Badai Rasial Hantui Coco Gauff: Legenda Tenis Chris Evert Angkat Bicara

Badai Rasial Hantui Coco Gauff: Legenda Tenis Chris Evert Angkat Bicara
Badai Rasial Hantui Coco Gauff: Legenda Tenis Chris Evert Angkat Bicara

FaktaHari – 10 Oktober 2026 | Petenis Amerika Serikat, Coco Gauff, kembali menjadi sorotan dunia tenis. Namun, kali ini bukan karena prestasinya di lapangan, melainkan akibat gelombang ujaran kebencian bernuansa rasial yang menerpanya usai sebuah insiden kontroversial di China Open 2026. Legenda tenis, Chris Evert, pun angkat bicara membela petenis muda tersebut, menyebut situasi yang dialami Gauff sebagai sesuatu yang sangat mengganggu.

Insiden bermula saat Coco Gauff menghadapi petenis muda tuan rumah, Sun Xinran, pada babak 32 besar China Open. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Gauff menghentikan permainan di tengah poin karena papan iklan di belakang Xinran berkedip. Wasit kemudian memutuskan untuk mengulang poin tersebut. Keputusan ini membuat pendukung Xinran kecewa, terlebih setelah Gauff memenangi set pertama dan akhirnya mengalahkan Xinran dengan skor 7-5, 6-1. Akibatnya, Gauff dibanjiri komentar rasis di media sosial, yang menuduhnya tidak sportif.

“Mengapa para pembenci menyerang Coco Gauff? Dia melakukan segalanya sesuai aturan,” tulis Chris Evert di platform X. “Sejujurnya, Coco adalah manusia paling tulus, penuh perhatian, dan rendah hati yang pernah Anda temui. Dia dicintai semua orang di dunia tenis. Sungguh mengganggu melihatnya mengalami gejolak seperti ini.”

Tekanan mental yang dialami Coco Gauff semakin bertambah setelah ia tersingkir di babak berikutnya. Ia kemudian memutuskan mundur dari Wuhan Open, turnamen WTA 1000 yang tahun lalu ia juarai. Alasannya, kelelahan fisik dan mental. Dalam pertandingan melawan Elise Mertens di China Open, Gauff sempat mengeluh ke timnya, “Saya tidak punya energi. Saya mencoba, tapi saya tidak punya energi. Saya tidak bisa melihat bola; saya merasa seperti akan pingsan. Saya akan mencoba menyelesaikan pertandingan.”

Keputusan mundur dari Wuhan Open, di mana ia adalah juara bertahan, tentu berimbas pada peringkatnya. Gauff akan kehilangan 1.000 poin yang diraihnya tahun lalu. Beberapa penggemar meragukan alasan kelelahan, namun bagi yang mengenal perjuangan Coco Gauff, keputusan ini adalah bentuk perlindungan diri dari racun kebencian yang terus menghantuinya.

Dukungan untuk Coco Gauff terus mengalir. Banyak pihak menilai bahwa reaksi berlebihan terhadap insiden kecil di lapangan tidak sebanding dengan serangan rasial yang diterimanya. Chris Evert, yang dikenal sebagai komentator tenis yang bijak, menegaskan bahwa Gauff bukanlah tipe petenis yang tidak sportif. “Dia adalah pribadi yang paling tulus dan rendah hati. Sungguh menyedihkan melihatnya menderita seperti ini,” ujar Evert.

Kasus ini kembali membuka diskusi tentang maraknya perundungan siber, terutama di dunia olahraga. Coco Gauff, yang selama ini dikenal sebagai petenis muda berbakat dan berkarakter baik, harus menghadapi cobaan yang tidak semestinya. Di tengah tekanan, ia memilih untuk menjaga kesehatan mentalnya dengan mundur dari turnamen, sebuah langkah yang patut dihargai.

Semoga gelombang dukungan dari para legenda dan sesama atlet mampu menguatkan Coco Gauff. Tenis seharusnya menjadi ajang persaingan yang sehat, bukan medan perang bagi kebencian. Ke depannya, diharapkan pihak penyelenggara turnamen dan media sosial dapat lebih tegas dalam menangani ujaran kebencian, agar atlet seperti Coco Gauff bisa kembali fokus pada karier mereka tanpa gangguan yang tidak perlu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *