FaktaHari – 29 Juli 2026 | Jurnalis Inggris mulai menyensor liputan tentang Trump, kekhawatiran keselamatan kian batasi kebebasan pers [titlebase] menjadi fenomena yang mengkhawatirkan di tengah meningkatnya intimidasi terhadap wartawan. Sebuah investigasi terbaru mengungkap bahwa hampir separuh jurnalis di Inggris mengaku kekhawatiran terhadap keselamatan memengaruhi kesediaan mereka meliput topik tertentu, termasuk pemerintahan Presiden AS Donald Trump, demonstrasi kelompok sayap kanan, dan isu transgender. Kondisi ini memicu penyensoran diri (self-censorship) yang mempersempit ruang diskusi publik.
Dilansir dari The Guardian, Selasa (28/7/2026), penelitian yang didukung pemerintah Inggris melalui Alma Economics ini merupakan salah satu kajian paling komprehensif mengenai keamanan jurnalis. Survei terhadap 531 jurnalis dan 55 wawancara mendalam menunjukkan bahwa ancaman yang sebelumnya bersifat daring kini berkembang menjadi intimidasi fisik. Sejumlah wartawan mengaku mengubah cara atau materi peliputan karena risiko yang meningkat. Fenomena jurnalis Inggris mulai menyensor liputan tentang Trump, kekhawatiran keselamatan kian batasi kebebasan pers [titlebase] ini menjadi bukti nyata tekanan yang dihadapi media arus utama.
Salah seorang jurnalis mengungkapkan, “Pasti ada saat-saat ketika muncul sebuah berita yang sebenarnya berkepentingan bagi publik dan layak diberitakan, tetapi kami berdiskusi secara terbuka mengenai apakah liputan itu benar-benar ‘sepadan’ dengan risikonya.” Jurnalis lain menggambarkan tekanan psikologis, “Saya benar-benar terus melihat ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti saya dan memastikan tidak ada orang yang mulai meneriakkan sesuatu kepada saya.” Situasi ini memperkuat temuan bahwa jurnalis Inggris mulai menyensor liputan tentang Trump, kekhawatiran keselamatan kian batasi kebebasan pers [titlebase] bukan sekadar isu individual, melainkan sistemik.
Investigasi juga menemukan bahwa sekitar sepertiga responden telah mengubah cara peliputan akibat intimidasi. Redaksi kerap mempertimbangkan apakah suatu liputan “layak” diterbitkan jika konsekuensinya membahayakan reporter. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dalam proses editorial yang dipengaruhi oleh faktor keselamatan. Fenomena jurnalis Inggris mulai menyensor liputan tentang Trump, kekhawatiran keselamatan kian batasi kebebasan pers [titlebase] pun semakin mengkhawatirkan karena dapat mengurangi kualitas informasi yang diterima publik.
Kesimpulannya, meningkatnya intimidasi terhadap jurnalis di Inggris memicu self-censorship yang mengancam prinsip kebebasan pers. Jika tidak ditangani serius, ruang demokrasi dan transparansi publik akan semakin terbatas. Penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk melindungi jurnalis agar mereka dapat menjalankan tugas tanpa rasa takut.
