FaktaHari – 16 Agustus 2026 | Gempa kolombia berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8/2026) telah meninggalkan duka mendalam. Hampir 300 orang tewas, ribuan lainnya luka-luka, dan ratusan warga masih dinyatakan hilang. Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, Presiden baru Kolombia, Abelardo de la Espriella, langsung bergerak cepat dengan melobi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menangguhkan sementara tarif impor terhadap produk Kolombia. Langkah ini diambil untuk meringankan beban pelaku usaha yang terdampak gempa kolombia yang dahsyat tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru Unit Nasional Manajemen Risiko Bencana (UNGRD) Kolombia, jumlah korban tewas akibat gempa kolombia kini mencapai 294 orang. Selain itu, tercatat 3.935 orang mengalami luka-luka dan 320 orang masih hilang. Sebanyak 353 orang berhasil diselamatkan. Angka-angka ini diperkirakan masih akan berubah seiring proses pencarian dan verifikasi data di lapangan. Gempa yang berpusat di dekat San Jose del Palmar, Departemen Choco, ini juga menghancurkan kota Cali dan Pereira di Kolombia barat, dengan hampir 13.000 rumah mengalami kerusakan.
Dalam sebuah pernyataan di akun media sosialnya, De la Espriella mengungkapkan bahwa ia telah berbicara dengan Trump selama sekitar 10 menit. Percakapan berlangsung hangat dan ramah. “Saya memintanya untuk mempertimbangkan penangguhan sementara tarif tinggi yang berdampak pada produk-produk Kolombia, guna memberikan bantuan bagi para pelaku usaha kami yang sedang menghadapi masa-masa sangat sulit akibat dampak gempa bumi,” kata De la Espriella. Tarif AS untuk produk Kolombia sendiri telah naik dari 10 persen menjadi 12,5 persen pada akhir Juli, dengan beberapa pengecualian termasuk kopi dan minyak. Kenaikan ini mulai berlaku pada 24 Juli.
Presiden Kolombia yang baru dilantik itu menjelaskan bahwa negaranya kini menghadapi tantangan besar. “Saya menyampaikan kepadanya bahwa kami memiliki tantangan besar di depan: membangun kembali Kolombia di tengah situasi ekonomi yang sangat sulit dan mengkhawatirkan yang saya warisi,” ujarnya. De la Espriella juga telah mengambil alih secara langsung komando penanganan darurat pascagempa. Bencana ini datang di saat pemerintah baru tengah berupaya menstabilkan perekonomian nasional.
Gempa kolombia ini terjadi di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire, yang memang dikenal sebagai wilayah rawan gempa dan vulkanik. Dalam dua bulan terakhir, sejumlah gempa besar mengguncang kawasan ini, mulai dari Venezuela, Jepang, hingga Indonesia. Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) juga merupakan bagian dari rangkaian aktivitas seismik di kawasan tersebut. Para ahli mencatat bahwa sekitar 90 persen gempa bumi di dunia terjadi di sepanjang Cincin Api Pasifik.
Pemerintah Kolombia kini berfokus pada upaya penyelamatan, evakuasi, dan rehabilitasi infrastruktur yang rusak. Ribuan warga mengungsi dan membutuhkan bantuan logistik, medis, serta tempat tinggal sementara. Solidaritas internasional pun mengalir, termasuk dari Amerika Serikat yang menyampaikan belasungkawa. Namun, permintaan penangguhan tarif menjadi langkah diplomatik penting yang diharapkan dapat meringankan tekanan ekonomi di tengah proses rekonstruksi yang membutuhkan biaya besar.
Duka akibat gempa kolombia ini masih terasa, namun semangat untuk bangkit kembali begitu kuat. Presiden De la Espriella berkomitmen untuk memulihkan negara dari keterpurukan. Dukungan dari negara sahabat, terutama dalam hal kebijakan perdagangan yang lebih fleksibel, akan sangat berarti bagi percepatan pemulihan. Kini, seluruh mata rakyat Kolombia tertuju pada langkah pemerintah dalam menangani bencana dan membangun kembali kehidupan yang lebih baik.
