Konflik Mereda, Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Peluang Diplomasi AS-Iran Disambut Pasar

Konflik Mereda, Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Peluang Diplomasi AS-Iran Disambut Pasar
Konflik Mereda, Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Peluang Diplomasi AS-Iran Disambut Pasar

FaktaHari – 29 Juli 2026 | Harga minyak dunia turun di tengah meredanya konflik AS dan Iran, memberikan angin segar bagi pasar energi global. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), harga minyak mentah Brent terkoreksi 0,34% menjadi USD 85,07 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 1,22% ke USD 81,62 per barel. Penurunan ini dipicu oleh penghentian sementara serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dan keterbukaan kedua negara untuk menjajaki jalur diplomasi.

Harga minyak dunia turun di tengah meredanya konflik AS dan Iran yang sebelumnya memicu ketegangan selama hampir dua pekan. Presiden AS Donald Trump pada Senin (27/7) menyatakan bahwa Washington tengah melakukan “pembicaraan yang baik” dengan Tehran dan masih terbuka peluang tercapainya penyelesaian konflik. Meski demikian, Trump menegaskan serangan dapat kembali dilanjutkan apabila perundingan gagal. Iran juga menyampaikan peringatan serupa terkait kemungkinan aksi balasan.

Analis IG Tony Sycamore mengatakan, untuk sementara waktu pasar menyambut positif peluang meredanya konflik sehingga tekanan terhadap harga minyak berkurang. “Untuk saat ini, harapan adanya jalan keluar telah meredakan tekanan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran atas serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Namun, situasi tetap sangat dinamis,” tulis Sycamore dalam catatannya.

Penurunan harga juga dipengaruhi oleh data yang menunjukkan penurunan ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Berdasarkan laporan Barclays, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan yang melintasi Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 24 Juli hanya mencapai rata-rata 2,9 juta barel per hari, turun tajam dari 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Hal ini mencerminkan dampak konflik terhadap arus perdagangan energi global.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri terpilih Yaman dari pemerintahan yang diakui internasional, Afrah al-Zouba, mengatakan kelompok Houthi berupaya meniru kontrol Iran atas jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan memperluas pengaruhnya di Selat Bab el-Mandeb. Analis Marex Edward Meir menilai kemampuan Houthi untuk memberlakukan blokade penuh masih diragukan, mengingat Arab Saudi diperkirakan akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok tersebut.

Di sisi lain, penghentian sementara operasi militer AS di Selat Hormuz diusulkan oleh Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, yang menilai serangan telah mencapai batas efektivitasnya. Keputusan Trump untuk menunda pemboman memberikan ruang bagi perundingan dengan Oman yang tengah berlangsung. Iran dan AS sepakat menghentikan saling serang pada Minggu (26/7), memberikan jeda bagi jalur pelayaran Teluk Persia.

Harga minyak dunia turun di tengah meredanya konflik AS dan Iran juga berdampak pada komoditas lain. Harga emas dunia naik tipis karena meredanya kekhawatiran inflasi setelah harga energi turun. Emas spot naik 0,6% ke USD 4.076,80 per ons. Namun, investor masih menanti keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan pekan ini.

Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya pasar energi terhadap dinamika geopolitik. Meski ada harapan perdamaian, para analis mengingatkan bahwa konflik masih bisa memanas sewaktu-waktu. “Faktor utama yang menahan harga minyak tidak melambung lebih tinggi saat ini adalah penurunan permintaan, khususnya dari kawasan Asia,” ujar Edward Meir. Dengan demikian, meski ada tren penurunan, kewaspadaan tetap harus dijaga.

Secara keseluruhan, harga minyak dunia turun di tengah meredanya konflik AS dan Iran memberikan optimisme sementara bagi pelaku pasar. Namun, ketidakpastian masih tinggi. Jeda ini dimanfaatkan untuk mencari solusi diplomatik yang lebih permanen demi stabilitas pasokan energi global.

Exit mobile version