Berita  

Gedung Sate, Saksi Kolaborasi Strategis Jabar: Dari Reformasi Birokrasi hingga Kesehatan

Gedung Sate, Saksi Kolaborasi Strategis Jabar: Dari Reformasi Birokrasi hingga Kesehatan
Gedung Sate, Saksi Kolaborasi Strategis Jabar: Dari Reformasi Birokrasi hingga Kesehatan

FaktaHari – 01 November 2026 | Gedung Sate di Kota Bandung kembali menjadi pusat perhatian setelah menjadi lokasi penandatanganan kesepakatan strategis antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada Jumat (30/10/2026). Kesepakatan tersebut mencakup pembangunan daerah, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta implementasi tata kelola reformasi birokrasi. Wakil Gubernur Sumut, Surya, bersama Wakil Gubernur Jabar, Erwan Setiawan, menandatangani dokumen tersebut sebagai komitmen memperkuat sinergi antardaerah. Gedung Sate, yang dikenal sebagai ikon arsitektur peninggalan Hindia Belanda, kembali menegaskan perannya sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan diplomasi daerah.

Dalam sambutannya, Surya menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Jabar atas keterbukaan dan komitmen kerja sama. Menurutnya, Jabar memiliki pengalaman dalam inovasi pemerintahan, transformasi digital, manajemen kinerja, dan pelayanan publik. Sementara Sumut memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perdagangan, industri, dan pariwisata. “Melalui kerja sama yang terarah, kita dapat saling belajar, berbagi pengalaman, mempertemukan keunggulan, serta mengembangkan inovasi untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua provinsi,” ujar Surya. Ia juga menekankan pentingnya reformasi birokrasi yang profesional, adaptif, transparan, dan berorientasi pada hasil.

Transformasi digital menjadi agenda penting lainnya. Surya menegaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar menghadirkan aplikasi, tetapi harus mampu mengintegrasikan data, menyederhanakan prosedur, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan kualitas pelayanan. Ia berharap Sumut dapat mengadaptasi praktik baik yang telah diterapkan Jabar, terutama dalam pengelolaan kinerja pemerintahan dan pengembangan pelayanan publik berbasis digital. Rencana aksi dengan target waktu, indikator keberhasilan, penanggung jawab, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi diminta segera disusun agar kerja sama berdampak nyata bagi masyarakat.

Gedung Sate juga menjadi lokasi pertemuan Komite Pengarah Provinsi Program KITA SEHAT pada Rabu (28/10/2026). Program kemitraan Indonesia–Australia untuk transformasi kesehatan ini dibahas di Ruang Rapat Papandayan, Gedung Sate. Wagub Jabar Erwan Setiawan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat sistem kesehatan daerah. Ia berharap program tersebut tidak sekadar menambah kegiatan, tetapi memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan mendorong pembangunan kesehatan masyarakat. Erwan menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Australia, Bappenas, kementerian terkait, Tim KITA SEHAT, serta para mitra pembangunan yang telah berkomitmen mendukung transformasi kesehatan di Jawa Barat.

Program KITA SEHAT mengusung pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk memperkuat ketahanan dan kesiapsiagaan daerah terhadap berbagai ancaman kesehatan. Erwan menyoroti kebutuhan penguatan pelayanan kesehatan primer, peningkatan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi, serta pengendalian risiko penyakit. Ia mengajak Bappeda, Dinas Kesehatan, perangkat daerah terkait, pemerintah kabupaten dan kota, serta mitra pembangunan untuk memperkuat koordinasi agar dukungan kemitraan efektif dan berkelanjutan. Namun, informasi mengenai lokasi pelaksanaan, anggaran, target penerima manfaat, dan indikator evaluasi belum dirinci dan masih perlu konfirmasi.

Jawa Barat dengan wilayah dan jumlah penduduk yang besar membutuhkan pendekatan pembangunan kesehatan yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan. Tantangan kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja, sehingga keterpaduan kebijakan dan kerja sama berbagai pihak menjadi kunci. Program KITA SEHAT diharapkan meningkatkan kapasitas kelembagaan dan tata kelola pemerintah daerah, meskipun penilaian dampak memerlukan data awal dan indikator evaluasi yang jelas untuk membedakan target dari hasil aktual.

Gedung Sate tidak hanya menjadi saksi sejarah kolaborasi antardaerah, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan wisata. Museum Gedung Sate menawarkan pengalaman interaktif bagi pengunjung yang ingin mengenal sejarah pembangunan gedung ikonik ini. Arsitektur dengan ornamen menyerupai tusuk sate di puncaknya menjadi daya tarik tersendiri. Destinasi ini cocok untuk wisata edukasi keluarga sekaligus menikmati bangunan bersejarah di tengah pusat Kota Bandung.

Selain sebagai pusat pemerintahan, Gedung Sate pernah menjadi titik awal kirab Api PON XIX pada 2016. Api abadi dilepas dari halaman Gedung Sate menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) setelah menempuh perjalanan 1.005,4 km melewati 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat saat itu, Ahmad Heryawan, menyebut kirab tersebut sebagai bagian dari sejarah yang akan diturunkan kepada generasi berikutnya, sebagaimana PON 1961 di Jawa Barat.

Dengan berbagai peran strategisnya, Gedung Sate terus menjadi simbol kolaborasi, inovasi, dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Dari reformasi birokrasi, transformasi digital, hingga penguatan sistem kesehatan, gedung ini menjadi pusat kegiatan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

Exit mobile version