FaktaHari – 29 Juli 2026 | Keiko Fujimori resmi jadi presiden Peru, langsung umumkan perang terhadap kejahatan terorganisasi dalam pidato pelantikannya pada Selasa, 28 Juli 2026. Ia menjadi perempuan pertama yang terpilih secara demokratis untuk memimpin negara Amerika Selatan itu, sekaligus menandai era baru dalam politik Peru yang diwarnai oleh pendekatan keras terhadap keamanan dan ekonomi.
Dalam pidatonya di Istana Parlemen Lima, Fujimori mendeklarasikan ‘perang’ terhadap organisasi kriminal, jaringan perdagangan narkoba, dan penambangan ilegal yang merajalela di berbagai wilayah. ‘Selama masa tanggap darurat, Angkatan Bersenjata akan mengambil alih pimpinan operasi keamanan dan pemeliharaan ketertiban umum secara sementara, dengan koordinasi erat bersama Kepolisian Nasional,’ tegasnya. Langkah ini merupakan respons terhadap krisis keamanan terburuk dalam beberapa dekade, yang dipicu oleh geng kriminal lokal dan asing.
Fujimori juga berjanji memperkuat Kepolisian Nasional melalui dukungan politik, modernisasi alat utama sistem persenjataan, dan perluasan kewenangan. Di bidang ekonomi, ia mengumumkan kenaikan upah minimum nasional sebesar 15 persen dari 1.130 soles menjadi 1.300 soles per bulan, sebagai upaya mengatasi kenaikan biaya hidup dan perlambatan ekonomi. Ia menegaskan komitmen mempertahankan sistem ekonomi pasar bebas Peru sembari melanjutkan reformasi di sektor keamanan publik.
Pelantikan tersebut diwarnai aksi protes dari sejumlah anggota parlemen oposisi. Beberapa legislator dari koalisi Juntos por el Peru dan Ahora Nación melakukan aksi keluar ruangan (walkout) sebelum pidato dimulai, dengan mengenakan pakaian serba hitam dan pita duka serta membawa foto korban tewas pada masa pemerintahan ayahnya, Alberto Fujimori. Keiko Fujimori memilih menunggu hingga mereka pergi sebelum memulai pidatonya.
Acara pelantikan dihadiri sejumlah pemimpin dunia, termasuk Raja Felipe VI dari Spanyol serta presiden dari Ekuador, Argentina, Bolivia, dan Chili. Di sela kunjungan, Presiden Argentina Javier Milei mengadakan pertemuan bilateral dengan Fujimori untuk membahas penguatan kerja sama di bidang ekonomi, keamanan, sains, teknologi, dan inovasi. Terpilihnya Fujimori dipandang mencerminkan menguatnya kecenderungan politik konservatif di Amerika Latin, seiring meningkatnya perhatian pemilih terhadap isu keamanan dan ekonomi.
Keiko Fujimori resmi jadi presiden Peru, langsung umumkan perang terhadap kejahatan terorganisasi, sebuah langkah yang mendapat dukungan luas dari masyarakat yang lelah dengan kriminalitas. Namun, tantangan besar menanti di depan, termasuk polarisasi politik dan warisan kontroversial ayahnya. Dengan mayoritas di Kongres namun belum cukup untuk meloloskan inisiatifnya, Fujimori harus merangkul koalisi untuk mewujudkan janji-janji kampanyenya. Masa depan Peru kini berada di tangannya.
