Krisis di Kapal Induk USS Abraham Lincoln Memanas: Hegseth Bantah, Kongres Desak Investigasi

Krisis di Kapal Induk USS Abraham Lincoln Memanas: Hegseth Bantah, Kongres Desak Investigasi
Krisis di Kapal Induk USS Abraham Lincoln Memanas: Hegseth Bantah, Kongres Desak Investigasi

FaktaHari – 15 Agustus 2026 | Ketegangan di Timur Tengah kembali menyita perhatian dunia, kali ini terkait kondisi internal salah satu kapal induk andalan Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln. Laporan mengenai memburuknya kesehatan mental para awak kapal induk ini memicu perdebatan sengit antara Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan anggota Kongres. Hegseth membantah keras adanya krisis, sementara Kongres mendesak pemeriksaan langsung terhadap kapal dan sekitar 5.000 personelnya.

Sebelumnya, keluarga sejumlah awak USS Abraham Lincoln menyampaikan kepada pimpinan Angkatan Laut AS bahwa beberapa pelaut dilaporkan mencoba melompat ke laut atau berhasil dicegah melakukan tindakan tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Laporan dari Navy Times dan Stars and Stripes yang dikutip The Guardian mengungkapkan bahwa para pelaut telah menjalani penugasan selama sembilan bulan, termasuk sekitar 250 hari berturut-turut di laut tanpa singgah di daratan. Sedikitnya 40 hari di antaranya dihabiskan untuk operasi tempur terus-menerus dalam mendukung perang melawan Iran. Kondisi ini disebut-sebut menjadi pemicu menurunnya moral dan mental awak kapal induk tersebut.

Dalam wawancara dengan Newsmax pada Kamis (14/8), Hegseth menilai pemberitaan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln telah memberikan gambaran yang keliru atau sepenuhnya disalahgambarkan. “Dengar, kami memastikan bahwa setiap kapal, setiap kru, setiap kapten memiliki semua yang dapat kami berikan kepada mereka setiap saat,” kata Hegseth. Ia menegaskan bahwa panjangnya masa penugasan bukan berarti pemerintah mengabaikan kebutuhan para personel. Hegseth justru memuji para pelaut yang tetap menjalankan tugas dalam kondisi sulit di laut. “Beberapa penempatan lebih lama dari yang lain, dan saya lebih menghormati dan berterima kasih kepada para pelaut itu daripada siapa pun. Apa yang mereka lakukan di laut lepas dan kondisi sulit dengan panggilan port yang lebih sedikit, sungguh luar biasa,” ujarnya.

Meski demikian, bantahan Hegseth tidak meredakan kekhawatiran di Kongres. Sekitar 200 anggota keluarga awak kapal induk menghadiri pertemuan dengan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao di San Diego pekan lalu. Salah satu pasangan awak kapal mengungkapkan bahwa suaminya mengirim pesan pada hari yang sama bahwa ia berharap tidak bangun lagi besok. Seorang peserta bahkan menuduh Angkatan Laut telah merusak kepercayaan antara keluarga dan pimpinan militer. Kongres pun mendesak agar dilakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi kapal induk dan para personelnya untuk memastikan tidak ada lagi kasus bunuh diri yang terulang.

Sementara itu, isu kapal induk ini tidak hanya menyangkut kondisi internal awak, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar AS dalam blokade laut terhadap Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa militer AS mampu mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu melalui rotasi kapal perang. AS berencana mengirim kapal induk USS George Washington ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah bertugas lebih dari 250 hari. Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mengalihkan rute 59 kapal komersial, melumpuhkan tiga kapal, dan menaiki dua kapal lainnya saat menegakkan blokade. Langkah ini bertujuan menekan perekonomian Iran agar kembali ke meja perundingan.

Iran, di sisi lain, mengklaim masih memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa kapal komersial dan tanker minyak tidak dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman tanpa izin serta pengawasan dari angkatan bersenjata Iran. Ia membantah pernyataan AS tentang pelayaran normal di kawasan tersebut dan menyebutnya sebagai kebohongan. Klaim Iran ini menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari kata reda, dan kapal induk AS tetap berada di garis depan operasi militer yang berisiko tinggi.

Di tengah hiruk-pikuk geopolitik, Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan keputusan kontroversial terkait pengembangan kapal induk masa depan. Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menghapus sistem peluncur jet tempur canggih berbasis elektromagnetik atau EMALS dari kapal induk terbaru, USS Doris Miller, dan menggantinya dengan teknologi lama berupa sistem ketapel uap. Keputusan ini diperkirakan menelan biaya hingga miliaran dollar AS dan mendapat respons dari General Atomics, perusahaan pembuat EMALS, yang meminta pertimbangan ulang secara cermat. Langkah mundur ini dinilai sejumlah pengamat sebagai keputusan yang kontraproduktif di tengah kebutuhan militer AS akan teknologi tercanggih.

Kondisi ini menciptakan gambaran yang kompleks: di satu sisi, AS menunjukkan kekuatan militernya melalui kehadiran kapal induk di Timur Tengah, tetapi di sisi lain, ada persoalan serius terkait kesejahteraan awak yang harus segera ditangani. Kongres terus mendesak transparansi, sementara keluarga awak kapal menuntut perhatian lebih dari pimpinan militer. Tanpa penanganan yang serius, kapal induk andalan AS bisa menjadi simbol krisis moral, bukan sekadar kekuatan tempur.

Krisis di USS Abraham Lincoln menjadi pengingat bahwa di balik kecanggihan persenjataan, faktor manusia tetap yang utama. Ribuan pelaut yang bertugas jauh dari keluarga membutuhkan dukungan psikologis yang memadai. Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Hegseth dan Trump harus segera mengambil langkah nyata untuk memulihkan kepercayaan para awak kapal induk, serta memastikan tugas mereka tidak mengorbankan kesehatan mental demi ambisi geopolitik. Dunia akan terus mengawasi bagaimana AS menyeimbangkan kekuatan militer dan kesejahteraan personelnya di tengah konflik yang belum berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *