ADRO Jadi Sorotan: Dari Aksi Jual Asing hingga Target Harga Naik di Tengah Tekanan IHSG

ADRO Jadi Sorotan: Dari Aksi Jual Asing hingga Target Harga Naik di Tengah Tekanan IHSG
ADRO Jadi Sorotan: Dari Aksi Jual Asing hingga Target Harga Naik di Tengah Tekanan IHSG

FaktaHari – 18 Oktober 2026 | Jakarta – Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) kembali menjadi perhatian pasar modal Tanah Air. Di tengah tekanan besar yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ADRO justru mencatatkan dinamika menarik, mulai dari aksi jual investor asing hingga revisi naik target harga oleh analis. Pada perdagangan sesi pertama Kamis (15/10/2026), IHSG merosot tajam 2,16% ke level 5.814, dengan hanya 80 saham menguat dan 621 saham terkoreksi. Dalam kondisi tersebut, ADRO menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas asing dengan nilai mencapai Rp 18,11 miliar, menempati urutan ketiga setelah TLKM dan GOTO.

Meski demikian, tekanan jual asing terhadap ADRO bukanlah satu-satunya cerita. Sehari sebelumnya, Rabu (14/10/2026), saham ADRO justru berhasil menguat 2,3% ke level Rp 2.570 per saham. Penguatan tersebut terjadi saat IHSG dibuka naik 0,25% ke 5.940 dan mayoritas sektor saham menghijau. Bahkan, sektor energi yang menjadi tempat ADRO bernaung mencatat kenaikan 0,85% pada awal sesi tersebut. Pergerakan ADRO yang sempat menguat di tengah tekanan pasar menunjukkan bahwa saham emiten milik Boy Thohir ini masih memiliki daya tarik tersendiri bagi investor.

Analis pun turut memberikan perhatian khusus terhadap ADRO. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, merekomendasikan saham ADRO sebagai salah satu pilihan investasi pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Rekomendasi ini sejalan dengan proyeksi teknikal IHSG yang diperkirakan mulai terbatas tekanan penurunannya karena telah mencapai area wave (X) dengan support krusial di level 5.851. Selain ADRO, Nafan juga merekomendasikan ARCI dan CTRA. Sementara itu, BNI Sekuritas dalam rekomendasi sahamnya pada Selasa (13/10/2026) juga mencantumkan ADRO sebagai salah satu trading idea bersama BBCA, INDF, KLBF, ANTM, dan MAPA.

Yang lebih menarik, BRI Danareksa Sekuritas baru-baru ini menaikkan target harga saham ADRO. Analis Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta menilai bahwa valuasi saham ADRO saat ini sedang diskon. Mereka memperkirakan laba bersih ADRO sebesar Rp 600 miliar pada 2026, meningkat menjadi Rp 714 miliar pada 2027 dan Rp 731 miliar pada 2028. Proyeksi pendapatan juga menunjukkan tren positif, dari Rp 2,39 triliun pada 2026 menjadi Rp 3,03 triliun pada 2027 dan 2028. Kenaikan target harga ini didorong oleh penyesuaian asumsi harga batu bara kokas yang lebih tinggi, yaitu US$ 230 per ton pada 2026, US$ 220 per ton pada 2027, dan US$ 200 per ton pada 2028, dari sebelumnya US$ 170 per ton.

Erindra menjelaskan bahwa penguatan harga batu bara kokas sepanjang sembilan bulan pertama 2026 dipicu oleh gangguan pasokan dari China dan Mongolia. Harga diperkirakan tetap mendapat dukungan pada kuartal IV-2026 sebelum berangsur normal pada 2027. Meskipun demikian, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan proyeksi penjualan batu bara kokas PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), anak usaha ADRO, sebanyak 6 juta ton pada 2026, lebih rendah dari target awal manajemen sebesar 6,3 juta ton. Gangguan pengangkutan melalui Sungai Barito diperkirakan membatasi penjualan ADMR pada kuartal III-2026 menjadi 0,5–0,7 juta ton, namun pengiriman berpeluang mengejar ketertinggalan pada kuartal IV-2026 setelah kondisi logistik membaik.

Selain itu, PT Saptaindra Sejati (SIS), entitas anak ADRO lainnya, diperkirakan mencatat volume pemindahan tanah penutup sebesar 204 juta bank cubic meter (bcm) dan produksi batu bara sebanyak 68 juta ton sepanjang 2026. Kinerja operasional ini menjadi fondasi bagi prospek ADRO ke depan. Dengan kombinasi valuasi yang masih diskon, prospek laba yang meningkat, serta dukungan harga komoditas, ADRO dinilai masih menarik untuk dicermati investor meskipun tekanan jual asing dan volatilitas IHSG masih membayangi.

Secara keseluruhan, pergerakan saham ADRO dalam beberapa hari terakhir mencerminkan dinamika pasar yang kompleks. Di satu sisi, aksi jual asing dan pelemahan IHSG yang mencapai 32,75% secara year to date menjadi sentimen negatif. Di sisi lain, rekomendasi analis dan revisi naik target harga memberikan sinyal positif. Investor disarankan untuk mencermati faktor fundamental dan teknikal sebelum mengambil keputusan, mengingat ADRO memiliki karakteristik sebagai saham komoditas yang sensitif terhadap harga batu bara dan kondisi logistik. Dengan proyeksi kinerja yang membaik, ADRO berpotensi menjadi salah satu saham yang patut dipertimbangkan dalam portofolio jangka menengah, terutama bagi mereka yang toleran terhadap volatilitas pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *