FaktaHari – 21 Juli 2026 | Moody’s peringatkan risiko kredit Indonesia, tekanan fiskal mulai terlihat [titlebase] dalam pernyataan terbaru lembaga pemeringkat internasional tersebut. Wakil Presiden Sovereign Risk Moody’s Ratings, Martin Petch, mengungkapkan bahwa keseimbangan risiko bagi Indonesia kini bergerak ke arah yang lebih negatif dibandingkan beberapa bulan lalu, terutama setelah meningkatnya beban subsidi energi akibat konflik Iran.
Dalam wawancara dengan Bloomberg, Selasa (21/7/2026), Petch menjelaskan bahwa tekanan fiskal semakin nyata seiring melonjaknya subsidi energi yang mempersempit ruang fiskal pemerintah. “Kami melihat munculnya tekanan baru, terutama setelah perang Iran. Subsidi meningkat secara signifikan dan hal itu memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal pada tahun ini maupun tahun depan,” ujarnya. Moody’s peringatkan risiko kredit Indonesia, tekanan fiskal mulai terlihat [titlebase] tidak hanya dari sisi belanja, tetapi juga dari sempitnya basis penerimaan negara. Petch menilai belum ada langkah signifikan untuk memperluas basis pajak, sehingga kemampuan pemerintah membiayai program-program ambisius seperti makan siang gratis menjadi terbatas.
Salah satu area yang menjadi sorotan Moody’s adalah PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), lembaga baru yang dibentuk pada Mei lalu untuk mengawasi ekspor bahan baku. Kurangnya kejelasan mandat dan tata kelola DSI menimbulkan kekhawatiran investor akan meningkatnya intervensi negara dalam perekonomian. “Ini menambah kekhawatiran investor atas meningkatnya intervensi negara,” kata Petch. Moody’s peringatkan risiko kredit Indonesia, tekanan fiskal mulai terlihat [titlebase] juga tercermin dari kinerja pasar keuangan dalam negeri yang tertekan, dengan obligasi, rupiah, dan saham menjadi yang terburuk di kawasan.
Meski demikian, Moody’s mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memangkas anggaran program makan siang gratis di tengah meningkatnya subsidi energi untuk menjaga defisit APBN tetap dalam batas hukum. Pemerintah juga tengah meninjau anggaran untuk mencari efisiensi belanja. Namun, ke depan, Moody’s akan mencermati kecukupan cadangan devisa, kredibilitas kebijakan, kesehatan BUMN, serta tata kelola Danantara. Ekspansi fiskal tanpa reformasi penerimaan negara dinilai akan menjadi sinyal negatif bagi profil kredit Indonesia.
Sikap Moody’s kontras dengan S&P Global Ratings yang pekan lalu mempertahankan peringkat investasi Indonesia dengan outlook stabil. Sementara itu, Fitch Ratings juga menurunkan penilaiannya, menandakan perbedaan pandangan di antara lembaga pemeringkat. Moody’s peringatkan risiko kredit Indonesia, tekanan fiskal mulai terlihat [titlebase] menjadi pengingat bahwa fundamental fiskal yang lemah dan ketidakpastian kebijakan dapat mengancam daya tarik investasi.
Dengan kata lain, Indonesia berada di persimpangan. Di satu sisi, tekanan fiskal akibat subsidi energi dan program belanja besar membutuhkan reformasi penerimaan yang nyata. Di sisi lain, kejelasan arah kebijakan dan tata kelola lembaga seperti Danantara menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pasar. Moody’s akan memantau perkembangan enam hingga 12 bulan ke depan, dan keputusan mereka akan sangat bergantung pada langkah konkret pemerintah dalam memperkuat fondasi fiskal.
