Berita  

Gencatan Senjata Gaza Gagal Total: 9 Bulan Bombardir dan Penyusutan Wilayah

Gencatan Senjata Gaza Gagal Total: 9 Bulan Bombardir dan Penyusutan Wilayah
Gencatan Senjata Gaza Gagal Total: 9 Bulan Bombardir dan Penyusutan Wilayah

FaktaHari – 17 Juli 2026 | Sembilan bulan telah berlalu sejak Perjanjian Gencatan Senjata Gaza diteken pada Oktober 2025, namun realitas di lapangan jauh dari harapan. Daripada menikmati perdamaian, warga Palestina justru menghadapi kenyataan pahit: 9 Bulan Gencatan Senjata Gaza Tetap Dibombardir dan Wilayahnya Terus Menyusut. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.122 warga syahid dan 3.599 luka-luka akibat serangan Israel selama periode yang seharusnya damai ini. Pelanggaran gencatan senjata mencapai 3.689 insiden, menandakan kegagalan total implementasi perjanjian.

Perjanjian yang dirancang dalam dua fase melalui mediasi Mesir, Qatar, dan Turki ini hanya tinggal di atas kertas. Fase I yang seharusnya mencakup gencatan senjata komprehensif, bantuan kemanusiaan massal, dan pertukaran tahanan, hanya dijalankan sepihak oleh Hamas. Hamas telah membebaskan seluruh tawanan Israel dan membubarkan Komite Darurat Pemerintahannya demi memberi jalan bagi Komite Nasional Palestina. Namun, Israel justru memperluas pendudukan dan memindahkan patok militer.

9 Bulan Gencatan Senjata Gaza Tetap Dibombardir dan Wilayahnya Terus Menyusut tercermin dalam penguasaan wilayah. Pada Oktober 2025, Israel menguasai 53% luas Gaza. Kini, per Juli 2026, angka itu melonjak menjadi 70%. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui kendali atas 70% wilayah Gaza. Akibatnya, sisa ruang hidup warga Palestina hanya 110 km² untuk 2,13 juta jiwa, menciptakan kepadatan lebih dari 19.000 jiwa per km²—terburuk di dunia.

Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Trump dan dipimpin Nikolay Mladenov gagal total. Rencana pengiriman 20.000 pasukan perdamaian tidak terwujud; bahkan 20 personel pun kesulitan dikerahkan. Cetak biru 15 poin yang diajukan Mladenov ditolak Israel, yang malah mengajukan usulan baru untuk kembali ke titik nol. Sementara itu, para pejabat Israel seperti Menteri Keuangan Betsealel Smotrich dan Menteri Pertahanan Israel Katz secara terang-terangan mengumumkan rencana pembangunan permukiman ilegal Yahudi di Gaza.

Dr. Muhannad Mustafa, akademisi studi Israel, menyebut strategi Israel terdiri dari tiga kaki: normalisasi agresi, ekspansi dan demolisi, serta boikot politik. Langkah ini mengubur rencana perdamaian dan mengancam masa depan Gaza. Analisis Stratfor memprediksi kemungkinan operasi militer skala penuh kembali diluncurkan jika Israel terus gagal memenuhi tuntutan perdamaian.

Kesimpulannya, 9 Bulan Gencatan Senjata Gaza Tetap Dibombardir dan Wilayahnya Terus Menyusut menjadi bukti bahwa gencatan senjata hanyalah ilusi. Tanpa tekanan internasional yang kuat dan komitmen nyata dari Israel, warga Gaza akan terus hidup dalam reruntuhan, tanpa air bersih, obat-obatan, dan sanitasi. Dunia internasional harus segera bertindak sebelum kemanusiaan benar-benar lenyap dari Gaza.

Exit mobile version