Mahasiswa Gelar Aksi Teatrikal Ikat Tangan dan Tutup Mata, Kritik Represi Aparat di Patung Kuda

Mahasiswa Gelar Aksi Teatrikal Ikat Tangan dan Tutup Mata, Kritik Represi Aparat di Patung Kuda
Mahasiswa Gelar Aksi Teatrikal Ikat Tangan dan Tutup Mata, Kritik Represi Aparat di Patung Kuda

FaktaHari – 18 Juli 2026 | Jakarta – Ratusan mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta, Universitas Terbuka, Universitas Paramadina, dan sejumlah elemen Koalisi Masyarakat Sipil menggelar demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026). Aksi tersebut diwarnai dengan teatrikal ikat tangan dan tutup mata sebagai simbol protes atas represi aparat terhadap aktivis dan mahasiswa yang menyuarakan kritik. Mahasiswa gelar aksi teatrikal ikat tangan dan tutup mata kritik represi aparat [titlebase] menjadi sorotan utama dalam unjuk rasa ini, menggambarkan pembungkaman kebebasan berekspresi di ruang publik.

Dalam teatrikal tersebut, seorang peserta terlihat berbaring di aspal dengan kedua tangan terikat kain putih dan mata ditutup kain hitam. Di dadanya terpasang poster bertuliskan “Turunkan Harga, Bubarkan Pesta Pora”. Aksi ini berlangsung di tengah orasi lantang yang mengecam kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil dalam orasinya menyatakan, “Bebaskan teman kami. Seperti inilah ilustrasi yang kami rasakan. Kami dibungkam, kami diinjak oleh aparat.”

Demonstrasi yang digelar Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat ini sekaligus menjadi bagian dari gerakan Mosi Tidak Percaya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sekitar 150 mahasiswa membentangkan spanduk merah bertuliskan “Tumbangkan Rezim Kapitalis Prabowo-Gibran” serta membawa poster bertema kritik politik dan ekonomi, seperti “Pesta Pora Militerisme Gaya Oligarki” dan “Ekonomi di bawah kontrol rakyat untuk kesejahteraan rakyat”. Suasana semakin memanas saat orator berteriak, “Hanya ada satu kata, lawan!”. Mahasiswa gelar aksi teatrikal ikat tangan dan tutup mata kritik represi aparat [titlebase] menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta dan pengguna jalan yang melintas.

Perwakilan Majelis Perjuangan Rakyat saat membacakan pernyataan sikap menyatakan kekecewaan karena aksi yang direncanakan berlangsung damai tidak dapat mencapai titik lokasi semula akibat hambatan aparat. “Kami sangat kecewa karena aksi kami yang damai pada akhirnya tidak sampai pada kesepakatan awal, yaitu aksi di Patung Kuda,” ujarnya. Meski demikian, mereka berkomitmen memperluas gerakan ke berbagai daerah di Indonesia dan melanjutkan konsolidasi nasional untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Dalam pernyataannya, Majelis Perjuangan Rakyat menegaskan bahwa mahasiswa dan masyarakat memiliki peran sebagai pengawas pemerintah. “Atas nama cinta kita kepada negara Indonesia, kita mengkritik hal yang salah. Sejatinya, kita sebagai mahasiswa dan rakyat harus terus mengawal pemerintah sebagai check and balance pemerintah,” tegasnya. Aksi teatrikal ini menjadi simbol perlawanan terhadap dugaan pembungkaman kebebasan berekspresi dan penyampaian pendapat di muka umum. Mahasiswa gelar aksi teatrikal ikat tangan dan tutup mata kritik represi aparat [titlebase] mengingatkan publik akan pentingnya ruang demokrasi yang sehat.

Aksi ditutup dengan pembacaan mosi tidak percaya dan apresiasi kepada semua pihak yang hadir. “Terima kasih kepada teman-teman mahasiswa, masyarakat sipil, media, dan teman-teman lainnya. Tanpa kalian semua, kita tidak akan pernah bisa berdiri di sini dan terus melawan hal-hal yang tidak benar,” ujar perwakilan massa. Ke depan, aliansi berjanji akan terus menggelar konsolidasi lanjutan bersama seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat sipil untuk mendorong perubahan fundamental. Dengan semangat perlawanan, aksi ini menegaskan bahwa suara kritis tetap akan bergema di tengah upaya pembungkaman.

Exit mobile version