FaktaHari – 20 Oktober 2026 | Jakarta – Dunia otomotif kembali dihebohkan dengan demonstrasi tesla flying cars yang dilakukan oleh Tesla. CEO Elon Musk memperkenalkan Roadster generasi baru yang dilengkapi teknologi roket dari SpaceX. Dalam acara yang digelar di fasilitas uji SpaceX di McGregor, Texas, pada 16 Oktober lalu, Musk menunjukkan kemampuan mobil tersebut terbang melintasi barisan truk dan melakukan manuver akrobatik di udara. Namun, di balik spektakel tersebut, muncul berbagai pertanyaan mengenai realitas dan kepraktisan tesla flying cars ini.
Demonstrasi tersebut menampilkan tiga aksi utama: mobil menaiki tanjakan setengah lingkaran dan berhenti dalam posisi terbalik, melompat dari tepi tanjakan sambil berputar di udara, lalu mendarat dengan lembut, serta melompati barisan mobil Tesla lainnya, termasuk truk Semi. Musk bahkan menegaskan bahwa rekaman tersebut bukan hasil rekayasa AI. Namun, banyak pengamat yang skeptis dan mempertanyakan apakah mobil yang terbang itu benar-benar berfungsi penuh atau hanya cangkang kosong.
Spesifikasi yang diungkapkan Tesla menyebutkan bahwa versi “Rocket” dari Roadster ini dilengkapi dengan 600 liter udara terkompresi, 10 nosel pendorong gas dingin, dan sistem kipas hisap besar di bagian bawah. Untuk memberi ruang bagi perangkat tersebut, kursi penumpang dihilangkan. Meski demikian, para pengamat menduga bahwa mobil tersebut mungkin juga tidak memiliki baterai berukuran penuh untuk mengurangi bobot. Tangkapan layar bagian bawah mobil saat melayang menunjukkan ketiadaan kipas hisap, yang semakin memperkuat spekulasi bahwa Tesla belum sepenuhnya menggabungkan kemampuan mobil seperti yang dipresentasikan.
Kritik datang dari ilmuwan komputer dan “godfather” AI, Yann LeCun. Melalui akun X, ia menyebut aksi tersebut sebagai “trik pemasaran” dan meragukan keasliannya. LeCun menghitung bahwa bahkan jika 50 persen massa mobil adalah udara terkompresi, daya dorong yang dihasilkan hanya sekitar 5-10 detik. “Mobil itu pasti cangkang kosong yang ringan dengan tangki udara terkompresi besar. Demo yang lucu, tapi sama sekali tidak praktis,” tulisnya. Keraguan juga muncul karena mobil yang menempel terbalik di tanjakan dan yang melompati barisan mobil diduga menggunakan perangkat keras berbeda.
Di sisi lain, Tesla telah membuka reservasi untuk Roadster di Jepang dengan harga 6,82 juta yen. Namun, perlu dicatat bahwa model yang dapat dipesan di Jepang adalah versi yang tidak bisa terbang. Dalam perjanjian reservasi, terdapat empat poin yang menjelaskan bahwa fitur terbang tidak termasuk dalam paket yang ditawarkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa serius Tesla dalam menghadirkan tesla flying cars ke pasar konsumen.
Fenomena tesla flying cars ini juga mengingatkan pada mitologi Pushpak Vimana dari Ramayana, kereta terbang yang digambarkan bergerak dengan kecepatan pikiran. Tesla Roadster mengklaim akselerasi 0-100 km/jam dalam 0,6 detik, mendekati deskripsi mitologis tersebut. Namun, hingga kini, adopsi massal kendaraan terbang masih jauh dari kenyataan karena tantangan regulasi, infrastruktur, dan keamanan. Meski demikian, demonstrasi ini setidaknya telah memicu imajinasi publik tentang masa depan transportasi.
Secara keseluruhan, demonstrasi tesla flying cars telah menarik perhatian dunia dan menunjukkan ambisi Tesla untuk berinovasi di luar batas. Namun, keraguan tentang kepraktisan dan keaslian teknologi ini masih menjadi perdebatan. Apakah ini langkah awal menuju revolusi transportasi atau hanya sekadar stunt pemasaran? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, Tesla telah berhasil membuat dunia berbicara tentang masa depan mobilitas udara.











