IHSG Berbalik Menguat di Tengah Rupiah Tertekan, Sederet Saham Jadi Incaran

IHSG Berbalik Menguat di Tengah Rupiah Tertekan, Sederet Saham Jadi Incaran
IHSG Berbalik Menguat di Tengah Rupiah Tertekan, Sederet Saham Jadi Incaran

FaktaHari – 29 Oktober 2026 | Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya pada penutupan perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Setelah sepanjang sesi pertama terpuruk di zona merah, indeks harga saham gabungan berbalik arah dan ditutup menguat 0,31 persen ke level 5.282,31. Penguatan ini terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp18.172 per dolar Amerika Serikat, serta mayoritas sektor saham yang masih tertekan.

Pergerakan indeks harga saham gabungan hari itu sempat mengejutkan pelaku pasar. Pada awal sesi, IHSG dibuka melemah dan bahkan sempat merosot 1,6 persen pada penutupan sesi pertama. Level terendahnya tercatat 5.167,33 dengan 406 saham tertekan. Namun, gelombang aksi beli di sesi kedua berhasil membalikkan keadaan. Sebanyak 272 saham berhasil menguat, sementara 112 saham stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp15,9 triliun dengan volume 32,2 miliar saham dan frekuensi 1.552.571 kali.

Penguatan indeks harga saham gabungan ditopang oleh tiga sektor utama, yaitu kesehatan yang melesat 1,71 persen, keuangan 0,81 persen, dan transportasi 0,31 persen. Indeks LQ45 juga turut menguat 1,21 persen ke 539,47. Meski demikian, arus dana asing masih keluar dari pasar. Investor asing tercatat melakukan net sell pada sejumlah saham unggulan. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi yang paling banyak dilepas asing dengan nilai Rp430 miliar, disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp276,4 miliar dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp85,91 miliar.

Memasuki perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, indeks harga saham gabungan kembali diramal bergerak bervariasi cenderung menguat. CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran support 5.180–5.080 dan resistensi 5.385–5.485. Sentimen positif datang dari bursa Wall Street yang kembali ditutup menguat tipis setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 4 persen, sesuai ekspektasi pasar. Laporan kinerja keuangan emiten kuartal ketiga yang secara umum cukup baik, kenaikan harga beberapa komoditas, serta meredanya aksi jual investor asing turut menjadi katalis pendukung.

Namun, tekanan terhadap rupiah masih berpeluang menjadi katalis negatif. Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers menyatakan fokus pada stabilitas harga meski ada jeda dan pasar tenaga kerja menunjukkan kondisi positif. Di sisi lain, investor cenderung menunggu rilis laporan keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar seperti Alphabet dan Microsoft. CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan saham ASII, BBNI, BBCA, PGAS, PTBA, dan MIDI untuk trading pada hari tersebut.

Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, IHSG sempat dibuka menguat 22,89 poin atau 0,43 persen ke 5.305,2. Namun, tak lama setelah itu indeks kembali merosot ke zona merah. Pada menit ke-10, indeks harga saham gabungan melemah tipis 1,62 poin atau 0,03 persen ke 5.280,69. Level tertinggi pagi ini mencapai 5.320,9 dan terendah 5.257,73. Transaksi tercatat Rp1,18 triliun dengan volume 2,84 miliar saham dan frekuensi 141,6 ribu kali. Sebanyak 273 saham menguat, 273 saham melemah, dan 419 saham stagnan. Mayoritas indeks unggulan juga ikut melemah.

Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham justru mencatat kenaikan signifikan. Empat saham menguat lebih dari 10 persen, yaitu TMAS naik 15,45 persen, YPAS dan ENAK masing-masing 15,38 persen, serta MKNT 11,11 persen. Saham-saham ini menjadi incaran di tengah kondisi pasar yang masih wait and see. Sementara itu, emiten PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp430 per saham, dengan total dividen Rp1,45 triliun. Keputusan ini didasarkan pada kinerja keuangan per 30 September 2026 dengan laba bersih atribusi entitas induk Rp4,46 triliun, saldo laba ditahan Rp86,10 triliun, dan total ekuitas Rp103,82 triliun. Meski demikian, harga saham UNTR justru melemah 3,4 persen ke Rp25.600 per saham pada perdagangan Rabu.

Secara keseluruhan, pergerakan indeks harga saham gabungan dalam beberapa hari terakhir mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi sentimen global dan domestik. Meski tekanan eksternal masih membayangi, terutama dari pelemahan rupiah, optimisme terhadap kinerja emiten dan kebijakan moneter yang akomodatif memberikan ruang bagi IHSG untuk melanjutkan penguatan. Investor disarankan tetap mencermati perkembangan data ekonomi dan arus dana asing sebelum mengambil keputusan investasi.

Exit mobile version