Berita  

Gempa NTT Berpotensi Tsunami: BMKG Pastikan Peringatan Dini Cepat, Namun Butuh Puluhan Tahun untuk Gempa Besar Susulan

Gempa NTT Berpotensi Tsunami: BMKG Pastikan Peringatan Dini Cepat, Namun Butuh Puluhan Tahun untuk Gempa Besar Susulan
Gempa NTT Berpotensi Tsunami: BMKG Pastikan Peringatan Dini Cepat, Namun Butuh Puluhan Tahun untuk Gempa Besar Susulan

FaktaHari – 20 Agustus 2026 | Gempa NTT berpotensi tsunami kembali menjadi sorotan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Meski peringatan dini tsunami telah dikeluarkan dan dampaknya tidak sebesar tragedi 1992, masyarakat tetap diimbau waspada. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa sistem peringatan dini Indonesia mampu memberikan informasi kurang dari tiga menit, namun di saat yang sama ia meminta warga tidak panik berlebihan.

Dalam keterangannya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026), Teuku menjelaskan bahwa kekhawatiran akan terjadinya gempa besar dalam waktu dekat tidak perlu berlebihan. Ia menyebut gempa NTT berpotensi tsunami yang terjadi merupakan pelepasan energi dari sesar naik di busur belakang Flores. Energi yang terakumulasi selama ratusan tahun itu telah dilepaskan, sehingga dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk menghasilkan gempa dengan kekuatan serupa.

“Ketakutan dari masyarakat akan terjadi gempa besar dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu ke depan. Nah, ini perlu dipastikan bahwa diperlukan waktu hingga puluhan tahun agar sesar naik di busur belakang dari Flores ini dapat mengumpulkan energi, dan menghasilkan gempa sebesar yang ada sekarang ini atau bisa lebih besar atau lebih kecil,” ujar Teuku.

Data BMKG hingga Rabu (19/8/2026) pukul 17.00 WIB mencatat telah terjadi 3.055 gempa susulan di wilayah NTT. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sementara terkecil 1,1. Dari jumlah tersebut, 25 kejadian memiliki magnitudo di atas 5, dan 88 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Proses peluruhan gempa diperkirakan memakan waktu tiga hingga empat minggu.

Pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa NTT berpotensi tsunami ini memiliki karakteristik berbeda dengan gempa Flores 1992 yang memicu tsunami setinggi 26 hingga 30 meter. Perbedaan utama adalah tidak adanya longsoran dasar laut dalam skala besar pada gempa 15 Agustus lalu, sehingga potensi tsunami relatif lebih rendah. Meski demikian, sistem peringatan dini tetap bekerja optimal.

“Sesar Flores adalah salah satu struktur sesar paling aktif di Indonesia dengan laju pergeseran yang sangat tinggi. Pelepasan energi 7,7 pada 15 Agustus lalu itu merupakan akumulasi regangan tektonik selama ratusan tahun,” jelas Daryono. Ia menambahkan bahwa meski energi telah dilepaskan, ancaman gempa susulan tetap ada dan masyarakat harus tetap waspada terhadap kemungkinan gempa NTT berpotensi tsunami jika terjadi deformasi dasar laut yang signifikan.

BMKG sendiri telah mendirikan unit pelaksana teknis di Labuan Bajo, Ruteng, Maumere, dan Larantuka, serta dua pos di Ende dan Bajawa untuk terus memantau aktivitas kegempaan. Teuku menegaskan bahwa kecepatan peringatan dini tsunami tidak akan berguna jika tidak diimbangi kesiapan masyarakat. Oleh karena itu, penguatan prosedur operasi standar (SOP) evakuasi serta ketersediaan rambu-rambu evakuasi di wilayah pesisir menjadi prioritas.

“Kami pastikan bahwa Pemerintah Indonesia melalui BMKG itu mampu memberikan peringatan dini tsunami akibat gempa ini kurang dari 3 menit sesuai dengan protokol di internasional. Kita akan menyampaikan informasi, kemudian masyarakat dapat melakukan tindakan penyelamatan atau aksi dini,” kata Teuku.

Sementara itu, korban tewas akibat gempa NTT berpotensi tsunami ini bertambah menjadi 71 orang, dengan satu tambahan di Kabupaten Nagekeo. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyatakan proses pencarian korban di bawah reruntuhan telah selesai, dan fokus kini beralih pada evakuasi medis darurat. Pasien dengan fraktur menjadi prioritas untuk segera dioperasi.

Wilayah terisolir seperti Desa Woloede dan Ua di Kabupaten Nagekeo masih menghadapi kendala akses akibat longsor. Tim gabungan menggunakan teknologi satelit Starlink untuk mempercepat koordinasi. Bantuan sebanyak 398 ton telah disalurkan, dan pemulihan infrastruktur terus berjalan.

Dengan segala dinamika ini, masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada. Ancaman gempa NTT berpotensi tsunami tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi dengan kesiapan dan informasi yang akurat, risiko dapat diminimalkan. Kewaspadaan terhadap gempa susulan, pemahaman jalur evakuasi, serta kepatuhan pada arahan resmi menjadi kunci keselamatan. Negeri ini pernah belajar dari tsunami 1992, dan pengalaman itu menjadi modal berharga untuk menghadapi ancaman di masa depan.

Exit mobile version