FaktaHari – 02 November 2026 | Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar di tengah dinamika ekonomi global yang semakin tidak pasti. Setelah sempat menguat 35 poin pada perdagangan Jumat (30/10/2026), rupiah akhirnya ditutup melemah 10 poin ke level Rp18.147 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini mencerminkan tekanan yang masih kuat terhadap nilai tukar, seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran akan dampak terhadap perekonomian domestik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Indonesia, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS pada perdagangan pekan depan. “Rupiah diprediksi dalam perdagangan minggu depan direntang Rp18.000 – Rp18.320,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026). Proyeksi ini menunjukkan bahwa volatilitas nilai tukar masih akan tinggi, dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik.
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah adalah laporan The Wall Street Journal mengenai pertemuan Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Pertemuan tersebut membahas sejumlah opsi militer terhadap Iran, termasuk kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar. Trump juga mengisyaratkan kemungkinan serangan baru setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Perkembangan ini meredupkan harapan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, meskipun Washington berupaya membuka kembali komunikasi dengan Teheran.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah juga berisiko memicu inflasi barang impor atau imported inflation. Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai bahwa pelemahan rupiah akan membuat biaya impor semakin mahal, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri dan menekan daya beli masyarakat. “Artinya, inflasi akan lebih terdorong lagi jika rupiah kita semakin melemah. Dampaknya adalah daya beli masyarakat kita bisa semakin terpukul,” ujar Nailul kepada IDN Times, Jumat (30/10/2026).
Nailul juga mengingatkan pemerintah agar tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite maupun LPG 3 kilogram. Menurutnya, kenaikan harga kedua komoditas tersebut akan semakin membebani pengeluaran masyarakat di tengah kondisi nilai tukar yang masih tertekan. Ia menyarankan agar pemerintah melakukan realokasi anggaran, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk memperkuat pembiayaan subsidi BBM.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi domestik relatif baik dibandingkan dengan negara-negara lain yang menjadi pembanding. “Kami di Bank Indonesia kan tugasnya menjaga stabilitas rupiah. Jadi, kalau kita lihat pergerakan rupiah, kan memang sangat banyak faktor yang memengaruhi. Tapi, kalau kita lihat dari fundamental ekonomi, sebenarnya dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group,” kata Destry dalam Rapimnas Kadin 2026, Kamis (29/10).
Namun, peringatan datang dari Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo. Ia memprediksi nilai tukar rupiah bisa melemah hingga Rp22.000 per dolar AS apabila persoalan pasar modal yang disoroti Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak segera dimitigasi. “Saya sudah hitung bisa jadi Rp20.000-Rp21.000. Ada yang bilang Rp22.000,” kata Hashim dalam Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10).
Hashim menjelaskan bahwa keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah. Selain itu, beban pembayaran pinjaman luar negeri juga berpotensi meningkat. Ia juga menyoroti praktik perdagangan saham yang tidak sehat, seperti saham gorengan, yang menjadi salah satu hal yang disoroti MSCI dan investor asing. “Ini yang disorot oleh MSCI dan pelaku-pelaku asing. Terutama kalau free float terbatas dan PE ratio itu gila-gilaan, tidak masuk akal,” ujarnya.
Di sisi lain, harga emas perhiasan di Palembang terpantau stabil pada akhir Oktober 2026 di kisaran Rp13,6 juta per suku atau setara 6,7 gram. Pengamat ekonomi Sumsel, Soekanto Sairuki, menyebut bahwa harga emas dipengaruhi oleh permintaan pasar, IHSG, nilai tukar rupiah yang mencapai Rp18 ribu per dolar AS, serta gejolak geopolitik dan kebijakan AS. Stabilitas harga emas ini dianggap sebagai indikator bahwa ekonomi mulai membaik, meskipun tekanan inflasi global masih membayangi.
Secara keseluruhan, prospek nilai tukar rupiah dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian. Pelaku pasar akan mencermati setiap perkembangan geopolitik dan kebijakan domestik yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar. Bank Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas, sementara pemerintah perlu mengantisipasi dampak inflasi impor dan menjaga daya beli masyarakat. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, risiko pelemahan nilai tukar hingga level yang lebih ekstrem bukan tidak mungkin terjadi.
