FaktaHari – 29 Oktober 2026 | Mati listrik dan krisis air bersih masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia, mulai dari tenda pengungsian korban gempa di Pasaman Barat, Sumatera Barat, hingga gangguan pasokan listrik yang dikeluhkan warga Berau, Kalimantan Timur. Di Jorong Timbo Abu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, listrik dan air bersih telah padam sejak gempa bumi mengguncang daerah itu pada Jumat (25/2). Hingga Minggu (27/2), warga yang mengungsi di tenda darurat masih belum mendapatkan akses penerangan dan air bersih yang layak.
Seorang warga Timbo Abu, Erik, mengungkapkan bahwa sejak gempa hingga saat ini listrik dan air masih belum hidup sehingga sangat menyulitkan warga di pondok pengungsian. “Sejak gempa hingga saat ini listrik dan air masih belum hidup sehingga sangat menyulitkan kami di pondok pengungsian,” kata Erik. Ia menjelaskan bahwa mati listrik membuat mereka tidak memiliki penerangan yang layak dan turut mematikan jaringan komunikasi sehingga warga tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar. Selain itu, aliran air bersih juga tidak tersedia, memaksa pengungsi pergi ke sungai untuk memperoleh air. “Kita kesulitan khususnya yang lanjut usia karena terpaksa dibimbing menuju tempat air yang berjarak sekitar 100 meter,” ujarnya.
Saat ini sekitar 150 kepala keluarga mengungsi di Translok Timbo Abu menggunakan tenda terpal seadanya. Rumah-rumah warga yang mengungsi dilaporkan rusak dan tidak bisa dihuni lagi. Mereka juga masih khawatir dengan gempa susulan yang lebih besar dan potensi longsor karena daerah Timbo Abu berada di kaki Gunung Talamau. Gempa susulan dalam skala kecil masih sering dirasakan. Bantuan untuk kebutuhan warga, termasuk obat-obatan, disebut sudah mulai berdatangan.
Di sisi lain, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memberikan ultimatum tegas kepada PLN terkait maraknya gangguan kelistrikan yang kerap dikeluhkan warga, khususnya menjelang bulan suci Ramadan. Ia meminta agar tidak ada lagi stigma atau alasan klise yang mengaitkan pemadaman listrik dengan datangnya bulan puasa. Ultimatum ini disampaikan menyusul pemadaman listrik yang terjadi di Berau dalam sepekan terakhir dan berdampak pada aktivitas masyarakat. Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami kerugian akibat mati listrik yang berlangsung dalam durasi cukup lama.
Merespons keluhan tersebut, Pemkab Berau menggelar rapat bersama Forkopimda Berau dan PLN Berau di Kantor Bupati Berau pada Selasa (27/10/2026). Rapat itu membahas kompensasi bagi pelanggan PLN yang terdampak pemadaman listrik. Menurut Bupati Sri Juniarsih, kompensasi tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan dikonversi menjadi listrik untuk pemakaian berikutnya. Besaran kompensasi bervariasi mulai dari 5 persen, 10 persen, hingga 15 persen. “Hal yang paling penting untuk saya tegaskan, terkait kompensasi akan diberikan kepada masyarakat, tetapi bukan berupa tunai. Kompensasi itu akan dikonversi ke pemakaian listrik berikutnya. Jumlahnya berbeda-beda,” tegas Sri Juniarsih. Dengan skema tersebut, manfaat kompensasi akan diterima pelanggan melalui pengurangan tagihan atau pemakaian listrik pada periode berikutnya.
Persoalan kelistrikan juga menimbulkan korban jiwa. Seorang pria di Mojomulyo, Sragen Kulon, Sragen, ditemukan meninggal di belakang rumah kontrakan pada Selasa (27/10/2026) diduga tersengat listrik saat memperbaiki saluran pompa air. Kapolsek Sragen Kota AKP Teguh Purwoko mengatakan peristiwa bermula sekitar pukul 10.30 WIB ketika seorang saksi meminta korban memperbaiki saluran air yang menggunakan pompa listrik. Setelah menyampaikan permintaan itu, saksi pergi untuk mengumandangkan azan di masjid. Sekitar pukul 12.00 WIB, ayah korban, Suparno, mencari keberadaan anaknya dan mendapati korban dalam posisi duduk dengan kepala bersandar pada tembok. Di dekat korban terdapat mesin pompa air dan kabel listrik. Korban diketahui telah meninggal dunia dan kejadian itu dilaporkan kepada ketua RT setempat serta diteruskan ke Polsek Sragen Kota.
Dari rangkaian peristiwa tersebut, tampak bahwa mati listrik bukan sekadar gangguan teknis, tetapi berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Di Pasaman Barat, mati listrik dan krisis air bersih memperparah penderitaan pengungsi gempa yang harus berjuang mendapatkan penerangan dan air bersih. Di Berau, pemadaman listrik yang berulang memicu kemarahan warga dan mendorong pemerintah daerah mengambil langkah tegas terhadap PLN, sekaligus menyiapkan skema kompensasi. Sementara di Sragen, kelalaian dalam menangani instalasi listrik rumah tangga berujung pada hilangnya nyawa. Semua pihak, mulai dari pemerintah, penyedia layanan listrik, hingga masyarakat, perlu meningkatkan kewaspadaan dan mempercepat pemulihan pasokan listrik agar dampak buruk mati listrik dapat diminimalkan.
