terlihat bahwa menjadi pengemudi bukan sekadar mengendarai kendaraan. Pengemudi menghadapi risiko kecelakaan, tekanan ekonomi, krisis energi, dan tantangan kesehatan. Keselamatan berlalu lintas harus menjadi prioritas utama, sementara pemerintah perlu memastikan ketersediaan BBM dan menciptakan iklim ekonomi yang kondusif bagi pekerja sektor transportasi. Kisah Taufik membuktikan bahwa pengemudi bisa bertransformasi, tetapi diperlukan dukungan agar mereka tidak terjebak dalam sistem yang menghimpit. Pada akhirnya, perlindungan terhadap pengemudi adalah investasi bagi mobilitas dan perekonomian bangsa.

Exit mobile version