FaktaHari – 26 Oktober 2026 | LOS ANGELES — Ketika pelatih kepala Los Angeles Clippers, Ty Lue, mengumumkan bahwa Isaiah Jackson akan menjadi starter di posisi center menggantikan Brook Lopez, banyak pihak langsung menyimpulkan bahwa karier sang veteran sudah di ujung tanduk. Di usia 38 tahun, Brook Lopez memang tampak seperti bayang-bayang pemain yang pernah menjadi menara pertahanan Milwaukee Bucks saat menjuarai NBA 2021. Namun, siapa sangka, tiga pertandingan pertama musim ini justru membalikkan semua prediksi. Brook Lopez tampil seperti mesin waktu yang berhasil memutar kembali performa emasnya.
Dari bangku cadangan, Brook Lopez menjelma menjadi sosok sentral bagi unit kedua Clippers. Dalam rata-rata 23,3 menit per pertandingan, ia mencetak 18 poin, 5,3 rebound, 1 asis, dan 1,7 blok. Angka tersebut merupakan rata-rata poin tertingginya dalam satu dekade terakhir. Tingkat penggunaan (usage rate) Brook Lopez pun melonjak ke 23,3 persen, tertinggi sejak musim 2017-18 bersama Los Angeles Lakers. Yang lebih mengesankan, ia melepaskan 10,3 tembakan per gim dengan tingkat akurasi tiga angka mencapai 54,5 persen—sebuah ancaman nyata dari luar garis busur.
Peran sebagai pemain pengganti ternyata menyederhanakan tugas Brook Lopez. Ty Lue memberinya lampu hijau untuk menembak kapan saja, baik dengan punggung menghadap ring di pos rendah maupun menghadap ring di atas busur. “Dia memberi kami dimensi berbeda,” ujar seorang analis liga. “Ketika Brook Lopez masuk dari bangku cadangan, pertahanan lawan harus keluar dari zona nyaman.”
Kontribusi Brook Lopez terlihat nyata dalam laga melawan Oklahoma City Thunder, Minggu (26/10/2026) waktu setempat. Meski Clippers kalah 101-108, Brook Lopez menjadi momok bagi pemain muda Spanyol, Aday Mara. Dengan pengalaman 19 tahun di NBA, Brook Lopez memberikan pelajaran berharga kepada Mara—pemain setinggi 2,24 meter itu—tentang kerasnya kompetisi. Brook Lopez mencatatkan blok dan beberapa kali memenangkan rebound atas Mara, serta menggagalkan pergerakan pick and roll lawan. Bahkan, menurut laporan media Spanyol, Brook Lopez sempat memberi “sambutan” khas NBA kepada Mara melalui aksi defensif yang membuat sang rookie kesulitan.
Pertandingan itu sendiri berjalan dramatis. Thunder bangkit dari ketertinggalan halftime untuk meraih kemenangan ketiga mereka musim ini. Shai Gilgeous-Alexander memimpin dengan 34 poin, dibantu Ajay Mitchell yang menambahkan 18 poin dari bangku cadangan. Namun, kemenangan tersebut ternoda oleh cedera serius yang menimpa Jalen Williams. Pemain muda Thunder itu harus diangkut dengan tandu setelah mengalami cedera pada kaki kiri bagian bawahnya di menit terakhir. Insiden tersebut membuat sejumlah rekan setimnya menitikkan air mata, dan pertandingan dihentikan sekitar lima menit. Pelatih Thunder, Mark Daigneault, mengaku timnya belum bisa berkonsentrasi penuh. “Kami tidak dalam kondisi baik,” ujarnya singkat.
Bagi Clippers, kekalahan ini memang menyakitkan, tetapi penampilan Brook Lopez memberikan harapan baru. Ia bukan lagi sekadar pelengkap di akhir karier, melainkan aset dagang yang bernilai tinggi menjelang batas pertukaran pemain. Jika Brook Lopez mampu mempertahankan konsistensinya—meski tingkat akurasi tiga angkanya kemungkinan akan menurun—ia bisa menjadi kepingan puzzle berharga bagi tim yang sedang membangun atau justru menjadi komoditas menarik di pasar transfer. Pertanyaannya, akankah Clippers mempertahankannya atau memanfaatkannya sebagai chip untuk masa depan?
Yang jelas, Brook Lopez telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Di usianya yang ke-38, ia masih mampu menjadi pembeda di lapangan. Musim masih panjang, dan tantangan sesungguhnya baru akan datang ketika Clippers diperkuat skuad penuh. Namun, untuk saat ini, Brook Lopez pantas mendapatkan apresiasi. Ia adalah contoh nyata bagaimana adaptasi dan profesionalisme dapat memperpanjang karier seorang atlet di liga seketat NBA.
