FaktaHari – 21 Juli 2026 | Piala Dunia 2026 telah usai, namun sorotan masih tertuju pada gelaran yang disebut sebagai yang paling sukses secara finansial sekaligus paling kontroversial. FIFA panen cuan di Piala Dunia 2026, tapi komersialisasi dikritik fans karena dianggap terlalu mengutamakan keuntungan di atas pengalaman penggemar. Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini mencatatkan pendapatan fantastis sekitar USD 9 miliar atau Rp 161,7 triliun, melampaui ekspektasi awal sebesar USD 7 miliar.
FIFA panen cuan di Piala Dunia 2026, tapi komersialisasi dikritik fans terutama karena penerapan harga tiket dinamis. Sistem ini secara otomatis menyesuaikan harga berdasarkan permintaan real-time, membuat tiket pertandingan melambung hingga USD 10.000. Meski stadion tetap terisi 99% di babak penyisihan, banyak penggemar yang mengeluhkan mahalnya biaya untuk menyaksikan pertandingan secara langsung. Seorang penggemar dari Nashville, Asad Hussain, mengungkapkan rasa campur aduknya: turnamen ini bagus, tetapi harga dinamis dan masalah tiket serta visa membuat banyak orang sulit menonton pertandingan.
Format 48 Tim dan Ekspansi Komersial
Untuk pertama kalinya, Piala Dunia diikuti 48 tim dengan total 104 pertandingan dalam 39 hari. Format ini memperpanjang durasi turnamen dan menambah slot iklan bagi penyiar seperti Fox di AS. FIFA juga memperkenalkan hydration break dua kali per pertandingan, yang diklaim untuk kesejahteraan pemain, namun dikritik karena menguntungkan penyiar dengan slot iklan tambahan. Setiap slot iklan 30 detik bernilai USD 250.000 hingga USD 750.000, menghasilkan pendapatan iklan baru yang signifikan.
Cincin Kemenangan dan Merchandise Mahal
FIFA juga meluncurkan cincin kemenangan eksklusif untuk juara, mirip tradisi olahraga Amerika. Sebanyak 30 cincin diberikan kepada tim pemenang, sementara 1.996 cincin dijual ke publik dengan harga 112.000 pound sterling atau sekitar Rp 2,7 miliar per cincin. Selain itu, FIFA menjual potongan rumput lapangan final yang diawetkan dalam resin seharga USD 3.000. Langkah ini dianggap sebagai bentuk komersialisasi berlebihan dan mengundang kritik dari penggemar yang menilai FIFA lebih fokus pada cuan daripada esensi sepak bola.
Prize Money dan Keuntungan Finansial
Spanyol, sebagai juara, menerima total bonus USD 62,5 juta atau Rp 1,1 triliun, terdiri dari prize money, bonus kualifikasi, dan biaya persiapan. Pendapatan FIFA yang melonjak berasal dari penjualan tiket, hak siar, sponsor, dan merchandise. Meskipun sukses finansial, banyak pihak menilai FIFA telah mengorbankan semangat olahraga demi keuntungan. Format 48 tim juga menyebabkan pemain kelelahan dan jadwal pertandingan yang padat.
Kontroversi lain muncul dari dominasi tim elit di semifinal (Argentina, Spanyol, Prancis, Inggris), meskipun ada kejutan dari tim debutan seperti Cape Verde yang mampu menahan imbang Spanyol dan Uruguay. Kultur suporter dan antisipasi keamanan juga menjadi perhatian, namun tidak mengurangi sorotan pada praktik komersial FIFA.
Seiring berakhirnya Piala Dunia 2026, FIFA panen cuan di Piala Dunia 2026, tapi komersialisasi dikritik fans sebagai pengingat bahwa sepak bola harus tetap menjadi milik rakyat, bukan sekadar mesin uang. Kekhawatiran akan ‘Amerikanisasi’ sepak bola kian kuat, dan penggemar berharap FIFA dapat menyeimbangkan antara keuntungan finansial dan integritas olahraga di masa depan.
