FaktaHari – 17 Juli 2026 | Groundbreaking Menteri Bahlil Tegaskan Blok Masela Prioritaskan Tenaga Kerja dan Pengusaha Lokal—sebuah momentum bersejarah terjadi di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara resmi memulai groundbreaking Proyek Abadi Blok Masela setelah tertunda hampir 28 tahun. Proyek strategis nasional ini langsung dimulai dengan pengeboran sumur pengembangan dan pembangunan fasilitas pendukung seperti pelabuhan dan dermaga.
Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto melalui video conference, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk memastikan tenaga kerja lokal, khususnya masyarakat Tanimbar dan Maluku Barat Daya, menjadi prioritas utama. “Sebagian anak daerah sudah dikirim untuk sekolah di Akademi Migas Cepu. Mereka semua akan kita serap bekerja di proyek Blok Masela sebelum merekrut dari luar,” ujar Bahlil. Pernyataan ini mempertegas komitmen bahwa Groundbreaking Menteri Bahlil Tegaskan Blok Masela Prioritaskan Tenaga Kerja dan Pengusaha Lokal bukan sekadar janji, melainkan langkah konkret.
Proyek dengan nilai investasi sekitar 20,95 miliar dolar AS (Rp390 triliun) ini ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 120 MMSCFD gas, dan 35 ribu barel kondensat per hari. Sebanyak 60 persen produksi gas dialokasikan untuk dalam negeri guna mendukung hilirisasi industri, seperti kebutuhan PT Pupuk, PLN, dan PGN. Penerimaan negara diperkirakan mencapai 37,8 miliar dolar AS, dengan tambahan pajak tidak langsung 6,43 miliar dolar AS.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini akan menyerap sekitar 12 ribu tenaga kerja langsung saat konstruksi dan 800–1.000 tenaga kerja saat operasi. Bahlil meminta SKK Migas dan operator untuk memprioritaskan pengusaha lokal dalam pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh pelaku usaha daerah. “Investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah,” tegasnya. Hal ini kembali menggarisbawahi bahwa Groundbreaking Menteri Bahlil Tegaskan Blok Masela Prioritaskan Tenaga Kerja dan Pengusaha Lokal merupakan kebijakan yang diimplementasikan secara ketat.
Pemerintah juga akan mengusulkan kompensasi atau “ganti untung” bagi masyarakat yang lahannya digunakan, mengingat lokasi proyek berada di kawasan hutan yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun. Bahlil mengingatkan agar proyek dikelola secara profesional tanpa praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. “Yang dibutuhkan adalah kompetensi dan profesionalisme,” katanya.
Dampak ekonomi proyek ini sangat signifikan: kontribusi terhadap PDB nasional diperkirakan 137,8 miliar dolar AS, meningkatkan PDRB Maluku sebesar 95 miliar dolar AS, dan PDRB Tanimbar sebesar 92 miliar dolar AS. Dari aspek lingkungan, Blok Masela akan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon.
Proyek ini telah melewati perjalanan panjang sejak pertama direncanakan pada 1998, melewati enam periode kepemimpinan presiden. Berkat arahan Presiden Prabowo, pemerintah bergerak cepat memberikan kepastian perizinan hingga akhirnya groundbreaking dapat terlaksana. Bahlil menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang bersinergi, termasuk Inpex, Petronas, dan pemerintah daerah.
Dengan dimulainya konstruksi, harapan besar tersemat pada proyek Blok Masela untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku dan memperkuat ketahanan energi nasional. Kesimpulannya, komitmen terhadap tenaga kerja dan pengusaha lokal menjadi pilar utama pembangunan ini, sejalan dengan visi pemerataan kesejahteraan melalui investasi energi.











