Berita  

Tragedi Yordania: 2 Tentara AS Tewas dan 1 Hilang Diserang Rudal Iran, Trump Balas dengan Gelombang Serangan Baru

Tragedi Yordania: 2 Tentara AS Tewas dan 1 Hilang Diserang Rudal Iran, Trump Balas dengan Gelombang Serangan Baru
Tragedi Yordania: 2 Tentara AS Tewas dan 1 Hilang Diserang Rudal Iran, Trump Balas dengan Gelombang Serangan Baru

FaktaHari – 20 Juli 2026 | Dalam perkembangan terbaru konflik Amerika Serikat dan Iran, 2 tentara AS tewas dan 1 hilang diserang rudal Iran di Yordania, Trump balas dengan gelombang serangan baru. Peristiwa ini menandai eskalasi signifikan setelah sebelumnya ketegangan di Selat Hormuz meningkat.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pada 17 Juli 2026, dua anggota militer AS gugur dalam pertempuran saat mempertahankan pangkalan Al-Azraq, Yordania, dari serangan rudal balistik dan drone yang diluncurkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Satu personel lainnya dinyatakan hilang, sementara empat tentara lainnya mengalami luka-luka dan telah dievakuasi ke rumah sakit. Serangan ini merupakan yang pertama menimbulkan korban jiwa di pihak AS sejak konflik meningkat pada Maret lalu.

Sebagai balasan, Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara baru terhadap Iran. CENTCOM menyatakan operasi ini merupakan malam kedelapan berturut-turut serangan terhadap target Iran dan bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz. Serangan tersebut juga dimaksudkan untuk menghukum pasukan Garda Revolusi yang bertanggung jawab atas serangan di Yordania. Dengan demikian, 2 tentara AS tewas dan 1 hilang diserang rudal Iran di Yordania, Trump balas dengan gelombang serangan baru menjadi kenyataan pahit yang memicu aksi militer berkelanjutan.

Iran melalui IRGC mengklaim bahwa serangan mereka di Yordania merupakan bagian dari Operasi Nasr-2 yang diluncurkan sebagai pembalasan atas serangan AS sebelumnya. IRGC menyatakan berhasil menghantam hanggar pesawat tempur dan landasan pacu di Pangkalan Udara Al-Azraq, serta menghancurkan dua jet tempur dan tiga pesawat militer AS. Teheran menuduh Washington melakukan agresi langsung untuk menutupi kegagalan strategis di kawasan. Sementara itu, Bahrain dan Kuwait mengaktifkan status siaga akibat ancaman rudal dan drone.

Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan global bagi warga negaranya, mengingatkan potensi serangan oleh kelompok yang berafiliasi dengan Iran di berbagai negara. Di sisi lain, Iran mengancam akan melanjutkan operasi serangan skala penuh jika AS terus melancarkan gelombang serangan. Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, penasihat militer senior pemimpin tertinggi Iran, menyatakan “tidak akan ada batas politik yang aman dari kekuatan serangan Iran.” Konflik ini telah menimbulkan kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan dan pasokan energi, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Yordania mengenai kerusakan atau korban di wilayahnya. Data dari Defense Casualty Analysis System mencatat total 14 anggota militer AS tewas dan 427 terluka dalam operasi militer terhadap Iran hingga 17 Juli. 2 tentara AS tewas dan 1 hilang diserang rudal Iran di Yordania, Trump balas dengan gelombang serangan baru menjadi pengingat bahwa eskalasi ini masih jauh dari kata usai. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara adidaya yang semakin menegangkan.

Exit mobile version