FaktaHari – 14 Oktober 2026 | Ketegangan di perairan Teluk Oman kembali memuncak setelah militer Amerika Serikat melumpuhkan sebuah kapal kargo komersial yang diduga melanggar blokade. Insiden ini menjadi babak baru dalam konflik yang melibatkan Iran dan negara-negara Barat, sekaligus memperparah krisis pasokan energi global yang sudah tercekik. Teluk Oman, yang menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah, kini berubah menjadi medan pertempuran yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Pada 10 Oktober lalu, sebuah jet tempur AS menembak kapal kargo berbendera Panama bernama M/V Ocean Molica di Teluk Oman. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan presisi itu menghantam bagian buritan kapal, melumpuhkan sistem propulsi dan membuat kapal tidak dapat melanjutkan pelayaran. Seluruh awak kapal, yang sebagian besar berasal dari India, dilaporkan selamat tanpa cedera. Rekaman video yang beredar menunjukkan kobaran api dan kepulan asap tebal membubung dari kapal yang terhenti di tengah laut.
Menurut CENTCOM, kapal tersebut meninggalkan sebuah pelabuhan di Iran dan mengabaikan peringatan berulang kali untuk berhenti. Sejak blokade laut diberlakukan kembali pada 14 Juli, ini adalah kapal komersial keempat yang dilumpuhkan pasukan AS. Sebanyak 135 kapal lainnya dilaporkan dipaksa berbalik arah. Langkah keras ini merupakan respons atas meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya, yang oleh analis dikaitkan dengan upaya Iran untuk memulihkan pengaruhnya atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Sejak akhir September, lebih dari selusin serangan telah terjadi terhadap kapal di Selat Hormuz, yang mengurangi volume minyak yang melewati selat dan menjaga harga minyak mentah tetap di atas 100 dolar AS per barel. Iran menganggap Selat Hormuz sebagai ‘garis merah strategis’ dan terus memperluas jangkauan targetnya di Teluk. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu November, namun menegaskan prinsip navigasi bebas di perairan internasional tidak dapat diganggu gugat.
Di sisi lain, penumpukan pasokan minyak mentah berat di Amerika Utara dan Selatan semakin membelah dua pasar minyak global. Biaya pengiriman yang tinggi, dipicu oleh kelangkaan kapal tanker akibat kegiatan pemindahan muatan antar kapal di Teluk Oman, telah menekan ekspor. Kilang-kilang di AS sudah mendekati batas kapasitasnya, sementara pembeli di Asia dan Eropa kelimpungan mencari pasokan. Harga acuan minyak mentah kini melampaui 100 dolar AS per barel, setara dengan lebih dari Rp1,79 juta.
Seorang pakar energi di TP ICAP, Scott Shelton, menekankan bahwa titik masalahnya adalah biaya pengiriman. Biaya sewa kapal tanker raksasa dari Pantai Teluk AS ke Asia telah bertambah lebih dari lima kali lipat sejak Februari, saat kegiatan pemindahan muatan di Teluk Oman menyebabkan kapal-kapal di seluruh dunia tertahan. Akibatnya, harga minyak mentah berat andalan Kanada, Kolombia, dan Ekuador turun lebih dari 10 dolar AS per barel, diperdagangkan pada level terendah dalam enam minggu terakhir.
Ketegangan di Teluk Oman dan Selat Hormuz tidak hanya mengancam pasokan energi global, tetapi juga memicu kekhawatiran akan terganggunya pelayaran komersial. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dunia harus melewati Selat Hormuz. Dengan blokade yang semakin ketat dan serangan yang terus berlanjut, harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi, sementara negara-negara pengimpor seperti di Asia dan Eropa harus bersiap menghadapi masa sulit.
Dalam situasi yang semakin genting ini, dunia menanti langkah selanjutnya dari Teheran dan Washington. Apakah diplomasi akan menemukan celah, atau justru konflik akan semakin meluas? Yang jelas, perairan Teluk Oman kini menjadi saksi bisu pertarungan pengaruh yang bisa menentukan arah ekonomi global ke depan.
