FaktaHari – 28 Juli 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah diplomatik besar dengan mengirim Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan untuk memulai negosiasi langsung dengan Iran, menandai bahwa gencatan senjata antara kedua negara kini memasuki babak penentu. Langkah ini diambil setelah berhari-hari saling serang dan tekanan internal maupun eksternal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh JD Vance itu juga didampingi oleh Utusan Khusus Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner. Pertemuan perdana dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu pagi waktu setempat. Sementara itu, Iran dipastikan hadir dengan delegasi yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, salah satu tokoh kunci dalam struktur kepemimpinan Iran selama masa perang.
Keputusan Trump untuk mengirim JD Vance ke Pakistan untuk negosiasi langsung dengan Iran muncul setelah tercapainya gencatan senjata selama dua minggu. Gencatan senjata ini merupakan hasil dari operasi militer AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu, yang disebut Washington berhasil melemahkan kemampuan Iran dalam memasok persenjataan kepada kelompok proksinya di kawasan. Namun, situasi keamanan di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda; bentrokan masih terjadi di Lebanon, di mana militer Israel terus melancarkan serangan terhadap sasaran Hezbollah, yang dinilai Iran melanggar semangat gencatan senjata.
Trump, dalam beberapa kesempatan, menegaskan bahwa jika negosiasi gagal, dirinya tidak akan ragu untuk melanjutkan operasi militer yang lebih keras. “Saya punya banyak kesabaran… Kita lihat saja apa yang terjadi. Saya pikir ada peluang bagus bahwa sesuatu bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan di atas Air Force One. “Jika tidak, kita kembali melakukan apa yang kita lakukan dua hari yang lalu,” ancamnya. Pernyataan serupa juga disampaikan Trump dalam wawancara dengan stasiun televisi Israel Channel 12, di mana ia menyatakan bahwa aksi militer akan kembali dilakukan jika perundingan dengan Teheran menemui jalan buntu.
Keputusan Trump untuk mengirim JD Vance ke Pakistan untuk negosiasi langsung dengan Iran juga didorong oleh kekhawatiran dari dalam negeri. Sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance sendiri dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, telah memperingatkan Trump mengenai risiko eskalasi lebih lanjut. Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat lalu, mereka menyampaikan kekhawatiran menipisnya persediaan amunisi serta potensi korban sipil dan krisis kemanusiaan yang lebih luas jika operasi militer dilanjutkan. Trump menepis kekhawatiran tersebut, mengklaim bahwa AS memiliki persediaan amunisi yang jauh lebih besar daripada negara mana pun di dunia.
Iran sendiri membantah adanya perundingan langsung dengan AS sebelumnya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa Teheran hanya menerima pesan yang disampaikan melalui mediator Qatar dan Pakistan. Namun, dengan dikirimnya JD Vance ke Pakistan, kini negosiasi langsung akhirnya dapat dimulai. Pakistan telah memainkan peran penting sebagai mediator, bersama Qatar, dalam menjembatani komunikasi antara Teheran dan Washington.
Gencatan senjata yang tengah berlangsung ini merupakan hasil dari tekanan militer dan diplomasi. Operasi militer AS dan Israel yang dimulai pada akhir Februari bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mempersenjatai kelompok proksinya, seperti Houthi di Yaman dan Hezbollah di Lebanon. Meski demikian, Iran tetap bersikukuh bahwa kesepakatan gencatan senjata sebelumnya menetapkan negara Teluk sebagai satu-satunya pihak yang berwenang mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi titik panas dalam konflik ini.
Keputusan Trump untuk mengirim JD Vance ke Pakistan untuk negosiasi langsung dengan Iran membawa harapan baru bagi penyelesaian konflik yang telah menewaskan ribuan jiwa dan menyebabkan kerusakan infrastruktur besar-besaran. Namun, ancaman Trump untuk kembali melancarkan serangan jika negosiasi gagal menjadi bayang-bayang yang membayangi pertemuan tersebut. Babak penentu gencatan senjata ini tidak hanya akan menentukan nasib hubungan AS-Iran, tetapi juga stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Dunia menanti hasil pertemuan di Islamabad. Akankah diplomasi berhasil meredakan ketegangan, atau justru akan kembali ke jalur perang? Hanya waktu yang akan menjawab.
