FaktaHari – 10 Oktober 2026 | Persaingan mobil listrik di Indonesia semakin memanas. Produsen asal China, BYD, berhasil menyalip Honda dalam daftar merek mobil terlaris hingga September 2026. Sementara itu, Suzuki resmi meluncurkan mobil listrik murah e-Sky dengan harga mulai Rp 170 jutaan dan jarak tempuh 310 km. Di sisi lain, kekhawatiran akan keselamatan baterai mobil listrik pascabenturan menjadi sorotan, terutama setelah serangkaian insiden kebakaran yang melibatkan baterai lithium-ion.
Berdasarkan data penjualan terbaru, BYD mencatatkan lonjakan penjualan signifikan berkat model-model listriknya yang kompetitif. Pencapaian ini menandai pergeseran preferensi konsumen Indonesia yang mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan. Suzuki e-Sky, dengan harga terjangkau berkat subsidi pemerintah Jepang, menawarkan solusi mobilitas perkotaan yang efisien. Mobil listrik ini menggunakan baterai LFP berkapasitas 26 kWh yang dikembangkan bersama BYD, mampu menempuh jarak hingga 310 km dalam sekali pengisian.
Namun, di tengah euforia adopsi mobil listrik, muncul kekhawatiran baru terkait keamanan baterai. Ahli keselamatan mengingatkan bahwa baterai lithium-ion pada mobil listrik rentan mengalami thermal runaway jika mengalami benturan keras. Tanda-tanda kerusakan meliputi panas abnormal, bau kimia menyengat, suara mendesis, atau asap dari bawah kendaraan. Jika gejala ini muncul, pengemudi diminta segera menjauh dan menghubungi layanan darurat.
Perbedaan karakteristik kebakaran antara mobil listrik dan mobil bensin juga perlu dipahami. Pada mobil listrik, api dapat merambat antarsel baterai dan menyala kembali setelah padam, sehingga membutuhkan pendinginan khusus. Sementara itu, kebakaran mobil bensin lebih mudah dipadamkan karena sumbernya adalah bahan bakar cair. Meski demikian, keduanya sama-sama berbahaya dan memerlukan penanganan profesional.
Pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan ekosistem kendaraan elektrifikasi. Dalam Hydrogen Day 2026, uji jalan mobil hidrogen dari Jakarta ke Bandung digelar untuk menunjukkan alternatif bahan bakar bersih. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Prof. Eniya Listiani Dewi, menargetkan ketersediaan hidrogen hijau hampir 200 ton per tahun pada 2026 sebagai fondasi pasar awal.
PLN Indonesia Power turut berperan dengan mengoperasikan 12 unit Green Hydrogen Plant (GHP) di berbagai pembangkit. Langkah ini sejalan dengan target Net Zero Emissions (NZE) 2060. Namun, pengembangan infrastruktur pengisian dan kesadaran keselamatan publik tetap menjadi tantangan utama.
Kesimpulannya, masa depan mobil listrik di Indonesia cerah dengan hadirnya model-model terjangkau dan persaingan yang sehat. Namun, pengguna harus waspada terhadap risiko keselamatan baterai dan selalu melakukan pemeriksaan pascabenturan oleh teknisi resmi. Dengan edukasi yang tepat, transisi ke kendaraan listrik dapat berjalan aman dan berkelanjutan.
