FaktaHari – 01 November 2026 | Kata rezim sering kali merujuk pada suatu pemerintahan atau sistem kekuasaan yang berkuasa. Namun, dalam berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, kata rezim telah berkembang maknanya menjadi sebuah cermin bagaimana kekuasaan bekerja, baik di ruang kelas, dunia hiburan, hingga arena politik global. Mulai dari tragedi Neil Perry dalam film Dead Poets Society, tumbangnya rezim Snow di The Hunger Games, tuduhan FBI terhadap rezim Korea Utara, hingga gelombang protes mahasiswa terhadap rezim Prabowo-Gibran dan sejarah reformasi 1998, semuanya memperlihatkan wajah rezim dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam analisis berjudul Tragedi Neil Perry dalam Cengkraman Rezim Kebenaran dan Ujian Absurditas, Najla Aura, mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, mengupas bagaimana lembaga pendidikan kerap menjadi alat rezim kebenaran. Welton Academy, sekolah asrama laki-laki dengan motto tradisi, keunggulan, disiplin, dan kehormatan, menyimpan mekanisme kontrol yang halus namun menindas. Merujuk pada pemikiran Michel Foucault, kekuasaan tidak hanya bekerja lewat penindasan fisik, tetapi juga melalui pendisiplinan sehari-hari—jam belajar kaku, tata cara berpakaian, hingga posisi duduk di kelas. Foucault menyebutnya sebagai rezim kebenaran (regime of truth), di mana institusi menentukan apa yang dianggap benar dan siapa yang berwenang menentukannya. Di Welton, masa depan yang benar hanyalah menjadi dokter, pengacara, atau ahli ekonomi. Mimpi Neil Perry untuk menjadi aktor teater dianggap sebagai ketidaknormalan yang harus dikoreksi. Tragedi Neil adalah benturan antara hasrat manusia yang mencari kebebasan dan realitas dunia yang kaku, sebagaimana dijelaskan Albert Camus tentang absurditas. Namun, Camus menegaskan bahwa meskipun hidup absurd, manusia harus tetap memilih untuk hidup dan memberi makna pada hidupnya sendiri. Neil sempat meraih kebebasan itu ketika ia tampil dalam pementasan drama, namun rezim kebenaran yang dibangun ayah dan sekolahnya terlalu kuat untuk ditandingi.
Jika dalam dunia pendidikan rezim kebenaran bekerja secara halus, dalam dunia distopia The Hunger Games, rezim otoriter Presiden Snow tumbang melalui perlawanan berlapis. Distrik 13 yang dianggap telah musnah ternyata bertahan di bawah tanah dan mempersiapkan pemberontakan. Katniss Everdeen menjadi simbol Mockingjay yang menyatukan distrik-distrik. Aksi pembangkangan individu berubah menjadi gerakan politik-militer yang terorganisir. Pemberontak merebut titik strategis, termasuk Distrik 2, lalu menembus Capitol yang penuh jebakan. Setelah Capitol jatuh, Katniss membunuh Alma Coin untuk mencegah lahirnya rezim otoriter baru. Snow tewas dalam kekacauan, Paylor memimpin Panem, dan Hunger Games dihentikan. Kisah ini menunjukkan bahwa rezim yang tampak tak terkalahkan pun bisa runtuh ketika rakyat bersatu dan memiliki simbol perlawanan yang kuat.
Sementara itu, di dunia nyata, rezim Korea Utara kembali menjadi sorotan. FBI Amerika Serikat menuduh Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset kripto senilai lebih dari 6 miliar dolar AS (sekitar Rp109 triliun) dari bursa Binance pada 29 Oktober 2026. Operasi siber yang dijuluki TraderTraitor itu mengubah aset curian menjadi Ethereum dan mencucinya melalui platform keuangan terdesentralisasi. FBI bersama US Secret Service dan IRS mendesak bursa kripto dan operator blockchain untuk memblokir transaksi yang terkait dengan dompet digital peretas. Tuduhan ini menegaskan bahwa rezim Korea Utara menggunakan kejahatan siber sebagai sumber pendanaan, sebuah ancaman nyata bagi keamanan ekonomi global.
Di dalam negeri, semangat mahasiswa dalam mengkritik rezim juga masih membara. Pada 20-29 Oktober 2026, mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung Raya bersama kelompok masyarakat sipil menggelar aksi menuntut evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Mereka menyoroti persoalan agraria, ekonomi, ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, transparansi anggaran, hingga kekerasan aparat. BEM SI Kerakyatan Jabar bahkan menyebut pemerintahan ini sebagai The Incompetent Rules. DPRD Jawa Barat menerima aspirasi tersebut dan berjanji meneruskannya ke DPR RI. Gelombang protes ini mengingatkan pada sejarah Reformasi 1998, ketika mahasiswa Indonesia berhasil mendorong berakhirnya rezim Soeharto setelah 32 tahun berkuasa. Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 menjadi titik balik yang memicu gerakan nasional. Kini, mahasiswa Serbia juga mencatat kemenangan setelah dua tahun demonstrasi menggulingkan presiden yang berkuasa 14 tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam mengawal perubahan rezim.
Dari kelima peristiwa tersebut, terlihat bahwa rezim—baik dalam bentuk kekuasaan negara, institusi pendidikan, maupun sistem nilai—selalu memiliki mekanisme kontrolnya sendiri. Namun, di sisi lain, selalu ada ruang bagi perlawanan dan pembebasan. Tragedi Neil Perry mengingatkan kita akan bahaya rezim kebenaran yang mengekang kebebasan berpikir. Tumbangnya rezim Snow menunjukkan bahwa solidaritas dan simbol perlawanan dapat meruntuhkan tembok otoritarianisme. Tuduhan terhadap rezim Korea Utara menyadarkan kita bahwa ancaman rezim bisa merambah ke ranah siber. Sementara itu, aksi mahasiswa Bandung dan sejarah Reformasi 1998 menegaskan bahwa suara rakyat, terutama mahasiswa, tetap menjadi kekuatan moral yang mampu menggugat rezim yang dianggap menyimpang. Pada akhirnya, setiap rezim akan selalu diuji oleh absurditas dan keberanian mereka yang berani bermimpi dan melawan.











