FaktaHari – 15 Oktober 2026 | Jakarta terus bergerak maju dengan sederet proyek ambisius yang mengubah wajah ibu kota. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah revitalisasi kawasan Blok M yang akan diintegrasikan dengan stasiun MRT Jakarta. Proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari strategi besar untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global kelas dunia pada 2030.
PT MRT Jakarta (Perseroda) memaparkan rencana revitalisasi Blok M yang mencakup lima transformasi utama. Pertama, transformasi terminal bus menjadi lebih modern dan terintegrasi. Kedua, pengembangan kawasan mixed-use yang menggabungkan hunian, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Ketiga, integrasi kawasan dengan stasiun MRT Jakarta melalui jembatan penyeberangan khusus. Keempat, pengembangan area komersial yang lebih hidup. Kelima, transformasi ruang terbuka publik seperti Taman Literasi yang akan menjadi ikon baru.
Dalam desain yang dirilis, kawasan Blok M akan dilengkapi rooftop podium dengan pemandangan langsung ke Taman Literasi. Sebuah jembatan penyeberangan akan menyambungkan stasiun MRT Jakarta dengan terminal bus, memudahkan perpindahan moda transportasi. Proyek ini ditargetkan rampung pada 2029, dimulai dari area terminal dan retail.
Sementara itu, Dinas Perhubungan DKI Jakarta mulai menerapkan rekayasa lalu lintas di Jakarta Pusat sejak 22 April 2026 hingga 30 Januari 2027. Langkah ini dilakukan untuk mendukung pengerjaan Penempatan Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 150kV Proyek MRT Fase 205. Lokasi pengerjaan meliputi Jalan Tenaga Listrik, Jalan K.H. Mas Mansyur, Jalan H. Fachrudin, Jalan Abdul Muis, Jalan Budi Kemuliaan, hingga Jalan Medan Merdeka Selatan. Kepala Dishub DKI Jakarta, Budi Awaludin, mengimbau pengguna jalan untuk mematuhi aturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan.
Proyek MRT Jakarta juga mendapat dukungan pendanaan yang signifikan. Dalam RAPBD DKI Jakarta 2027 yang diajukan sebesar Rp82,89 triliun, anggaran infrastruktur mencapai Rp31 triliun atau 41,43 persen dari total belanja daerah. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyatakan bahwa alokasi ini melampaui batas minimal 40 persen yang ditetapkan. Anggaran tersebut akan digunakan untuk berbagai proyek, termasuk pengembangan MRT Jakarta dan transportasi publik lainnya.
Sinergi antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi kunci percepatan pembangunan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menekankan bahwa transformasi Jakarta menuju Top 50 Global City pada 2030 membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem perkotaan. “Pembangunan Jakarta tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi dari seluruh ekosistem kota,” ujarnya dalam penandatanganan kerja sama strategis di Balai Kota DKI Jakarta.
Bank Jakarta turut berperan dengan menjalin kerja sama strategis bersama BUMD, BUMN, dan perangkat daerah. Total potensi nilai kerja sama mencapai Rp5,87 triliun, mencakup pembiayaan perumahan bagi pekerja sektor informal, elektrifikasi armada Transjakarta, hingga pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas. Khusus untuk MRT Jakarta, Bank Jakarta menyediakan fasilitas kredit Rp220 miliar dengan jangka waktu 15 tahun untuk pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas yang akan menghubungkan stasiun MRT dengan kawasan sekitar.
Dengan berbagai proyek ini, MRT Jakarta tidak hanya menjadi moda transportasi, tetapi juga katalisator transformasi perkotaan. Revitalisasi Blok M, rekayasa lalu lintas untuk proyek SKTT, dan dukungan pendanaan yang kuat menunjukkan komitmen pemerintah untuk mewujudkan Jakarta yang lebih terintegrasi, modern, dan berkelanjutan.
Ke depan, masyarakat dapat menantikan kawasan Blok M yang lebih hidup dan terhubung langsung dengan MRT Jakarta. Proyek ini diharapkan meningkatkan kualitas hidup warga, mengurangi kemacetan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Transformasi Jakarta menuju kota global bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang sedang dibangun hari ini.
