FaktaHari – 01 November 2026 | Pengembangan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik menjadi faktor penentu utama dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Di tengah pertumbuhan jumlah kendaraan listrik yang mencapai 9.800 unit di Sumatera Utara, PT PLN (Persero) terus memperkuat jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) guna menjawab kekhawatiran pengguna terkait ketersediaan daya saat perjalanan jauh. Hal ini terungkap dalam dialog antara Komisaris Independen PLN, Prof. Dr. Ali Masykur Musa, dengan pengguna mobil listrik di SPKLU Lounge PLN UID Sumatera Utara, Medan, Sabtu (31/10).
Dalam kesempatan tersebut, Rudy, seorang pengguna mobil listrik yang telah beralih selama tujuh bulan, menyampaikan kekhawatiran utamanya. “Kalau perjalanan jauh, yang saya takutkan itu apakah di tempat tujuan nanti ada SPKLU atau tidak. Takutnya sampai di sana tidak ada tempat mengecas,” ujarnya. Meski demikian, Rudy mengaku tidak menyesali keputusannya. Ia menilai kendaraan listrik lebih hemat biaya operasional, nyaman, dan efisien. Pengalaman Rudy mencerminkan bahwa kenyamanan berkendara listrik sangat bergantung pada kemudahan akses stasiun pengisian kendaraan listrik, terutama untuk mobilitas jarak jauh.
Menanggapi hal itu, Ali Masykur menegaskan komitmen PLN untuk terus memperluas jaringan pengisian daya. “Kami ingin memastikan bahwa infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik tidak hanya tersedia di kota-kota besar, tetapi juga di jalur-jalur utama antarprovinsi,” ujarnya. PLN juga mendorong pemanfaatan aplikasi untuk memantau lokasi SPKLU secara real-time sehingga pengguna dapat merencanakan perjalanan dengan lebih percaya diri.
Di sisi lain, pemerintah melalui Bappenas telah merumuskan enam strategi penguatan ekosistem kendaraan listrik. Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menyampaikan hal ini dalam ajang Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026. Strategi tersebut meliputi kepastian insentif jangka menengah, peningkatan penggunaan komponen lokal hingga target TKDN 80 persen pada 2030, serta pembangunan infrastruktur pengisian daya yang mengacu pada standar jelas. “Percepatan pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum, peningkatan konektivitas, hingga penerapan standar konektor dan perangkat pendukung menjadi prioritas,” kata Rachmat.
Pemerintah daerah juga mengambil peran. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, saat meresmikan showroom VinFast Motor pada 1 November 2026, menekankan pentingnya ekosistem pendukung. “Pertumbuhan pasar kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan produk dan showroom. Ekosistem pendukung harus dipersiapkan, mulai dari stasiun pengisian daya, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, hingga edukasi penggunaan dan keselamatan berkendara,” tegasnya. Ia berharap investasi di sektor kendaraan listrik juga melibatkan tenaga kerja lokal dan membangun kemitraan dengan pengusaha daerah.
Sementara itu, transisi menuju kendaraan listrik murni masih dihadapkan pada tantangan jarak tempuh. DFSK E5 Plus hadir sebagai jalan tengah melalui teknologi plug-in hybrid (PHEV). Mobil ini menggabungkan motor listrik dengan mesin bensin, sehingga pengguna tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum. Dengan baterai LFP 25 kWh, E5 Plus mampu menempuh hingga 140 km dalam mode listrik murni (standar NEDC), dan jarak tempuh kombinasi mencapai 1.400 km saat baterai dan tangki penuh. Kendaraan ini juga menawarkan kabin enam penumpang, panoramic sunroof, layar hiburan 15,6 inci, ventilated seat, serta fitur ADAS. DFSK E5 Plus dipamerkan di PEVS 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.
Secara keseluruhan, percepatan pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik menjadi prasyarat mutlak bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Kolaborasi antara pemerintah, PLN, pelaku industri otomotif, dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan pengalaman berkendara listrik yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. Tanpa infrastruktur pengisian yang memadai dan tersebar merata, kekhawatiran seperti yang dialami Rudy akan terus menghantui calon pengguna. Oleh karena itu, sinergi lintas sektor harus terus diperkuat agar target adopsi kendaraan listrik dapat tercapai tanpa meninggalkan kendaraan konvensional sebagai solusi transisi.
