FaktaHari – 20 Juli 2026 | Menteri Israel ikut aksi massa tuntut pemukiman kembali di Gaza dalam demonstrasi besar-besaran di perbatasan Gaza pada Minggu (19/7/2026). Ribuan warga Israel, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, menerobos zona militer tertutup untuk menuntut pembangunan kembali pemukiman Yahudi di Gaza utara, seperti Elei Sinai, Dugit, dan Nisanit. Aksi ini disponsori oleh kelompok pemukim sayap kanan Nachala dan dihadiri 28 menteri dan anggota parlemen dari koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menteri Israel ikut aksi massa tuntut pemukiman kembali di Gaza ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat. Hanya sehari sebelumnya, drone Israel menghantam prosesi pemakaman di Nuseirat, Gaza, menewaskan delapan warga dan melukai 20 lainnya, meskipun gencatan senjata tahap pertama masih berlaku. Serangan tersebut memicu kemarahan internasional dan memperkuat protes di Inggris, di mana ribuan warga mendesak Perdana Menteri baru Andy Burnham untuk menghentikan agresi Israel dan memberlakukan embargo senjata.
Sementara itu, parlemen Israel (Knesset) resmi dibubarkan pada 17 Juli 2026, memicu pemilu pada 27 Oktober. Pembubaran ini dianggap sebagai referendum terhadap kepemimpinan Netanyahu, yang terjerat perang di Gaza, Lebanon, dan Iran. Koalisi garis kerasnya memanfaatkan momen untuk meloloskan undang-undang kontroversial, termasuk pendanaan kampanye, guna mengamankan basis suara.
Menteri Israel ikut aksi massa tuntut pemukiman kembali di Gaza juga mendapat sorotan dari PBB. Badan-badan kemanusiaan melaporkan bahwa aktivitas militer Israel terus memaksa warga Gaza mengungsi, sementara kekerasan pemukim di Tepi Barat menyebabkan 55 persen luka-luka warga Palestina pada 2026. OCHA menegaskan bahwa warga Palestina harus dilindungi sesuai hukum humaniter internasional.
Di tengah semua ini, tuntutan pemukiman kembali di Gaza menuai kecaman luas. Jeremy Corbyn, politisi Inggris pro-Palestina, menyatakan dalam aksi di London bahwa mereka tidak akan berhenti berkampanye untuk pembebasan Palestina. Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, menyerukan keadilan dan akuntabilitas. Sementara itu, Menteri Israel ikut aksi massa tuntut pemukiman kembali di Gaza menandakan semakin kuatnya pengaruh kelompok sayap kanan dalam pemerintahan Israel, yang justru memperumit prospek perdamaian.
Dengan pemilu yang akan datang, masa depan Gaza dan stabilitas kawasan masih belum jelas. Tekanan internasional dan krisis kemanusiaan yang terus berlangsung menuntut solusi segera, namun langkah Israel yang kontroversial justru memperlebar jurang konflik.
