FaktaHari – 30 Juli 2026 | Momen kikuk PM Irak di Turki: menterinya tolak teken perjanjian di depan Erdogan [titlebase] menjadi sorotan publik setelah video insiden tersebut viral di media sosial. Peristiwa canggung ini terjadi pada Selasa malam, 27 Juli 2026, di Kompleks Istana Kepresidenan Turki di Ankara, saat upacara penandatanganan perjanjian proyek raksasa Jalan Pembangunan (Development Road) antara Irak dan Turki.
Dalam video yang beredar, Perdana Menteri Irak Ali Faleh al-Zaidi terlihat menegur Menteri Perhubungan Irak, Wahab al-Hassani, dari atas podium dengan nada kesal. “Pak Menteri, mengapa Anda tidak menandatangani perjanjian itu?” tanya Al-Zaidi di hadapan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang duduk di sampingnya. Momen kikuk PM Irak di Turki: menterinya tolak teken perjanjian di depan Erdogan [titlebase] langsung mencuri perhatian dan menjadi bahan perbincangan hangat.
Menteri Wahab al-Hassani, yang diketahui berasal dari kelompok milisi Badr yang pro-Iran, menjawab dengan mengatakan bahwa ia telah mengirim pesan WhatsApp kepada PM Al-Zaidi. Kebingungan tampak jelas selama beberapa menit di lokasi acara. Akhirnya, perjanjian kerja sama tersebut berhasil ditandatangani kedua pihak, disaksikan oleh PM Irak dan Presiden Erdogan, meskipun tidak dijelaskan apakah penandatanganan dilakukan saat itu juga atau di tempat terpisah. Menteri Perhubungan Turki, Abdulkadir Uraloglu, kemudian mengunggah foto momen penandatanganan di sebuah ruangan berbeda dengan lokasi jumpa pers.
Insiden ini menimbulkan spekulasi mengenai dinamika politik internal Irak, terutama terkait pengaruh Iran terhadap beberapa menteri. Momen kikuk PM Irak di Turki: menterinya tolak teken perjanjian di depan Erdogan [titlebase] menunjukkan adanya ketegangan di balik layar pemerintahan Irak. Proyek Jalan Pembangunan sendiri merupakan proyek infrastruktur besar yang menghubungkan Irak dengan Turki dan negara-negara lain, dan dianggap strategis bagi kedua negara.
Para analis menilai bahwa keengganan Menteri al-Hassani untuk menandatangani perjanjian di depan Erdogan bisa jadi terkait dengan tekanan dari faksi-faksi politik di Irak yang tidak sepakat dengan kerja sama tersebut. Namun, PM Al-Zaidi berhasil memastikan perjanjian tetap terlaksana. Momen kikuk ini menjadi pengingat bahwa diplomasi kerap diwarnai insiden tak terduga. Kesimpulannya, meskipun acara penuh kecanggungan, kerja sama strategis antara Irak dan Turki tetap berjalan, namun meninggalkan pertanyaan tentang kohesi internal Irak.











