Keracunan Massal Penerima MBG di Jember, Puluhan Alami Diare dan Mual

Keracunan Massal Penerima MBG di Jember, Puluhan Alami Diare dan Mual
Keracunan Massal Penerima MBG di Jember, Puluhan Alami Diare dan Mual

FaktaHari – 17 Juli 2026 | Jember — Peristiwa dugaan keracunan kembali mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember. Belasan penerima MBG di Jember diduga keracunan keluhkan diare hingga mual setelah mengonsumsi menu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 1 Karangsono, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari, pada Selasa (14/7/2026).

Berdasarkan data sementara yang dihimpun, korban terdiri dari tujuh murid taman kanak-kanak (TK), seorang wali murid, sejumlah siswa sekolah dasar (SD), serta beberapa balita dari Posyandu. Mereka mengeluhkan gejala seperti diare, mual, sakit perut, pusing, hingga badan terasa lemas.

Salah satu warga, Siti Munawaroh, mengaku mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap dua porsi MBG yang merupakan jatah kedua anaknya—masing-masing siswa SDN Karangsono 01 dan murid TK. Menu yang diterima berupa nasi, orek tempe, telur puyuh, tumis jagung, dan buah anggur. Siti mencium bau tidak sedap dari telur puyuh yang disajikan.

“Telurnya bau. Saya sempat mencucinya, tetapi tetap dimakan,” ujarnya, Kamis (16/7/2026). Beberapa jam setelah makan, Siti mulai diare, sakit perut, pusing, dan lemas. Keluhan serupa dilaporkan oleh penerima MBG lainnya, termasuk murid TK, siswa SD, dan balita Posyandu yang menerima makanan dari dapur SPPG 1 Karangsono.

Peristiwa inilah yang membuat belasan penerima MBG di Jember diduga keracunan keluhkan diare hingga mual menjadi sorotan. Sebagian korban telah mendapatkan penanganan medis di Klinik Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji, dan Puskesmas Paleran, Kecamatan Umbulsari. Beberapa di antaranya sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan awal.

Hingga kini, jumlah pasti korban masih dalam proses pendataan. Penyebab pasti dugaan keracunan juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan konfirmasi dari instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Program MBG sendiri bertujuan memberikan asupan gizi gratis kepada anak-anak sekolah dan balita di daerah rawan stunting. Namun, insiden belasan penerima MBG di Jember diduga keracunan keluhkan diare hingga mual ini mempertanyakan kualitas dan keamanan pangan yang disalurkan. Masyarakat berharap pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas, mulai dari investigasi hingga perbaikan sistem pengawasan makanan.

Kepala Desa Karangsono, saat dimintai tanggapan, belum memberikan pernyataan resmi. Sementara itu, pihak SPPG 1 Karangsono belum bisa dikonfirmasi. Kecurigaan awal mengarah pada pengolahan bahan pangan yang tidak higienis, terutama pada telur puyuh yang disebut berbau busuk.

Insiden ini bukan pertama kali terjadi di Jember. Sebelumnya, beberapa kasus keracunan akibat konsumsi MBG juga dilaporkan di daerah lain. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik tentang efektivitas program yang seharusnya meningkatkan kesehatan anak-anak, justru membawa dampak buruk.

Dalam kesimpulan, kasus belasan penerima MBG di Jember diduga keracunan keluhkan diare hingga mual menjadi alarm bagi pemerintah dan penyelenggara program MBG. Pengawasan ketat terhadap rantai pasok, kebersihan dapur, dan kualitas bahan pangan mutlak diperlukan. Pemerintah daerah Jember diharapkan segera mengusut tuntas dan memberikan sanksi tegas jika ditemukan kelalaian. Dengan begitu, program MBG bisa kembali berjalan dengan aman dan benar-benar bermanfaat bagi penerimanya.

Exit mobile version