Berita  

Blokade Selat Hormuz Memanas: AS Klaim Lumpuhkan 2 Kapal, Iran Ancam Balas

Blokade Selat Hormuz Memanas: AS Klaim Lumpuhkan 2 Kapal, Iran Ancam Balas
Blokade Selat Hormuz Memanas: AS Klaim Lumpuhkan 2 Kapal, Iran Ancam Balas

FaktaHari – 28 Juli 2026 | Ketegangan kembali memanas di kawasan Timur Tengah setelah AS klaim lumpuhkan 2 kapal yang terobos blokade Selat Hormuz, ketegangan dengan Iran memanas tajam. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) melaporkan bahwa sejak blokade diperketat pada 14 Juli 2026, sebanyak 12 kapal komersial telah dialihkan. Dua kapal di antaranya dilumpuhkan karena menolak mematuhi perintah, sementara dua kapal lainnya dinaiki personel militer untuk memastikan kepatuhan.

Kapal tanker M/T Lavine berbendera Mozambik menjadi salah satu yang dilumpuhkan pada 24 Juli di Teluk Oman. Awak kapal dilaporkan telah beberapa kali mencoba menerobos blokade dan mengabaikan peringatan. CENTCOM menyatakan bahwa kapal tersebut tidak lagi transit menuju Iran. Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan Presiden Donald Trump yang memperbarui blokade terhadap Iran di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran menuding Washington melanggar kesepakatan damai sementara terkait pengaturan jalur pelayaran. Teheran menilai Amerika Serikat berupaya membuka jalur baru melalui Selat Hormuz secara paksa tanpa berkonsultasi dengan otoritas Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengklaim telah menyerang sejumlah aset militer AS di kawasan tersebut sebagai respons.

Sebelumnya, otoritas keamanan maritim Iran mencegat enam kapal asing yang sengaja mematikan sistem navigasi saat melintasi perairan selatan Selat Hormuz. Satu kapal mengalami insiden darurat, sementara sisanya dipaksa memutar balik. Pemerintah Iran melalui televisi IRIB menyatakan bahwa aksi tersebut dipicu oleh provokasi militer AS.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam pertemuan dengan para menteri ASEAN di Manila pada 22 Juli, memperingatkan bahwa penguasaan Selat Hormuz oleh Iran dapat menciptakan preseden berbahaya. Rubio menegaskan bahwa kebebasan bernavigasi adalah prinsip fundamental yang terancam. ‘Jika kita membiarkan negara menguasai jalur pelayaran internasional secara sepihak, hal itu bisa terulang di kawasan lain, termasuk Laut China Selatan,’ ujarnya.

Ketegangan di Selat Hormuz juga berdampak pada harga minyak dunia. Ekonom mencatat penurunan harga minyak sebesar empat persen setelah AS menghentikan kampanye pengeboman di Iran, namun situasi yang tidak menentu membuat pasar tetap waspada. Blokade yang diberlakukan AS di Selat Hormuz bertujuan untuk menghentikan ekspor minyak Iran, namun langkah ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Hingga berita ini diturunkan, kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi. AS masih mempertahankan blokade, sementara Iran terus mengancam akan membalas setiap tindakan provokatif. Dunia internasional menantikan langkah selanjutnya, mengingat Selat Hormuz adalah jalur vital bagi sepertiga perdagangan minyak dunia.

Kesimpulannya, eskalasi antara AS dan Iran di Selat Hormuz tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga perekonomian global. Dengan AS klaim lumpuhkan 2 kapal yang terobos blokade Selat Hormuz, ketegangan dengan Iran memanas dan berpotensi memicu konflik terbuka. Masyarakat internasional mendesak kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan sebelum situasi semakin memburuk.

Exit mobile version